Monday, July 2, 2012

Tak Asal Menjilid Buku

foto di link dari twitpic @inisheil

Ini hobi yang unik. Biasanya, penjilidan buku dikerjakan oleh percetakan atau orang-orang yang ahli di bidangnya. Kita, sebagai pembaca, lebih senang mendapatkan buku utuh yang sudah terjilid rapi. Tapi Tarlen Handayani dan rekan-rekannya malah menjadikan penjilidan buku sebagai hobi.
Teknik menjilid atau membundel buku yang didalami pengelola Tobucil sejak dua tahun lalu ini dikenal dengan sebutan book-binding. Awalnya, teknik ini yang dikembangkan oleh orang Eropa dan Amerika pada abad pertengahan, untuk menyatukan lembaran-lembaran manuskrip.
Ada sejumlah alasan mengapa Tarlen sangat suka book-binding. Salah satunya, buku yang dihasilkan jadi lebih mudah dibuka dan tidak gampang jebol. “Saya senang menulis buku harian, dan saya suka buku yang (kalau dibuka) bisa rata. Menulisnya jadi leluasa, dan gak takut jebol,” kata Tarlen.
Tarlen punya kebiasaan sejak kecil membuat sendiri buku hariannya, karena sulit menemukan buku yang lembarannya polos, tidak bergaris. Gara-gara itu, sejak kecil, dia sengaja membeli lembaran kertas polos, memotongnya sendiri, lalu membawanya ke tempat fotokopi untuk dijilid menjadi buku.
Saat itu dia memang belum bisa menjilid sendiri. Tapi Tarlen sudah takjub pada teknik ini. Dia pernah melihat salah satu buku koleksi ayahnya yang dijilid dengan cara dijahit. Tapi kala itu dia tidak tahu apa nama teknik itu. “Saya pingin yang dijahit-jahit kaya gitu, tapi enggak tahu gimana caranya,” kata dia.
Cita-citanya kesampaian ketika mendapat beasiswa Asian Cultural Council di New York, Amerika Serikat, pada 2008. Saat itu dia tengah menjalani observasi pengembangan komunitas, bagian dari program beasiswanya. Seorang teman yang ditemuinya di Crafty Days di Brooklyn menyarankan agar dia menyambangi studio Etsy, komunitas pembuat kerajinan tangan.
Tarlen sempat ditawari mengajar di Etsy dan ia memilih mengajarkan origami. Koordinator kelas berniat membayarnya. Tapi, karena mendapat beasiswa, dia tak boleh menerima uang. Akhirnya honor diganti dengan kesempatan ikut kelas secara gratis. Dia pun memilih kelas book-binding. “Dari dulu saya pengen belajar itu, tapi di Indonesia gak ada,” kata Tarlen.
Tarlen menuturkan, dari sejumlah literatur yang dikumpulkannya sendiri, pola yang muncul di punggung buku bisa bermacam-macam. Dia sendiri saat ini baru menjajal 10 teknik. Satu di antaranya, pola temuannya sendiri.
Tapi ada satu teknik yang saat ini tengah dipelajarinya dengan serius, yakni teknik caterpillar-binding. Tarlen menuturkan, pola jahitan di punggung buku itu nantinya terlihat seperti tengah dihinggapi ulat kaki seribu. “Itu yang pingin saya coba,” kata dia.
Saat hendak mempraktekkannya selepas kembali ke Tanah Air, dia mulai menemukan masalah baru. Ternyata semua bahan yang diperlukan untuk mengerjakan book-binding tidak tersedia di Indonesia. Tidak putus harapan, Tarlen nekat mencobanya dengan bahan-bahan seadanya.
Benang, misalnya, yang standarnya menggunakan benang linen berlapis lilin, digantinya dengan benang kulit sintetis yang ia balur dengan lilin dari madu. Begitu pun jarum, digantinya dengan jarumtapestry--jarum dengan lubang benang yang ukurannya lebih lebar. Paku untuk melubangi kertas pun dibelinya di tukang sepatu.
Salah satu cara melatih teknik book-binding dilakukannya dengan membuat buku setebal 64 ribu halaman, yang tersusun atas lebih dari 500 bundel buku kecil berukuran 5x4 sentimeter. Tarlen menghitung, butuh waktu lebih dari 40 jam untuk menyatukannya.
Buku dengan tebal tak lazim itu sempat dipamerkannya bersama tiga teman di Toko 347 Bandung pada Februari lalu. Dengan hobinya itu, Tarlen membantu sejumlah temannya membuat buku unik. Misalnya, dia membantu menjilidkan 50 buku kumpulan sketsa arsitektural karya kawannya yang sengaja diterbitkan untuk merayakan hari jadinya yang ke-50. Juga buku edisi khusus Bredel 1994yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen Bandung.
Hingga kini, Tarlen belum menemukan kawan “senasib” di Indonesia yang menggeluti teknik itu. Dia iri kepada pehobi yang sama di luar negeri, yang rutin unjuk gigi memamerkan karyanya bak karya seni. Di sejumlah universitas, bahkan book-binding menjadi materi di program Master Art Book. “Termasuk ada beberapa profesor yang spesialisasinya itu,” kata Tarlen.
Tarlen sempat menjajal berbagi hobi barunya dengan membuka kelas khusus bagi mereka yang hendak mencoba book-binding di Tobucil. Sayangnya, tidak bertahan lama. “Pernah bikin (kelasnya), tapi buat pemula, yang dasar banget. Tapi orang-orang pinginnya langsung bikin yang (rumit), padahal ada logika dasar yang harus dimengerti dulu,” kata dia.AHMAD FIKRI

Tulisan ini di reblog dari Koran Tempo, Minggu 1 Juli 2012

11 comments:

Adeayu said...

waaaah keren banget kaa..
terinspirasi jadinya pengen belajar jugaa..
http://mylittlecreambutton.blogspot.com/

dweedy said...

Mbak Tarlen keren >.<

asimetris said...

wow,, baru tau, mbak,, semangat terus di dunia book-binding ya, mbak tarlen,, :)

Cicilia said...

Mba aduh keren banget..... Aku mau banget ada kesempatan belajar di luar hiks hiks hiks.

Bikinan Jari said...

kuerennn.............
jadi inget, mba tarlen mau nanya ws di MSL bulan agustus jadi ngga? mesti daftar dmna ya?

Tarlen Handayani said...

terima kasih semua.. :)

workshopnya jadi.. nanti diumumin teknis pendaftarannya gimana...

Recycle and Craft Shop said...

Saya masih belum bisa-bisa coptic binding-nya, Sheni yang semula mau mengajari saya sudah balik ke Bandung juga :'(

Yuanita a.k.a Tacik said...

kalau mbak tarlen di surabaya pasti sering aku ributin buat ajarin ini-itu, sayang mbak tarlen di bandung. ayo semangat mbak....

The Circus Clown said...

mbak aku mau belajar jugaa :'(
ayo kapan ke Surabaya =D

Blog[Mood]erator said...

Kalo di Surabaya gak ada kelasnya, ayo kita buka kelasnya di Surabaya ini... aku di Sukolilo, ada yang deket-deket sini gak?

Blog[Mood]erator said...

Di Surabaya ayo kita buat kelasnya yuk...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...