Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2012

Pocketbook #Mwathirika untuk @papermoonpuppet

Salah satu cara menerjemahkan craftivism (craft + art + activism) adalah dengan mendukung dan berkolaborasi dengan kegiatan-kegiatan yang memiliki semangat yang sama. Satu kehormatan buatku bisa berkolaborasi dengan Ria dan Papermoon Puppet Theatre, membuat notebook untuk official merchandise mereka. Senang sekali karena aku bisa dapet banyak sekali energi dan inspirasi dari mereka.

Kolaborasi awal dimulai ketika Crafty Days #6, dimana Ria memintaku membuat pocketbook dari koleksi foto-foto dia. Setelah itu pocketbook ini dibuat untuk pertunjukan Mwathirika di Bandung. Dibuat dengan jumlah terbatas dan menggunakan 4 foto Tupu dan Moyo tokoh utama dari pementasan ini.  Menurutku, sudah saatnya dunia seni dan juga pertunjukan mulai memikirkan dengan serius soal merchandising ini. Merchandise bisa jadi potensi tabungan pendanaan untuk produksi pertunjukan termasuk juga potensi pengembangan audience. Semangat banget nih.. banyak ide-ide dengan semangat craftivism ini yang bisa dikembangka…

Belajar Mendefinisikan Gelap Terang

Bulan April - Mei 2012, sahabatku, R.E. Hartanto membuka kelas cat air di Tobucil & Klabs. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar menggambar dengan menggunakan cat air ini. Di kelas cat air ini, Tanto melakukan pendekatan realisme dan banyak menggambar dari foto sebagai latihannya. Metode belajarnya sebenarnya ga rumit. Dimulai dari belajar menjiplak foto ke atas kertas dengan menggunakan OHP, setelah itu baru mulai menggunakan teknik mewarnai dengan cat air dengan pendekatan gelap terang. Artinya mewarnai dari warna yang paling terang dulu baru ke gelap.

Ternyata ga semudah yang dibayangkan juga, apalagi buat orang yang ga sabaran kaya aku.. :D Aku sendiri cenderung impresionis jadi ga terlalu enjoy ketika harus membuat gambar yang realis banget. Sayangnya kelas cat air ini ga bakalan ada lagi, karena akhir juni ini, Tanto harus pindah ke Ungaran, Semarang, jadi selanjutnya ya latihan sendiri aja. Biar tambah semangat latihannya, berlatihlah menggambar deng…

#letterpress Kartu Nama Bolak Balik Tobucil & Klabs

Masih dalam rangka mengakrabi Kyai Franco. Aku coba bikin kartu nama bolak balik untuk tobucil. Nah untuk membuat yang bolak balik dengan menggunakan letterpress, memang harus sabar karena satu balikan harus menunggu sampai kering betul, karena kalau tidak tinta yang masih basah itu akan belepotan. Dalam pembuatan kartu nama ini, salahku adalah mencetak bagian tulisan 'literacy in my everyday life' dulu jadi lebih lama keringnya. Apalagi hurufnya bold seperti itu. Sementara mencetak tulisan 'tobucil & klabs dan alamatnya' itu ternyata lebih cepat keringnya. Kertas yang aku pakai adalah karton 1mm (sama dengan kartu nama dan mini porto folioku). 
Pembelajaran yang bisa diambil dari proses cetak letterpress bolak balik adalah: cetak terlebih dahulu bagian yang lebih cepat kering dan bagian lebih lama keringnya di cetak terakhir aja.. biar bisa menghemat waktu..   sampai di sini dulu pelajaran dari Kyai Franco.. :))

#letterpress Kartu Nama Sekaligus Mini Porto Folio Vitarlenology

'Semakin banyak berlatih, semakin mahir dan semakin sering berinteraksi, semakin kenal'.
Ini berlaku dalam hubunganku dengan Kyai Franco, mesin letterpress yang sedangku pelajari dan ku akrabi akhir-akhir ini. Dalam rangka berlatih, aku membuat kartu nama yang sekaligus juga bisa berguna sebagai mini porto folio. Aku membuatnya dengan model akordeon book. Isi bagian dalamnya menampilkan beberapa foto handmade notebook yang pernah aku bikin dan sisi sebaliknya profil singkat. Bahan kartu namanya aku menggunakan karton 1mm, lebih tebal dari kertas yang biasa digunakan untuk kartu nama. Tujuannya biar efek letterpressnya lebih keliatan (perhatikan deh, ada efek emboss di tulisannya). Tadinya aku mau coba pakai dua warna untuk kartu nama sekaligus mini porto folio ini, tapi berhubung waktunya tidak mencukupi, akhirnya aku pakai satu warna dulu. Menggunakan dua warna itu memang memakan banyak waktu untuk membuatnya, karena harus menunggu kering dulu warna yang sebelumnya dan harus…

Pemotong Pas Foto 'Vintage'

Cik Rani, sahabatku adalah pemilik toko vintage 'Garasi Opa'. Dia tau persis apa yang aku cari dari barang-barang yang ia jual di Garasi Opa: stationery vintage. Salah satunya adalah alat ini. Cik Rani menemukan alat pemotong pas foto ini dan segera mengamankannya untukku. Pada dasarnya ini adalah alat pemotong kertas pada umumnya. Hanya yang berbeda adalah pisaunya bergerigi, sehingga hasilnya juga bergerigi seperti renda. Selain itu ukurannya juga lebih kecil, karena alat ini biasanya digunakan untuk memotong tepi pas foto atau foto ukuran 5R. Seru banget kan.. aku jadi bisa bikin postcard-postcard lawasan dengan sentuhan akhir yang tak kalah lawas juga..


thanks ya cik..:)

Merchandise Dangdut 'Goddess of Pantura' Kolaborasi Bersama @aumdayu

Hal yang paling menyenangkan dan membahagiakan buatku adalah ketika bisa berkolaborasi dan membuat karya bersama teman. Adalah Arum Tresnaningtyas Dayuputri yang beberapa waktu lalu membuat seri foto cerita berjudul Goddess of Pantura untuk tugas akhirnya. Pada perkembangannya, Arum ga ingin foto cerita ini sekedar untuk kepentingan tugas akhir, ia berniat meneruskannya menjadi sebuah buku foto. Untuk mendukung gagasan itu, aku dan Arum memutuskan untuk berkolaborasi dengan membuat merchandise dari foto-foto Goddess of Pantura, sebagai jalan yang diretas untuk menuju cita-cita terbitnya buku foto itu
Dengan semangat Do It Yourself dan keinginan untuk menerbitkan buku foto secara mandiri, merchandise ini menjadi salah salah satu cara mengumpulkan dukungan dan modal untuk proyek penerbitan buku foto Goddess of Pantura. Sementara ini, baru 12 foto yang digunakan untuk membuat seri pocketbook Goddess of Pantura. Foto-foto Arum membuat pocketbook yang sederhana ini terasa begitu istimewa.…

Goddess of Pantura Versi Macan Tutul

Diana Sastra 
Goddess of Pantura yang ini, isinya masih sama dengan edisi sebelumnya hanya beda bahan cover. Yang ini memang sengaja dibikin versi macan tutul karena pengen nyoba bahan dan Arum pengen kesannya lebih dangdut, meski setelah jadi malah terkesan glamour daripada dangdut. Edisi macan tutul ini salah satunya diberikan kepada mba Diana Sastra, 'the goddess'. Dia seneng banget dan mau berpose dengan bukunya untuk blog ini.



Horeee 'Mwathrika' Papermoon Puppet Theatre, Bakalan Pentas di Bandung

Untuk kamu .. yang tak pernah bertemu mereka sebelumnya... atau kamu, yang ingin menjumpai mereka lagi..

Baba, Seorang ayah yang rendah hati, orang tua tunggal, bertangan satu, dan mencintai keluarganya melebihi apapun yang ada di dunia ini...

Moyo, Anak lelaki sulung dalam keluarga Baba. Masih belia.. berusia 10 tahun.. yang menjaga saudaranya dengan segenap kemampuannya...
Tupu,  Anak bungsu keluarga Baba.. 
berusia 4 tahun dan selalu merasa bahagia...
Haki, Tetangga Baba, orang tua tunggal... yang mengurus anak perempuannya..
Haki seperti halnya kita.. 
hanya menginginkan kehidupan yang aman tentram..
Lacuna, Anak Haki satu-satunya.. selalu duduk di kursi roda, dan hatinya selembut aromanis..