Wednesday, January 4, 2012

Secuplik Kisah Dari Laweyan

Sebenernya ini masih oleh-oleh dari jalan-jalan ke Solo Desember lalu, belum sempet aku publikasikan di blog ini. Tentang sebuah daerah tua bernama Laweyan. Sebuah daerah yang sudah eksis sebelum kerajaan Mataram berdiri. Disebut laweyan karena dalam bahasa Jawa 'laweyan' itu berarti benang. Jauh sebelum daerah ini berubah menjadi kampung saudagar batik, kampung Laweyan menjadi daerah yang menghasilkan kain tenun (lurik) untuk konsumsi rakyat bawah. Pergeseran dari penghasil kain tenun menjadi kampung saudagar batik, melampaui perjalanan panjang sekitar 600 tahun. Di Laweyan ini pulalah, Serikat Dagang Islam berdiri yang merupakan kongsi dagang lokalyang berpengaruh untuk melawan kolonialisme kongsi dagang Eropa pasa saat itu. Konon kabarnya, di balik benteng rumah-rumah saudagar yang sepertinya terpisah dan terisolasi satu sama lain itu, terdapat jalan bawah tanah yang menghubungkan satu rumah saudagar dengan saudagar lainnya untuk memudahkan mereka melakukan koordinasi satu sama lain.


Sejujurnya, inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung Laweyan. Aku sudah lama mendengar tentang daerah ini, tapi baru Desember 2011 lalu aku bisa benar-benar mengunjungi daerah ini dan melihat langsung kekayaan sejarah dan bukti perjalanan kisah yang panjang dari sebuah kampung tua bernama Laweyan. Aku terpukau dengan bangunan-bangunan yang ada di kampung Laweyan ini, sisa-sisa kejayaan para saudagar batik pada masanya yang kini terkavling-kavling menjadi kepingan-kepingan karena zaman yang berubah, persoalan bagi waris dan generasi berikutnya yang tidak sesukses leluhurnya. Aku seperti masuk ke dalam gua yang jika kutelusuri lebih dalam lagi, aku akan menemukan kisah perjalanan sejarah yang luar biasa. Sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di tanah Sunda, kerinduan untuk mengenal sejarah asal usulku menjadi kebutuhan yang harus kupenuhi. 

asalnya, dua pintu berbeda warna ini, satu bagian rumah yang sama. Namun karena urusan bagi waris, akhirnya rumah ini dibagi dua
Pendopo yang begitu cantik ini, akhirnya tersekat dua karena bagi waris.
Sekat sebelah kanan..
Sekat sebelah kiri..

Sisa-sisa kejayaan masa lalunya masih terlihat jelas..

Meski sebentar, namun kunjunganku ke Laweyan memberi kesadaran baru, tentang batik dan sejarah yang terentang panjang di baliknya. Mungkin aku akan kesulitan menemukan para pembatik yang dengan keahliannya menorehkan canting, menggambari lembaran-lembaran kain katun mori di halaman belakang rumah para saudagar, karena kini kampung Laweyan lebih banyak menjual batik-batik dari para pengrajin dari daerah Klaten. Namun yang pasti, Laweyan memberiku kesadaran bahwa Malaysia boleh saja mengklaim batik sebagai kekayaan budayanya, tapi yang pasti Malaysia tidak akan pernah bisa mencuri kisah dan sejarah panjang batik yang tersimpan di balik benteng-benteng rumah para saudagar. Sebagai orang Indonesia, aku sangat-sangat beruntung bahwa aku tidak perlu mengaku-aku untuk memiliki batik dan sejarah panjang di baliknya. Yang perlu kulakukan adalah mengapresiasinya dengan menjaga, mengembangkan batik sebagai warisan yang tiada habisnya dan menyebarluaskan kisahnya.

Tulisan yang berjudul 'Pertumbuhan Pengusaha Batik Laweyan Surakarta, Suatu Studi Sejarah dan Ekonomi' yang ditulis oleh Baidi, bisa menambah referensi tentang Laweyan. Lebih banyak foto ada di sini. Dan situs tentang Kampung Batik Laweyan bisa dibuka di sini.

1 comment:

artika maya said...

oh astaga... berapa kali ke solo, tapi blm pernah benar2 mengksplorasinya :(
thanks utk infonya mba :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...