Friday, July 20, 2012

Buku-buku Panduan Untuk Memulai Bisnis Handmade

Ada beberapa buku menarik yang menurutku penting untuk di baca dan dipelajari oleh siapa saja yang mau memulai usaha berbasis hobi dan keterampilan tangan. 


1. Craft Inc. Turn Your Creative Hobby Into a Business karya Meg Mateo Ilasco
Buku ini memberi banyak masukan tentang bagaimana mempersiapkan sebuah perencanaan bisnis. Termasuk di dalamnya adalah pertimbangan-pertimbangan mendasar dalam memulai sebuah usaha: apakah usaha ini harus di jalankan sendiri atau bermitra dengan orang lain (sisi positif dan negatifnya di bahas di buku ini). Bagaimana membangun brand dari produk yang kita hasilkan, perencanaan produksi, strategi publikasi, strategi penjualan dan bagaimana mengahadapi turun naiknya usaha yang sedang kita rintis. Di lengkapi pula oleh wawancara pengalaman para crafter sukses dalam memulai usaha mereka.  Menurutku buku ini penjadi pengetahuan yang sangat mendasar bagi siapapun yang ingin membangun usaha.


2. Handmade Marketplace: How to Sell Your Crafts Locally, Globally and Online, karya Kari Chapin
Buku ini lebih menekankan pada strategi marketing dan penjualan. Untuk bisa menjual dengan tepat sasaran, Kari Chapin menekankan bagaimana pentingnya seorang crafter mengetahui dengan pasti seperti apa produknya, kelebihan dan kekurangannya sehingga ia bisa menentukan strategi promosi, publikasi dan pemasaran yang tepat sasaran. Buku ini juga banyak memberi panduan teknis dan praktis bagaimana membuat strategi pemasaran yang tepat. Tak lupa pula ada wawancara dengan para crafter tentang pengalaman mereka memasarkan dan mengembangkan pasar untuk produk-produk mereka.


3. Handmade to  Sell, Hello Craft's Guide to Owning Running and Growing Your Crafty Biz karya Kelly Rand bersama Christine Ernest, Sara Dick dan Kimberly Dorn.
Jika Meg Mateo Ilasco dalam bukunya lebih mengacu pada prinsip-prinsip dasar dalam berbisnis, dalam buku ini, Kelly dan kawan-kawan mengacu pada pengalaman mereka bersama komunitas Hello Craft dalam membangun sebuah usaha berbasis hobi dan keterampilan tangan. Semangatnya lebih ke semangat komunitas karena yang di bahas di buku ini, sesungguhnya perpaduan dari Craft Inc. dan Handmade Marketplace. Handmade to Sell melengkapi yang tidak ada di kedua buku ini dengan satu bab khusus tentang bagaimana membuat bazaar atau fair untuk memasarkan produk-produk handmade. Selain itu pendekatan komunitas menjadi semangat utama yang diusung oleh buku ini. Itu sebabnya mengembangkan komunitas juga menjadi strategi penting yang direkomendasikan oleh Kelly Rand dan kawan-kawan.

4. Handmade Nation. The Rise of DIY, Art, Craft and Design karya Faythe Levine dan Cortney Heimerl.
Sebuah buku penting yang mendokumentasikan perkembangan komunitas craft di Amerika yang kemudian mendunia. Buku ini berisi timeline kronologi perkembangan, beberapa catatan penting yang menandai perkembangan tersebut dan profil-profil crafter yang dianggap penting dan mewakili perkembangan tersebut. Sangat menginspirasi dan bisa memberikan gambaran tentang semangat dari hobi, lalu muncul kesadaran untuk menjadikan hobi tersebut sebagai alat sosial aktivisme tapi juga sekaligus bisnis yang membawa misi craftypreneur (bisnis berbasis craft) dengan semangat craftivism (craft + art + sosial aktivisme). Semangatnya menurutku sangat patut ditiru.

Memang, semua buku ini acuannya adalah apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh crafter-crafter di Amerika sana. Tapi gejalanya menular dan mengglobal. Buatku menarik untuk membandingkan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Apakah craftypreneur yang berkembang di Indonesia membawa semangat dan kesadaran yang sama, atau berbeda sama sekali. Apakah hanya semangat craftypreneurnya saja yang di gembar-gemborkan, atau semangat craftivismnya juga ikut dibangun di sini? banyak pertanyaan yang muncul setelah membaca buku-buku ini. Jadi bagiku akan sangat menarik untuk mencatat dan mencermati perkembangan craftypreneur dan craftivism di Indonesia. Dengan begitu bisnis yang kita rintis dengan landasan hobi dan keterampilan ini, bukan sekedar bisnis yang mendatangkan rupiah saja, tapi juga bisa memberi manfaat dan perubahan pada lingkungan di sekeliling kita.

Saturday, July 7, 2012

Bonn Voyage

Ceritanya tanggal 23 sampai 27 Juni 2012 lalu, aku melakukan perjalanan yang sangat-sangat singkat ke Bonn, Jerman. Yup, bener perjalanan ini memang super duper singkat. Aku mendapat undangan untuk mengikuti Global Media Forum 2012 yang berlangsung dari tanggal 24 sampai 27 Juni 2012 dan diselenggarakan oleh Deutsche Welle. Jadi begitu konfrensinya selesai, aku langsung pulang. Dari perjalananan yang begitu singkat ini, ada sedikit oleh-oleh yang ingin aku bagikan di sini. Bonn sebuah kota kecil bekas ibukota Jerman Barat, setelah bersatu, ibukota Jerman pindah ke Berlin. Beethoven menjadi 'maskot', karena Bonn adalah kota kelahirannya, ga heran patungnya ada di plaza pusat kota lama Bonn. Rumah kelahirannya dijadikan museum, tapi sayang aku beneran ga sempet mengunjunginya karena jadwal yang cukup padat.

Seperti biasa, kesasar adalah bagian yang membuat perjalanan ke tempat baru menjadi sah dan mabrur. Dan aku selalu menikmati momen kesasar, malah kalau cukup waktu sengaja menyasarkan diri. Untuk menikmati keasingannya dan sekaligus orientasi medan. Di tengah cuaca yang cukup dingin (terlalu dingin malah untuk ukuran musim panas) dan hujan gerimis, keliling-keling jalan kaki, berusaha menemukan hotel tempatku menginap. Ga sengaja nyasar ke pasar loak yang cuma buka sebulan sekali.. aku beruntung!! langsung terpesona melihat benda-benda yang dijual di sana. Pengen rasanya ngeborong semuanya..hahahah!!

Begitu melihat koper-koper kulit ini, langsung teringat Ria Papermoon si pecinta koper. Seandainya Ria ada bersamaku, pasti kami akan histeris bersama melihat koper-koper ini. Sementara di kios lain yang menjual pola-pola baju dan majalah-majalah mode vintage langsung mengingatkanku pada Ika Vantiani.. Bisa di bayangkan seandainya kami ada dalam satu rombongan pasti akan nongkrong di pasar antik ini sampai tutup. 

Tentu saja, ini kios yang lagi-lagi bisa bikin aku, Ria, Ika dan Astrid Reza akan panik berat.. karena sekios isinya kaleng semua (ga berani moto dari deket, takut ga bisa menahan diri dari godaan kaleng.. hahahah). Ampunnnnn... nyaris membeli beberapa, tapi urung karena teringat hotel tempat menginap yang belum juga di temukan..
Dan lihatlah kompor  berikut ini.. sungguh luar biasa ciamikkkkkkkkk .. takjub aku melihatnya. Bisa gawat kalau kunjunganku ke Jerman ini adalah dalam rangka residensi beberapa bulan, benda-benda ini bisa ngikut pulang ke Indonesia.. hahahahah..
Beruntung, di penghujung konfrensi hari pertama, panitia menjadikan acara boat trip menyusuri sungai Rhine dari Bonn ke Koln sebagai bagian dari acara untuk peserta bersantai dan saling mengenal. Jadinya kunjungan yang teramat singkat ini cukup meninggalkan kesan. Banyak kastil dan bangunan khas Jerman di sepanjang sungai. Meski anginnya cukup dingin, namun pemandangan musim panas di sepanjang sungai Rhine ini sangat sayang jika dilewatkan. 


Lebih banyak foto-foto Bonn Voyage, bisa dilihat di sini

Wednesday, July 4, 2012

I Love Stationery


Ketika menemukan buku ini, langsung deh girang berat! Gimana engga isinya desain stationery semua dan sebagian di buat dengan teknik manual dan handmade. I love Stationery ini disusun oleh Charlotte Rivers dan di terbitkan oleh W&V Press. Edisi Asia diterbitkan pertama kali tahun 2012. Desainer stationery dari Amerika, Eropa dan Australia juga tampil di buku ini. Mai Autumm (New Jersey, USA), Heidi Burton (London, UK), Oh My Deer Handmades (Nashville, Tennessee, USA), Akimbo (Adelaide, Australia), Sakura Snow (Amsterdam, The Netherlands), Cabin + Cub (Vancouver, Canada) dan lain-lain.

Charlote sengaja mengumpulkan beberapa desainer stationery yang menggunakan berbagai teknik di buku ini. Screen printing, block printing, ilustrasi, letterpress dan ilustrasi digital. Amerika sendiri memiliki acara tahunan dengan skala yang cukup besar untuk menampilkan desain-desain baru stationery: the National Stationery Shows di New York. Sayangnya di Indonesia belum banyak desainer yang mengkhususkan diri membuat desain stationery, padahal penggemar stationery di Indonesia ini cukup fanatik. Selain itu juga, banyak materi tradisional Indonesia yang sangat bisa diolah untuk desain-desain stationery ini.
Selain itu, sedikit penjelasan mengenai teknik yang digunakan juga dipaparkan di buku ini, jadi lumayan memberi tips and trick juga. Secara kesuluruhan material yang banyak digunakan oleh para desainer stationery di buku ini, terfokus pada kertas dan berbagai teknik cetak. Buatku, buku ini sangat menyenangkan karena bisa dapet banyak referensi dan ide segar dalam rangka cita-citaku yang ingin jadi desainer stationery juga :D mimpinya, suatu saat nanti di buku semacam ini ada porto folio desain dan karya stationeryku juga; Vitarlenology (Bandung, Indonesia). Amin.

Monday, July 2, 2012

Sampul Batik Untuk Darya Varia

Ini adalah sampul batik yang kubuat untuk Darya Varia Laboratoria. Sampul batik ini mengadaptasi bentuk diary pelangi yang pernah kubuat beberapa tahun lalu. Sampul batik ini digunakan untuk menyampuli kamus saku yang dibagikan dalam salah satu program kegiatan Darya Varia. Untuk menempelkan pin perusahaannya, aku tempelkan pita yang membentang di tengah-tengahnya. Sampul ini sebenernya sederhana banget, tapi ketika sudah di sampulkan, kamus sakunya jadi terlihat jauh lebih manis.


Tak Asal Menjilid Buku

foto di link dari twitpic @inisheil

Ini hobi yang unik. Biasanya, penjilidan buku dikerjakan oleh percetakan atau orang-orang yang ahli di bidangnya. Kita, sebagai pembaca, lebih senang mendapatkan buku utuh yang sudah terjilid rapi. Tapi Tarlen Handayani dan rekan-rekannya malah menjadikan penjilidan buku sebagai hobi.
Teknik menjilid atau membundel buku yang didalami pengelola Tobucil sejak dua tahun lalu ini dikenal dengan sebutan book-binding. Awalnya, teknik ini yang dikembangkan oleh orang Eropa dan Amerika pada abad pertengahan, untuk menyatukan lembaran-lembaran manuskrip.
Ada sejumlah alasan mengapa Tarlen sangat suka book-binding. Salah satunya, buku yang dihasilkan jadi lebih mudah dibuka dan tidak gampang jebol. “Saya senang menulis buku harian, dan saya suka buku yang (kalau dibuka) bisa rata. Menulisnya jadi leluasa, dan gak takut jebol,” kata Tarlen.
Tarlen punya kebiasaan sejak kecil membuat sendiri buku hariannya, karena sulit menemukan buku yang lembarannya polos, tidak bergaris. Gara-gara itu, sejak kecil, dia sengaja membeli lembaran kertas polos, memotongnya sendiri, lalu membawanya ke tempat fotokopi untuk dijilid menjadi buku.
Saat itu dia memang belum bisa menjilid sendiri. Tapi Tarlen sudah takjub pada teknik ini. Dia pernah melihat salah satu buku koleksi ayahnya yang dijilid dengan cara dijahit. Tapi kala itu dia tidak tahu apa nama teknik itu. “Saya pingin yang dijahit-jahit kaya gitu, tapi enggak tahu gimana caranya,” kata dia.
Cita-citanya kesampaian ketika mendapat beasiswa Asian Cultural Council di New York, Amerika Serikat, pada 2008. Saat itu dia tengah menjalani observasi pengembangan komunitas, bagian dari program beasiswanya. Seorang teman yang ditemuinya di Crafty Days di Brooklyn menyarankan agar dia menyambangi studio Etsy, komunitas pembuat kerajinan tangan.
Tarlen sempat ditawari mengajar di Etsy dan ia memilih mengajarkan origami. Koordinator kelas berniat membayarnya. Tapi, karena mendapat beasiswa, dia tak boleh menerima uang. Akhirnya honor diganti dengan kesempatan ikut kelas secara gratis. Dia pun memilih kelas book-binding. “Dari dulu saya pengen belajar itu, tapi di Indonesia gak ada,” kata Tarlen.
Tarlen menuturkan, dari sejumlah literatur yang dikumpulkannya sendiri, pola yang muncul di punggung buku bisa bermacam-macam. Dia sendiri saat ini baru menjajal 10 teknik. Satu di antaranya, pola temuannya sendiri.
Tapi ada satu teknik yang saat ini tengah dipelajarinya dengan serius, yakni teknik caterpillar-binding. Tarlen menuturkan, pola jahitan di punggung buku itu nantinya terlihat seperti tengah dihinggapi ulat kaki seribu. “Itu yang pingin saya coba,” kata dia.
Saat hendak mempraktekkannya selepas kembali ke Tanah Air, dia mulai menemukan masalah baru. Ternyata semua bahan yang diperlukan untuk mengerjakan book-binding tidak tersedia di Indonesia. Tidak putus harapan, Tarlen nekat mencobanya dengan bahan-bahan seadanya.
Benang, misalnya, yang standarnya menggunakan benang linen berlapis lilin, digantinya dengan benang kulit sintetis yang ia balur dengan lilin dari madu. Begitu pun jarum, digantinya dengan jarumtapestry--jarum dengan lubang benang yang ukurannya lebih lebar. Paku untuk melubangi kertas pun dibelinya di tukang sepatu.
Salah satu cara melatih teknik book-binding dilakukannya dengan membuat buku setebal 64 ribu halaman, yang tersusun atas lebih dari 500 bundel buku kecil berukuran 5x4 sentimeter. Tarlen menghitung, butuh waktu lebih dari 40 jam untuk menyatukannya.
Buku dengan tebal tak lazim itu sempat dipamerkannya bersama tiga teman di Toko 347 Bandung pada Februari lalu. Dengan hobinya itu, Tarlen membantu sejumlah temannya membuat buku unik. Misalnya, dia membantu menjilidkan 50 buku kumpulan sketsa arsitektural karya kawannya yang sengaja diterbitkan untuk merayakan hari jadinya yang ke-50. Juga buku edisi khusus Bredel 1994yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen Bandung.
Hingga kini, Tarlen belum menemukan kawan “senasib” di Indonesia yang menggeluti teknik itu. Dia iri kepada pehobi yang sama di luar negeri, yang rutin unjuk gigi memamerkan karyanya bak karya seni. Di sejumlah universitas, bahkan book-binding menjadi materi di program Master Art Book. “Termasuk ada beberapa profesor yang spesialisasinya itu,” kata Tarlen.
Tarlen sempat menjajal berbagi hobi barunya dengan membuka kelas khusus bagi mereka yang hendak mencoba book-binding di Tobucil. Sayangnya, tidak bertahan lama. “Pernah bikin (kelasnya), tapi buat pemula, yang dasar banget. Tapi orang-orang pinginnya langsung bikin yang (rumit), padahal ada logika dasar yang harus dimengerti dulu,” kata dia.AHMAD FIKRI

Tulisan ini di reblog dari Koran Tempo, Minggu 1 Juli 2012

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...