Sunday, February 16, 2014

Mencari Formula Oleh-Oleh Crafty Days 8

Setelah Crafty Days memasuki tahun ke 8, Aku dan Tobucil & Klabs serius memikirkan produksi 'oleh-oleh' dari acara ini. Pada penyelenggaraan Crafty Days 7, 2013 lalu soal 'oleh-oleh' ini sudah dimulai meski dengan persiapan produksi yang sangat-sangat mepet. Tahun ini, 'Oleh-Oleh Crafty Days 8' dipersiapkan lebih matang. Meskipun masih ada kekurangannya yaitu perkiraan jumlah yang meleset dari yang diharapkan. Soal jumlah, akupun masih meraba-raba, seberapa banyak idealnya pilihan dan jumlah setiap jenisnya mesti dibuat. Kadang memang serba salah,  kalau bikin terlalu sedikit (seperti Crafty Days 7) banyak banget yang ga kebagian. Tapi jika dibuat lebih banyak baik pilihan dan jumlahnya seperti Crafty Days 8 kali ini, ternyata tidak tepat juga karena ada sisa yang harus dihabiskan setelah acara usai. Terlepas dari semua itu, aku ingin cerita sedikit tentang setiap oleh-oleh yang dibuat di Crfty Days 8 lalu.

Notebook Letter Press
Mengerjakan notebook ini aku mendapat pelajaran baru tentang 'kyai Franco' si mesin letterpressku ini. Ketika mencetak dengan kerumitan gambar seperti ini dan tulisan dengan blok bingkai seperti ini, sulit mendapatkan warna yang merata dan efek emboss letter press yang khas itu. Semestinya aku mencetak bagian gambar, tulisan tanggal dan tempat juga tulisan crafty days 8 secara terpisah. 

Memang akan memakan waktu tiga kali lipat daripada ketika semuanya dicetak bersamaan. Untuk mesin letter press kecil seperti 'kyai Franco', mencetak di karton dengan ketebalan 3mm dan besar plat seperti ini, dia akan kehilangan daya tekan yang menyebabkan hilangnya efek emboss pada hasil akhirnya. Karena ketebalan torehan gambar dan tulisan pada platnya, tidak seimbang kekuatannya dengan bahan, besaran plat dan ketebalan bahan yang digunakan. Di Bandung dan mungkin di Indonesia, aku belum menemukan tempat membuat plat dengan kedalaman torehan gambar atau tulisan lebih dari 2mm. Untuk itu proses cetaknya yang perlu disiasati. Jika plat di potong-potong perbagian dan proses cetaknya mengikuti banyaknya potongan bagian itu, kurasa efek emboss yang diharapkan bisa didapatkan. Aduh maaf ya, ini pembahasannya jadi sangat teknis dan mungkin hanya dipahami oleh yang biasa bekerja dengan mesin letterpress :D.. yang jelas pelajaran ini baru aku dapatkan setelah mencetak cover notebook untuk Crafty Days 8 hehehehhe...

Pensil ini awalnya adalah sebuah keisengan. Tak sengaja menemukan pensil kosong dengan kualitas bagus, lalu mencoba untuk memberinya tulisan dengan cara di gravir laser. Akhirnya aku pasangkan pensil dengan notebooknya.. cocok buat yang seneng gambar-gambar heheheheh... Dan di Crafty Days 8 lalu, aku hanya membuat 20 set notebook plus pensil untuk dijual sebagai oleh-oleh.


Penggaris carton Letter press 'Craftivism in My Everyday Life'
Penggaris ini aku buat untuk memanfaatkan potongan karton yang sedemikian banyak yang aku punya. Aku memang jarang sekali membuang sisa potongan kertas, karena selalu berpikir 'suatu saat, bahan-bahan sisa ini bisa dimanfaatkan' hahahahah.. dasar ga mau rugi..

Nah, beberapa waktu yang lalu, aku pernah mendapat pesanan membuat penggaris ini. Plat penggarisnya masih aku simpan. Sebagai penggemar penggaris kayu, aku ingin membuat penggaris sendiri. Karena ada meskin letterpress, akhirnya aku bisa mewujudkan penggaris buatanku sendiri. Dengan menambahkan kutipan definisi Craftivism yang ditulis Betsy Greer dan alamat Tobucil, penggaris ini jadi oleh-oleh Tobucil untuk pengunjung Crafty Days. Eh, tapi kerena jumlahya ga terlalu banyak, akhirnya penggaris ini jadi bonus buat orang yang membeli produk oleh-oleh Crafty Days 8 dan sisanya masih bisa dibagikan sebagai oleh-oleh Tobucil & Klabs. 

Kantong serba guna 
Hampir semua yang ada di Tobucil termasuk aku, sangat menyukai kantong serba guna seperti ini. Sejak Crafty Days 7, Tobucil mendapat dukungan dari 'Modal Kawin' usahanya Danu dan Siska yang selama ini memproduksi kaos, kantong dan tas kain. Untuk model kantong yang bervolume, Modal Kawin sudah punya cetakan desainnya. Aku hanya tinggal pilih warna bahan dan grafisnya. Karena tidak ada warna bahan yang persis telor asin, akhirnya aku pilih warna hijau pupus yang mendekati warna telor asin. Dengan kombinasi bahan warna coklat dan oranye. Untuk kantong yang tidak bervolume, aku mendesain dua ukuran yaitu ukuran tab/ ipad mini dan ukuran ukuran netbook. 


Tas kain berbahan kanvas dan blacu
Ada dua macam tas  kain yang dibuat untuk oleh-oleh Crafty Days 8 lalu. Pertama berbahan kanvas acrylic. Modelnya sih sebenarnya biasa saja. Hanya ada penambahan saku berresleting di dalamnya. Salah satu tas kain koleksiku ada sakunya kaya gini dan buatku tambahan saku ini sangat-sangat membantu untuk menyimpan dompet, uang, handphone, flash disk atau benda-benda kecil supaya tidak tercecer dan tercampur aduk di dalam tas. Satunya lagi berbahan blacu dengan harga lebih murah dari yang berbahan kanvas dengan model biasa dan tanpa tambahan saku.



Kaos
Biasanya kaos jadi item favorit yang dipilih sebagai oleh-oleh sebuah acara. Alasannya karena pasti dipakai. Untuk Crafty Days 8 pun aku dan Tobucil memilih kaos, meski untuk perempuan modelnya bukan model standar. Dan satu lagi model yang lebih unisex bisa pakai oleh laki-laki dan perempuan. Ada juga kaos untuk anak kecil. Hanya saja untuk item ini, perhitungannya sedikit meleset, karena aku bikinnya terlalu banyak hehehehe.. jadi pekerjaan rumah baru untuk menjualnya setelah acaranya berakhir.




Dari proses mendesain dan memproduksi oleh-oleh kegiatan semacam ini, ada pelajaran berharga yang aku dapatkan. Ada baiknya jika ingin membuat oleh-oleh acara, tidak perlu membuat pilihan yang terlalu banyak. Begitu juga jumlah yang sebaiknya dibuat terbatas saja. Kenapa? karena pengunjung acara sudah disuguhi berbagai macam pilihan yang mungkin akan menimbulkan dilema dalam memilih dan juga pertimbangan isi dompet juga menentukan :D. Selain itu, berhubungan dengan skala kegiatannya sendiri, untuk kegiatan yang pengunjungnya ga sampai ribuan, lebih baik oleh-oleh ini jadi barang yang memang sangat terbatas dan pantas dikoleksi. 

3 comments:

Cicilia said...

Keren mba, thanks for sharing :) gemes banget mau belajar letterpress dari dulu. Smoga bisa ketemu jodoh mesinnya suatu hari nanti. Hehehe

Ratna Amalia said...

meuni vintage pisan, euy !
btw, kumaha kabarna mba Tarlen ^^

aditya susilo said...

mbak, itu pakai platnya yang ada laki perempuan nya?kalau kurang dalam coba pakai plat yang di grafir laser, hasilnya bisa lebih dalam, cuma cost nya lebih besar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...