Skip to main content

Secuplik Kisah Dari Laweyan

Sebenernya ini masih oleh-oleh dari jalan-jalan ke Solo Desember lalu, belum sempet aku publikasikan di blog ini. Tentang sebuah daerah tua bernama Laweyan. Sebuah daerah yang sudah eksis sebelum kerajaan Mataram berdiri. Disebut laweyan karena dalam bahasa Jawa 'laweyan' itu berarti benang. Jauh sebelum daerah ini berubah menjadi kampung saudagar batik, kampung Laweyan menjadi daerah yang menghasilkan kain tenun (lurik) untuk konsumsi rakyat bawah. Pergeseran dari penghasil kain tenun menjadi kampung saudagar batik, melampaui perjalanan panjang sekitar 600 tahun. Di Laweyan ini pulalah, Serikat Dagang Islam berdiri yang merupakan kongsi dagang lokalyang berpengaruh untuk melawan kolonialisme kongsi dagang Eropa pasa saat itu. Konon kabarnya, di balik benteng rumah-rumah saudagar yang sepertinya terpisah dan terisolasi satu sama lain itu, terdapat jalan bawah tanah yang menghubungkan satu rumah saudagar dengan saudagar lainnya untuk memudahkan mereka melakukan koordinasi satu sama lain.


Sejujurnya, inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung Laweyan. Aku sudah lama mendengar tentang daerah ini, tapi baru Desember 2011 lalu aku bisa benar-benar mengunjungi daerah ini dan melihat langsung kekayaan sejarah dan bukti perjalanan kisah yang panjang dari sebuah kampung tua bernama Laweyan. Aku terpukau dengan bangunan-bangunan yang ada di kampung Laweyan ini, sisa-sisa kejayaan para saudagar batik pada masanya yang kini terkavling-kavling menjadi kepingan-kepingan karena zaman yang berubah, persoalan bagi waris dan generasi berikutnya yang tidak sesukses leluhurnya. Aku seperti masuk ke dalam gua yang jika kutelusuri lebih dalam lagi, aku akan menemukan kisah perjalanan sejarah yang luar biasa. Sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di tanah Sunda, kerinduan untuk mengenal sejarah asal usulku menjadi kebutuhan yang harus kupenuhi. 

asalnya, dua pintu berbeda warna ini, satu bagian rumah yang sama. Namun karena urusan bagi waris, akhirnya rumah ini dibagi dua
Pendopo yang begitu cantik ini, akhirnya tersekat dua karena bagi waris.
Sekat sebelah kanan..
Sekat sebelah kiri..

Sisa-sisa kejayaan masa lalunya masih terlihat jelas..

Meski sebentar, namun kunjunganku ke Laweyan memberi kesadaran baru, tentang batik dan sejarah yang terentang panjang di baliknya. Mungkin aku akan kesulitan menemukan para pembatik yang dengan keahliannya menorehkan canting, menggambari lembaran-lembaran kain katun mori di halaman belakang rumah para saudagar, karena kini kampung Laweyan lebih banyak menjual batik-batik dari para pengrajin dari daerah Klaten. Namun yang pasti, Laweyan memberiku kesadaran bahwa Malaysia boleh saja mengklaim batik sebagai kekayaan budayanya, tapi yang pasti Malaysia tidak akan pernah bisa mencuri kisah dan sejarah panjang batik yang tersimpan di balik benteng-benteng rumah para saudagar. Sebagai orang Indonesia, aku sangat-sangat beruntung bahwa aku tidak perlu mengaku-aku untuk memiliki batik dan sejarah panjang di baliknya. Yang perlu kulakukan adalah mengapresiasinya dengan menjaga, mengembangkan batik sebagai warisan yang tiada habisnya dan menyebarluaskan kisahnya.

Tulisan yang berjudul 'Pertumbuhan Pengusaha Batik Laweyan Surakarta, Suatu Studi Sejarah dan Ekonomi' yang ditulis oleh Baidi, bisa menambah referensi tentang Laweyan. Lebih banyak foto ada di sini. Dan situs tentang Kampung Batik Laweyan bisa dibuka di sini.

Comments

artika maya said…
oh astaga... berapa kali ke solo, tapi blm pernah benar2 mengksplorasinya :(
thanks utk infonya mba :)

Popular posts from this blog

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. 
1 April 2015,  Disket Bekas Hari pertama dibuka dengan mendaur ulang disket bekas jadi notebook. Lumayan, temen-temen tau kalo aku pengumpul 'sampah' kaya begini jadi mereka suka buang sampah disket dengan mengirimkannya padaku makanya stok disket lumayan banyak😊 hayooo siapa yang belum pernah ngalamin ngetik dan di save di disket?
2 April 2015, Kardus Bekas Bir Notebook ini buat dari kardus bekas tempat bir corona. Aku suka dengan perpaduan warna kuning biru. Di bagian tengah ada pegangan untuk menjinjing. Tanpa mengurangi banyak bagian, akhirnya kardus bekas ini berubah jadi notebook yang cukup kuat.
3 April 2015, …

Hari #16: Cara Membuat Kantong 'Gehu' Kertas Dari Kertas Bekas

Tadi itu temenku telpon, "len, request dong.. bikinin tutorial cara bikin kantong gehunya tobucil.. temen nih pengen bikin, tapi lupa lagi caranya.." sebenarnya aku udah pernah bikin tutorial ini dalam bentuk ilustrasi yang dibikin sahabatku tanto, tapi ga ada salahnya aku bikin lagi khusus buat ramadhan tutorial project kali ini. Kantong gehu, begitulah aku dan teman-teman di tobucil menyebutnya. Karena kantong kertas macam ini biasanya dipakai buat bungkus gorengan (gehu,cireng, bala-bala, pisang, combro.. :D), tapi sejak awal tobucil berdiri, 2001, kantong kertas dari kertas bekas ini sudah dipakai untuk pengganti kantong kresek. Jadi teman-teman yang udah pernah berkunjung dan berbelanja di tobucil, pasti pernah bertemu dengan si kantong gehu ini. Caranya gampang banget.. Oya tutorial kali ini aku dibantu oleh Ipey dan Agus Rakasiwi sebagai model tanpa wajah..

Bahan yang dibutuhkan: kertas bekas ukuran bebas, lem kayu (lem putih).

1. Lipat kertas 1/4 dari ukuran keseluruh…

"Petra d/h Hosana" Tempat Berburu Manik-manik Murah di Bandung

Buat kamu yang di Bandung, yang bingung mencari di mana tempat mencari manik-manik: Jepang, kayu, kristal, dan perlengkapan jahit menjahit, ada tempat bernama Petra dulu bernama Hosana di Jalan Asia Afrika, hanya beberapa toko saja dari perempatan Jalan Asia Afrika dan Otista. Di Bandingkan dengan "Dunia Baru" di Otista (tunggu pembahasan berikutnya), Hosana lebih murah. Selain itu, cukup enak milih manik-manik dari berbagai jenis, karena pengaturannya yang di bikin seperti swalayan.

Selain itu, perlengkapan untuk kerajinan asesoris juga lumayan lengkap dan murah. Termasuk juga aneka tali untuk bikin kalung. Untuk peralatan jahit seperti pita-pita, renda, kancing, aplikasi, ga terlalu lengkap sih, ga selengkap Dunia Baru.

Sangat direkomendasikan untuk mencari perlengkapan kerajinan asesoris.
Alamat Jalan Asia Afrika (Dekat perempatan Otista) Bandung.