Tuesday, January 31, 2012

Moel Dan Dunia @themogus



Setelah bertahun-tahun dengan ketekunan dan ketelatenannya membangun koloni monster gurita, akhirnya Moel memamerkannya dalam sebuah pameran tunggal di Galeri Gerilya, Jl. Raden Patah, Bandung. Dalam pameran ini, Moel memberiku kehormatan untuk berkontribusi sebagai salah satu penulis di katalog pamerannya. Berikut tulisannya aku terbitkan di sini. 

Surat Perayaan Rasa Takut

Dear The Mogus,

Sebelumnya kusampaikan selamat pada keluarga The Mogus yang akhirnya bisa tampil bersama-sama dalam pameran ini. Aku acungkan semua jempolku untuk Moelyana, orang di belakang ide dan kelahiran kalian sekeluarga. Aku teringat saat pertama kali prototipe The Mogus lahir. Saat itu Crafty Days #2 Tobucil & Klabs, Desember 2008, Moel membuat anggota pertama The Mogus yang diberi nama Mogu Sigarantang. Anggota keluarga pertama ini tentunya masih banyak kekurangannya. Moel membuatnya dari pompom benang bulky. Moel saat itu belum menemukan cara mengikat untuk menyatukan pompom-pompom itu dengan kuat. Akibatnya, Mogu Sigarantang cukup retan rusak dan 'brudul' . Kegigihan Moel untuk  membentuk keluarga monster yang sakinah mawadah dan warohmah, membuat Moel pantang menyerah untuk terus mencoba menemukan formula monster gurita yang tangguh seperti The Mogus yang ada sekarang. 

Ketika Mogu Sigarantang dibuat muncul pertanyaan 'Moel, kenapa ini monsternya malah lucu dan ga ada ngeri-ngerinya sama sekali?' Moel saat itu menjawab : 'Mogu itu monster yang bersahabat dan bisa jadi teman bermain.' Dan memang,  selama aku mengenal Moel sejak tahun 2003 lalu, Moel selalu menjadi teman bermain yang menyenangkan dan bisa diandalkan. Belum pernah sekalipun aku melihat dia membuat sesuatu yang benar-benar brutal dan mengerikan. Moel selalu membuat hal-hal yang menyeramkan justru jadi menyenangkan, The Mogus adalah buktinya. Meski diniatkan sebagai keluarga monster gurita, namun The Mogus tampak rapi dan ceria ini membuatku melihat penafsiran lain yang menjawab pertanyaan tentang monster lucu dan cerah ceria ini. 

 Selama ini kita selalu mengidentikan monster dengan ketakutan yang cenderung dihindari meski sering tidak kita sadari, kita memeliharanya. The Mogus bagiku seperti simbol bahwa ketika apa yang menjadi monster menakutkan  di luar dan di dalam diri kita, justru tidak perlu dihindari. Ketika dia bisa kita hadapi, kita bisa menjadikannya teman bermain yang asyik. Justru ketika kita bermain tanpa rasa takut, kita akan kehilangan  sesasi permainan itu sendiri. Bermain tanpa rasa takut lantas menjadi berbahaya karena kita kemudian tidak mengetahui batas terjauh sampai mana permainan itu bisa kita jalani. Justru ketika rasa takut menjadi batas terjauh, dia akan menjadi kontrol yang membuat kita belajar untuk menghadapinya dengan santai. Seringkali ketakutan itu terasa  sangat menakutkan ketika dilihat dari jauh karena bayangan ikut memperbuas ketakutan itu. Namun ketika ketakutan itu kita dekati, kita akan menemukan cara untuk berteman dengannya. Yang menjadi penting di sini adalah bagaimana cara kita mengendalikan ketakutan-ketakutan itu. 

Kurasa aku berterima kasih pada kalian, para Mogu. Lewat pameran ini aku seperti diajak untuk  menyadari bahwa monster dalam diri kita tidak selalu berwujud mengerikan. Monster yang menjadi cermin ketakutan itu bisa menyaru dalam kecerahan dan keceriaan. The Mogus seperti mengingatkan bahwa selalu ada dua sisi  dari setiap hal di dunia ini, karena begitulah kehidupan ini diciptakan sebagai aksi dan reaksi, baik dan buruk dan seterusnya. Dipenghujung suratku, aku ingin mengatakan pada Moel, bahwa apa yang dilakukannya selama ini sangat menginspirasiku. Moel mungkin tidak peduli apakah The Mogus disebut sebagai karya seni atau bukan, karena buatku pun yang penting bukan itu.Ketekunan dan komitmen Moel untuk terus menerus berkembang dalam penguasaan teknik dan konsep, juga kegigihannya untuk mendisiplinkan diri dalam belajar, kukira sangat menginspirasi. Pameran ini menjadi perayaan dari perkenalan aku, kamu, kita semua pada Moel dan ketakutan-ketakutan berwujud moster-monster ceria bernama keluarga The Mogus.

Salam monster dariku,
Tarlen Handayani
Tobucil & Klabs



Friday, January 27, 2012

Buku Petualangan EFG Untuk Mba Floren



Adalah satu kehormatan bagiku membuat sebuah notebook (mungkin lebih tepatnya untuk yang ini disebut album) yang bakalan dipakai untuk mendokumentasikan kisah sebuah keluarga. Hal itu aku dapatkan dari mba Florencia. Dengan sabar mba Floren menunggu album ini sampai kelar di kerjakan. Album yang diberi judul AFG Adventure Book ini akan menjadi album dokumentasi mba Floren dan keluarganya. 


Bisa dibilang ini adalah album/ notebook ukuran A4 (landscape) pertama yang pernah aku buat. Sebenarnya ga terlalu sulit kalau dibuat sebagai buku catatan biasa. Tapi yang ini jadi tantangan tersendiri karena nantinya akan ditempel-tempel foto dan lain-lain (mungkin semacam album scrapbook) dan aku mesti memperhitungkan ketebalanan buku ini setelah nanti di tempel-tempel. Makanya buku ini jadi terlihat sangat tebal. Berguru pada teman-teman scraper yang bisa membuat notebook biasa jadi berkali-kali lipat tebalnya dari notebook ukuran aslinya, album EFG ini kalau sudah penuh diisi memang akan jadi setebal ini. 

Menjilidnya lumayan repot, bukan karena teknik binding yang aku pakai tapi lebih karena aku belum terbiasa dengan ukuran dan besarnya buku ini. Oya tulisannya aku buat dari kain yang senada dengan kain dalemnya. Di bagian belakangnya juga mba Floren minta ditambah kantong. Ya udah aku bikin kantongnya senada dengan kain dalemnya. Setelah selesai, aku merasa lega. Rasanya seperti membuat sebuah buku 'induk' yang tebal dan besar seperti sebuah catatan kuno di perpustakaan tua hahahahah... lebay.. Tapi beneran, aku jadi pengen bikin buatku sendiri, untuk menempelkan kliping perjalanan tobucil dari dokumentasi publikasi di koran dan majalah..


Selamat mengisi buku petualangannya ya mba Floren... :)

Kindle Case Buat @puty

foto di reblog dari byputi.com
Beberapa waktu lalu, Puti berkirim email padaku, dia baru beli kindle (E-book reader) dan minta dibuatin sampul yang dilengkapi resleting seperti sampul kitab. Sebetulnya membuat model seperti ini aku udah pernah beberapa kali, yang justru jadi tantangan tersendiri adalah ukurannya. Ternyata ga mudah membuat sampul gadget kalo gadgetnya ga ada di deket kita hehehehe.. mungkin karena aku bukan termasuk orang yang terlalu presisi, jadi soal ukuran ini jadi masalah. Terutama berapa banyak aku harus melebihkan dari ukuran sebenarnya. Bisa jadi ketika bagian dalemnya belum terpasang, ukurannya udah pas. Tapi setelah  lapisan dalamnya di pasang, eh, jadi kekecilan. Nah.. nah.. aku berlajar banyak nih dari proses pembuatannya. Cerita tentang kindlenya Puti ada di sini.


Monday, January 16, 2012

Cara Mencetak Poster Kegiatan Dengan Pendekatan 'Desain Modular'

Di jaman serba internet, publikasi kegiatan dalam bentuk poster tercetak ternyata masih tetap diperlukan. Bulan Januari ini, ada beberapa pekerjaan mendesain poster kegiatan yang aku kerjakan. Ada yang memang berhubungan dengan publikasi kegiatan tobucil dan kegiatan pameran temanku. Tidak seperti jaman pra cetak digital, dimana poster minimal mesti di cetak satu rim. Sekarang dengan bermodalkan printer warna, kita bisa mencetak sendiri poster-poster seperti ini. Jangan kawatir, meski teman-teman hanya punya printer ukuran A4, tapi teman-teman bisa mencetak poster dengan ukuran lebih besar dari ukuran A4. Untuk melakukannya, teman-teman perlu 'kesadaran desain' yang disesuaikan dengan keterbatasan alat. Dengan printer A4, teman-teman sebenarnya bisa menggunakan sistem modular atau puzzle dalam mendesain poster tersebut. Beberapa desain poster yang aku buat ini, menggunakan pendekatan itu. 


Poster Resital Empat Gitar ini aku layout dengan menggunakan Adobe Illustrator. Aku menggunakan 4 'artboard' yang disusun dari kiri ke kanan trus ke bawah kiri kanan juga dengan ukuran sebesar kertas A4 posisi landscape. Setiap artboard ketika di print menjadi lembaran ukuran A4 yang terpisah satu sama lain. Poster ini bisa di tempel dengan cara menyatukan 4 bagian terpisah itu terlebih dahulu sehingga kita mendapatkan poster berukuran A2 landscape, atau setiap halaman dibiarkan terpisah satu sama lain dan hanya di tempel berdekatan. 


Poster acara Pesta Filsuf ini juga, aku bikin dengan menggunakan dua artboard A4 di Adobe Illustrator. Aku tinggal menyambungkan bagian atas poster dan bagian bawahnya untuk menghasilkan poster berukuran A3.


Ini adalah desain poster Pameran Mogus World versi pertama (sama dengan versi undangannya) yang aku buat. Karena ini seperti postcard bolak balik hanya ukurannya lebih besar, jadi nyusunnya juga bebas, bisa vertikal atau horizontal, tergantung space yang tersedia untuk menempelkannya.

Keuntungan dari mencetak sendiri poster kegiatan tentu saja karena secara biaya lebih murah, selain itu kita bisa mencetak sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Malah aku sering menggunakan kertas bekas yang satu sisinya masih bisa terpakai untuk mencetak poster-poster seperti ini. Pertimbanganku poster kegiatan itu umurnya ga lama, kadang kertas bekas malah bisa memberi aksen tambahan terhadap poster yang kita buat, selain itu tentu saja penghematan kertas dengan alasan memaksimalkan penggunaan kertas. Toh, sekarang orang lebih mudah mengakses informasi secara online juga, jadi publikasi cetak ini seringkali sifatnya melengkapi yang online.

Semoga tips ini bisa membantu mensiasati keterbatasan sumber daya ketika membuat publikasi cetak kegiatan yang diselenggarakan teman-teman. Dan pendekatan desain modular ini sebenernya kita malah mendapatkan keleluasaan dalam ukuran. Kita bisa mencetak ukuran sebesar mungkin yang kita mau. 

Tulisan yang bisa melengkapi tips ini: Mencetak Poster Ukuran A4 dengan Printer A4


DIY Print On Demand Bredel 1994


Sejak awal Januari ini, pekerjaan seperti membrondong bertubi-tubi. Terutama pekerjaan yang berhubungan dengan program-program kegiatan tobucil yang Januari ini angkatan baru dimulai kembali. Padahal banyak yang ingin di publikasikan di blog ini. Salah satunya cerita tentang buku Bredel 1994. Setelah membuat Bredel 1994 edisi khusus dengan model magic quote notebook, awal Januari ini teman-teman AJI memintaku membuat edisi regulernya dengan sistem print on demand alias di cetak hanya berdasarkan permintaan. Bindingnya juga seperti binding buku. Mmm.. ini pengalaman yang menarik buatku, karena aku kemudian mengerjakan binding seperti yang dikerjakan oleh penerbitan buku: di jahit dan di lem. Ternyata binding seperti ini awalnya cukup merepotkan, karena ini menggabungkan dua cara jadi satu. Selain itu butuh alat press biar buku ga mekar ketika di lem. Tapi setelah menemukan triknya, ga serepot yang dibayangkan. Pengalaman ini buatku sangat penting untuk mengukur kapasitas produksi DIY print on demand buat buku-buku yang akan diterbitkan tobucil.




Wednesday, January 4, 2012

Secuplik Kisah Dari Laweyan

Sebenernya ini masih oleh-oleh dari jalan-jalan ke Solo Desember lalu, belum sempet aku publikasikan di blog ini. Tentang sebuah daerah tua bernama Laweyan. Sebuah daerah yang sudah eksis sebelum kerajaan Mataram berdiri. Disebut laweyan karena dalam bahasa Jawa 'laweyan' itu berarti benang. Jauh sebelum daerah ini berubah menjadi kampung saudagar batik, kampung Laweyan menjadi daerah yang menghasilkan kain tenun (lurik) untuk konsumsi rakyat bawah. Pergeseran dari penghasil kain tenun menjadi kampung saudagar batik, melampaui perjalanan panjang sekitar 600 tahun. Di Laweyan ini pulalah, Serikat Dagang Islam berdiri yang merupakan kongsi dagang lokalyang berpengaruh untuk melawan kolonialisme kongsi dagang Eropa pasa saat itu. Konon kabarnya, di balik benteng rumah-rumah saudagar yang sepertinya terpisah dan terisolasi satu sama lain itu, terdapat jalan bawah tanah yang menghubungkan satu rumah saudagar dengan saudagar lainnya untuk memudahkan mereka melakukan koordinasi satu sama lain.


Sejujurnya, inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung Laweyan. Aku sudah lama mendengar tentang daerah ini, tapi baru Desember 2011 lalu aku bisa benar-benar mengunjungi daerah ini dan melihat langsung kekayaan sejarah dan bukti perjalanan kisah yang panjang dari sebuah kampung tua bernama Laweyan. Aku terpukau dengan bangunan-bangunan yang ada di kampung Laweyan ini, sisa-sisa kejayaan para saudagar batik pada masanya yang kini terkavling-kavling menjadi kepingan-kepingan karena zaman yang berubah, persoalan bagi waris dan generasi berikutnya yang tidak sesukses leluhurnya. Aku seperti masuk ke dalam gua yang jika kutelusuri lebih dalam lagi, aku akan menemukan kisah perjalanan sejarah yang luar biasa. Sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di tanah Sunda, kerinduan untuk mengenal sejarah asal usulku menjadi kebutuhan yang harus kupenuhi. 

asalnya, dua pintu berbeda warna ini, satu bagian rumah yang sama. Namun karena urusan bagi waris, akhirnya rumah ini dibagi dua
Pendopo yang begitu cantik ini, akhirnya tersekat dua karena bagi waris.
Sekat sebelah kanan..
Sekat sebelah kiri..

Sisa-sisa kejayaan masa lalunya masih terlihat jelas..

Meski sebentar, namun kunjunganku ke Laweyan memberi kesadaran baru, tentang batik dan sejarah yang terentang panjang di baliknya. Mungkin aku akan kesulitan menemukan para pembatik yang dengan keahliannya menorehkan canting, menggambari lembaran-lembaran kain katun mori di halaman belakang rumah para saudagar, karena kini kampung Laweyan lebih banyak menjual batik-batik dari para pengrajin dari daerah Klaten. Namun yang pasti, Laweyan memberiku kesadaran bahwa Malaysia boleh saja mengklaim batik sebagai kekayaan budayanya, tapi yang pasti Malaysia tidak akan pernah bisa mencuri kisah dan sejarah panjang batik yang tersimpan di balik benteng-benteng rumah para saudagar. Sebagai orang Indonesia, aku sangat-sangat beruntung bahwa aku tidak perlu mengaku-aku untuk memiliki batik dan sejarah panjang di baliknya. Yang perlu kulakukan adalah mengapresiasinya dengan menjaga, mengembangkan batik sebagai warisan yang tiada habisnya dan menyebarluaskan kisahnya.

Tulisan yang berjudul 'Pertumbuhan Pengusaha Batik Laweyan Surakarta, Suatu Studi Sejarah dan Ekonomi' yang ditulis oleh Baidi, bisa menambah referensi tentang Laweyan. Lebih banyak foto ada di sini. Dan situs tentang Kampung Batik Laweyan bisa dibuka di sini.

Mari Mulai Putaran Baru 2012

Terima kasih buat Artika Maya untuk drawingnya..>hugs<
Tahun baru itu artinya satu putaran genap dilalui. Dan sekarang putaran 2012 baru saja dimulai. Bagiku, tahun baru itu seperti kumpulan kisah perjalanan hari-hari mengalami kebaruan-kebaruan dalam hidup. Satu tahun itu seperti satu bab dalam hidupku. Tahun 2012 ini aku memasuki bab ke 35 dari hidupku. Semestinya setelah bab ke 35, kisah perjalanan hari-harinya akan makin seru, pemaknaan hidup makin  dalam dan semangat yang lebih besar untuk terus berkarya.

Selamat mencatat kisah di putaran 2012, selamat menjalani kisah perjalanan hari-hari yang seru dan menyenangkan..

Salam hangat,
tarlen - vitarlenology


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...