Tuesday, January 6, 2015

Mari Mencatat Kumpulan Rasa

Ketika ingat rasa masakan, apalagi itu masakan rumah, masakan ibu, yang terbayang bukan hanya bentuk masakan dan rasa masakan itu sendiri, tapi seluruh peristiwa beserta detail-detail yang menyertainya akan bangkit kembali. Aku jadi ingat, ketika mengenang soal gula kelapa yang ada dimasakan ibuku dan bagiamana ibuku meminta budeku mengirimkan gula kelapa beserta asem jawa dari Yogjakarta ke Bandung setiap bulannya. Ibu ingin memasak masakan Jawa yang otentik. Bagi ibuku sebagai perantau di kota Bandung, tidak ada yang bisa membuat sebuah masakan terasa otentik jika tidak menggunakan bahan atau bumbu dari tempat asalnya. Ketika kisah ini dikutip di liputan Jelajah Kuliner Kompas 'Empat Wangsa Sedulur Rasa', aku tak kuasa membendung tangis ketika membacanya kembali. Seketika semua rasa masakan dan kenangan masa itu menyesaki ingatanku dan menggugah rasa lekat dalam kepekatan kenangan akan 'rasa ibu', apalagi dikenang ketika kondisi ibu sudah tidak lagi memungkinkan untuk memasak. 



Hal lain soal mengenang rasa masakan ibu, ketika aku jauh dari rumah. Di negeri orang dan sangat rindu rasa sayur daun singkong. Sementara tidak ada menu sayur daun singkong di restoran Indonesia  di kota seperti New York. Ketika kerinduan akan rasa masakan itu tidak terpenuhi, yang terjadi adalah rasa rindu rumah menjadi semakin menjadi-jadi. Karena pulang kemudian menjadi identik dengan merasakan masakan rumah, masakan ibu. Di New York pulalah aku menemukan kegiatan yang menyadarkanku bagaimana aku selama ini hanya bisa merindukan rasa masakan-masakan ibuku namun tidak pernah menyimpan pengetahuan tentangnya. Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencatat resep-resep dari masakan ibuku, selama ini aku lebih memilih sebagai penikmat saja, tapi tidak sungguh-sungguh berusaha menjadi pewaris pengetahuannya. Padahal resep masakan ibu menurutku adalah warisan pengetahuan yang tidak kalah otentik dengan masakan yang dimasaknya itu sendiri.

Adalah  Sweet Tooth of The Tiger yang didirikan Tracy Candio, seniman asal Brooklyn, NYC, yang menjadikan memasak kue sebagai cara dia membuat karya seni yang lebih partisipatif. Dalam salah satu pertemuan rutin senin sore 'Monday Craft Night', Etsy Lab di Brooklyn, NYC, tahun 2008 lalu, Tracy mengajak yang hadir di acara ini_termasuk aku_ untuk membuat buku resep bersama. Selain mencicipi kue-kue yang dibuat oleh Sweet Tooth of The Tiger, lembaran-lembaran resep yang telah dituliskan ini kemudian di jilid jadi satu menjadi sebuah buku kecil kumpulan resep. Setelah jadi setiap kontributor resep, menceritakan kisah personal yang berhubungan dengan resep  masing-masing.

Ketika teman-teman dari Aliansi Untuk Desa Sejahtera ingin berdiskusi tentang masalah pangan lokal hari minggu 4 Januari 2015 kemarin di Tobucil & Klabs, aku terpikir untuk memasukan kegiatan lokakarya membuat buku kumpulan resep ini sebagai salah satu bentuk kegiatannya. Terinspirasi dari kenangan akan rasa, keinginan mencatat pengetahuan akan rasa masakan ibu dan pengalaman mengikuti lokakarya ini besama Sweet Tooth of The Tiger, maka aku mengajak teman-teman untuk membuat buku kumpulan resep masakan favorit ini.
Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini di pindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'simple binding'. Setiap peserta  yang ikut, membawa satu salinan buku kumpulan resep. Menurutku, kembali ke bahan pangan lokal itu juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan ibu. Yuk..!

2 comments:

Aphrodita Wibowo said...

ayo posting yg banyaaaaak ;)

F. Nisa said...

ini namanya mencatat memori rasa sebelum benar2 terhapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...