Skip to main content

Bonn Voyage

Ceritanya tanggal 23 sampai 27 Juni 2012 lalu, aku melakukan perjalanan yang sangat-sangat singkat ke Bonn, Jerman. Yup, bener perjalanan ini memang super duper singkat. Aku mendapat undangan untuk mengikuti Global Media Forum 2012 yang berlangsung dari tanggal 24 sampai 27 Juni 2012 dan diselenggarakan oleh Deutsche Welle. Jadi begitu konfrensinya selesai, aku langsung pulang. Dari perjalananan yang begitu singkat ini, ada sedikit oleh-oleh yang ingin aku bagikan di sini. Bonn sebuah kota kecil bekas ibukota Jerman Barat, setelah bersatu, ibukota Jerman pindah ke Berlin. Beethoven menjadi 'maskot', karena Bonn adalah kota kelahirannya, ga heran patungnya ada di plaza pusat kota lama Bonn. Rumah kelahirannya dijadikan museum, tapi sayang aku beneran ga sempet mengunjunginya karena jadwal yang cukup padat.

Seperti biasa, kesasar adalah bagian yang membuat perjalanan ke tempat baru menjadi sah dan mabrur. Dan aku selalu menikmati momen kesasar, malah kalau cukup waktu sengaja menyasarkan diri. Untuk menikmati keasingannya dan sekaligus orientasi medan. Di tengah cuaca yang cukup dingin (terlalu dingin malah untuk ukuran musim panas) dan hujan gerimis, keliling-keling jalan kaki, berusaha menemukan hotel tempatku menginap. Ga sengaja nyasar ke pasar loak yang cuma buka sebulan sekali.. aku beruntung!! langsung terpesona melihat benda-benda yang dijual di sana. Pengen rasanya ngeborong semuanya..hahahah!!

Begitu melihat koper-koper kulit ini, langsung teringat Ria Papermoon si pecinta koper. Seandainya Ria ada bersamaku, pasti kami akan histeris bersama melihat koper-koper ini. Sementara di kios lain yang menjual pola-pola baju dan majalah-majalah mode vintage langsung mengingatkanku pada Ika Vantiani.. Bisa di bayangkan seandainya kami ada dalam satu rombongan pasti akan nongkrong di pasar antik ini sampai tutup. 

Tentu saja, ini kios yang lagi-lagi bisa bikin aku, Ria, Ika dan Astrid Reza akan panik berat.. karena sekios isinya kaleng semua (ga berani moto dari deket, takut ga bisa menahan diri dari godaan kaleng.. hahahah). Ampunnnnn... nyaris membeli beberapa, tapi urung karena teringat hotel tempat menginap yang belum juga di temukan..
Dan lihatlah kompor  berikut ini.. sungguh luar biasa ciamikkkkkkkkk .. takjub aku melihatnya. Bisa gawat kalau kunjunganku ke Jerman ini adalah dalam rangka residensi beberapa bulan, benda-benda ini bisa ngikut pulang ke Indonesia.. hahahahah..
Beruntung, di penghujung konfrensi hari pertama, panitia menjadikan acara boat trip menyusuri sungai Rhine dari Bonn ke Koln sebagai bagian dari acara untuk peserta bersantai dan saling mengenal. Jadinya kunjungan yang teramat singkat ini cukup meninggalkan kesan. Banyak kastil dan bangunan khas Jerman di sepanjang sungai. Meski anginnya cukup dingin, namun pemandangan musim panas di sepanjang sungai Rhine ini sangat sayang jika dilewatkan. 


Lebih banyak foto-foto Bonn Voyage, bisa dilihat di sini

Comments

Eugenia Gina said…
tarleen, kompornyaa itu kompornyaaa... *histeris panik sambil nunjuk2
makanya... kalo aku punya kompor kaya gitu pasti aku pajang doang ga akan aku pake biar ga rusak hahahahhaha...
kuwacikecil said…
semaput, pemirsa...
dweedy said…
*Menggila* Itu kompor, kaleng, buku mode vintage!!! *histeris*
moshe things said…
Tarlen, aku iri banget... I always love flea market. Itu barang-2 vintagenya sangat menggiurkan. Banyak banget yg pengin aku pajang di rumahku...
Lovesomeone said…
gimana caranya bisa ikut global media forum yaa? :O

Popular posts from this blog

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. 
1 April 2015,  Disket Bekas Hari pertama dibuka dengan mendaur ulang disket bekas jadi notebook. Lumayan, temen-temen tau kalo aku pengumpul 'sampah' kaya begini jadi mereka suka buang sampah disket dengan mengirimkannya padaku makanya stok disket lumayan banyak😊 hayooo siapa yang belum pernah ngalamin ngetik dan di save di disket?
2 April 2015, Kardus Bekas Bir Notebook ini buat dari kardus bekas tempat bir corona. Aku suka dengan perpaduan warna kuning biru. Di bagian tengah ada pegangan untuk menjinjing. Tanpa mengurangi banyak bagian, akhirnya kardus bekas ini berubah jadi notebook yang cukup kuat.
3 April 2015, …

Hari #16: Cara Membuat Kantong 'Gehu' Kertas Dari Kertas Bekas

Tadi itu temenku telpon, "len, request dong.. bikinin tutorial cara bikin kantong gehunya tobucil.. temen nih pengen bikin, tapi lupa lagi caranya.." sebenarnya aku udah pernah bikin tutorial ini dalam bentuk ilustrasi yang dibikin sahabatku tanto, tapi ga ada salahnya aku bikin lagi khusus buat ramadhan tutorial project kali ini. Kantong gehu, begitulah aku dan teman-teman di tobucil menyebutnya. Karena kantong kertas macam ini biasanya dipakai buat bungkus gorengan (gehu,cireng, bala-bala, pisang, combro.. :D), tapi sejak awal tobucil berdiri, 2001, kantong kertas dari kertas bekas ini sudah dipakai untuk pengganti kantong kresek. Jadi teman-teman yang udah pernah berkunjung dan berbelanja di tobucil, pasti pernah bertemu dengan si kantong gehu ini. Caranya gampang banget.. Oya tutorial kali ini aku dibantu oleh Ipey dan Agus Rakasiwi sebagai model tanpa wajah..

Bahan yang dibutuhkan: kertas bekas ukuran bebas, lem kayu (lem putih).

1. Lipat kertas 1/4 dari ukuran keseluruh…

"Petra d/h Hosana" Tempat Berburu Manik-manik Murah di Bandung

Buat kamu yang di Bandung, yang bingung mencari di mana tempat mencari manik-manik: Jepang, kayu, kristal, dan perlengkapan jahit menjahit, ada tempat bernama Petra dulu bernama Hosana di Jalan Asia Afrika, hanya beberapa toko saja dari perempatan Jalan Asia Afrika dan Otista. Di Bandingkan dengan "Dunia Baru" di Otista (tunggu pembahasan berikutnya), Hosana lebih murah. Selain itu, cukup enak milih manik-manik dari berbagai jenis, karena pengaturannya yang di bikin seperti swalayan.

Selain itu, perlengkapan untuk kerajinan asesoris juga lumayan lengkap dan murah. Termasuk juga aneka tali untuk bikin kalung. Untuk peralatan jahit seperti pita-pita, renda, kancing, aplikasi, ga terlalu lengkap sih, ga selengkap Dunia Baru.

Sangat direkomendasikan untuk mencari perlengkapan kerajinan asesoris.
Alamat Jalan Asia Afrika (Dekat perempatan Otista) Bandung.