Sunday, November 27, 2011

Belajar Tie Dye Bersama @ambrosiachan

Hari Sabtu lalu kelas scrapbook di tobucil, berbeda dari kelas-kelas sebelumnya. Claudine Patricia, sang pengajar, nampak sibuk dengan panci dan kompor untuk pelajaran tie dye. Jangan heran dulu, bulan ini, kelas scrapbook eksplorasi kain untuk membuat fabric journal. Makanya tie dye jadi salah satu teknik yang diajarkan di sini. 



Tie dye tuh, menyenangkan banget. Bebas bereksplorasi dan penuh kejutan. Tekniknya juga mudah. Kain yang akan di tie dye diikat-ikat dengan karet sesuka hati. Ga ada kata salah dalam istilah tie dye. Dalam hal pewarnaannya juga mudah (terutama untuk pewarnaan satu warna). Siapkan air kira-kira 2-3 lt air. Didihkan, setelah itu masukan satu sendok teh pewarna kain (bisa di beli di toko-toko alat jahit) campurkan 2 sdm garam. Garam ini berfungsi membuat warna menempel lebih kuat di kain. Setelah itu masukkan kain yang sudah di ikat-ikat tadi kedalam rebusan warna. Rebus sekitar 15-20 menit. Setelah itu angkat kain, tiriskan lalu buka ikatannya. Bilas dengan air bersih. Lalu jemur (diangin-angin saja) sampai kering. Gampang kan?



Kebetulan salah satu peserta di kelas scrapbook ada yang ulang tahun Sabtu lalu. Setelah beres kelas, kami semua nampang di depan jemuran hasil tie dye bersama yang berulang tahun..


Berminat gabung di kelas scrapbook tobucil? follow terus infonya di @tobucil atau follow @ambrosiachan 

Tuesday, November 22, 2011

MUJI's Frames Coptic Binding Notebook

Menemukan bingkai foto mini ini di MUJI Jakarta (sebelum akhirnya MUJI buka di PVJ Bandung). Begitu melihatnya langsung membayangkan bahwa suatu saat nanti (aku beli frame ini sekitar setahun yang lalu :D) aku akan membuat notebook dengan sampul bingkai foto ini. Dan setahun kemudian ketika aku tiba-tiba pengen latihan bikin coptic binding notebook lagi, bingkai foto ini akhirnya menemukan tujuannya: menjadi notebook ini. 





Aku pakai fancy paper  250g, sisa-sisa potongan yang ada untuk bagian dalamnya. Foto di dalam bingkainya sendiri bisa di ganti-ganti sesuai keinginan. Notebook ini malah bisa di jadikan album foto sekalian dan di simpan dengan cara notebooknya dibiarkan terbuka jadi cover depan dan belakang berdiri sejajar.  Gimana seru kan? langsung pengen ke MUJI nyari bingkai foto berbagai macam ukuran... hehehehhe..

(model dalam bingkai foto: James Franco :D)


Trio Rio Coptic Binding Notebook

"Practice makes perfect". Tiba-tiba saja keinginan untuk melatih kembali teknik coptic binding muncul di tengah-tengah padatnya pekerjaan yang harus diselesaikan. Dorongan untuk berlatih ini ga bisa di tawar dan harus di jabanin biar ga penasaran dan mengganggu konsentrasi. Setelah membuat notebook-notebook ini akhirnya ketemu pemahaman baru dari teknik ini yang membuatku mendapat 'AHA! moment' hihihihhi... Selama ini saat mencoba coptic binding, aku selalu bingung dengan bagian paling pinggir yang ga terlihat 'terkepang' dengan benar. AHA moment ini adalah ketika akhirnya menemukan jawaban dari kebingunganku selama ini. 


Notebook yang tengah yang kubuat dengan memanfaatkan kalender mini bergambar foto-foto San Francisco ini adalah yang pertama kubuat dari latihan kali ini. Dan kalau diperhatikan, bagian pinggirnya masih sedikit kacau. Sementara yang dibuat dari disket dan bingkai foto, setelah menemukan cara untuk mengepang bagian pinggir-pinggirnya. Coptic  binding menjadi teknik penting yang harus aku kuasai kalau aku mau mendalami teknik-teknik lain dalam book binding. Banyak teknik lain yang dasarnya menggunakan coptic binding ini.

Wednesday, November 16, 2011

Tempat Kartu Nama Batik (Koleksi Terakhir)


Setelah teronggok sekian lama dari model pertama yang aku buat, akhirnya aku menyelesaikan semua kaleng-kaleng untuk tempat kartu nama ini. Ternyata kaleng yang aku punya jumlahnya tinggal 27 saja. Makanya aku bikin 14 motif (masing-masing 2 pcs ada juga yang hanya 1pcs) untuk tempat kartu nama ini. Aku belum tentu bisa menemukan kaleng-kalengnya lagi jika tempat kartu nama ini udah habis. Jadi buruan, siapa cepat dia dapat.




Katalog lengkapnya ada di sini. Yang tertarik silahkan kirim pilihannya via email: vitarlenology@yahoo.com IDR. 40.000/pcs (belum termasuk ongkos kirim)

Pocketbook Seri: Tokyo Connection


Buku saku ini dibuat dengan semangat kolaborasi antara dua sahabat: aku yang sangat gemar membuat notebook & Ismail Reza yang arsitek, penggemar berat musik  progresif rock, fotografer amatir berselera cihuy dan cenderung fetis. Dan di rilis pertama kali di acara Craft Carnival, Yogjakarta, Oktober, 2011. Ada dua puluh foto dalam seri ini.

Foto-foto hitam putih jepretan kamera analog di buku saku ini adalah visual diary Ismail Reza ketika melancong ke tokyo tahun 2011. Aku langsung membayangkan betapa indahnya jika foto-foto sahabatnya ini menjadi sampul untuk salah satu seri buku saku buatannya. Persahabatan dan keinginan berkarya bersama, melahirkan buku saku seri tokyo yang ada di hadapanmu.



Bumbu-bumbu yang diperlukan:
Sedikit fetisisme, perjalanan seminggu ke tokyo, kamera analog, scan film resolusi tinggi, kertas buku, printer laser color edisi isi ulang, keterampilan menjilid dan tentunya semangat DIY.
Foto-foto jepretan ismail reza
Desain dan pengerjaan oleh vitarlenology 

Yang tertarik silahkan cek katalog onlinenya di sini
Bisa didapatkan pula di Tobucil & Klabs dan Cendramata Selasar Sunaryo Bandung.

oktober.2011


Monday, November 14, 2011

#ceritabendabenda Barongsay Putih Dalam Mimpiku

Tanpa sengaja aku menemukan barongsay putih ini di sebuah toko souvenir di daerah Clark Quay, Singapore, setahun yang lalu. Saat itu malam terakhir dari perjalanan menjadi backpacker keliling Asia Tenggara selama 3 minggu. Begitu melihatnya aku langsung tertegun, karena barongsay itu bener-bener mirip dengan barongsay yang pernah hadir dalam mimpiku. Mimpi yang tidak pernah bisa aku lupa di suatu masa di mana aku sedang berjuang mengatasi rasa kehilangan yang dalam karena ditinggal bapakku. Aku pernah menulis sebuah cerpen yang gelap dan berat tentang mimpi barongsay putih ini dan dimuat di ON/OFF no. 27/III/2004 dengan judul Bapak Dalam Tidurku.  Bertahun-tahun kemudian setelah rasa kehilangan itu berhasil kuatasi, aku justru bertemu lagi dengan barongsay putih ini.  Tentu saja aku langsung membelinya dan menggantungkannya di ruang kerjaku, sesekali aku memainkannya. Ternyata barongsay seperti ini memang dijual sebagai souvenir dan warnanya juga macem-macem ga cuma putih. Namun buatku yang putih ini menjadi salah satu tanda dari perjalanan hidupku yang absurd tapi menyenangkan  heheheheh..

Friday, November 4, 2011

Your Magic Quote Passport Wallet

Membuat Magic Quote passport wallet ini sebenernya ga sengaja. Ceritanya temenku minta dibuatin tempat passport yang modelnya kaya Magic Quote Notebook dan pengen warna merah. Ternyata bahan merah yang kutemukan lebih tipis dari pada yang aku pakai. Akhirnya modifikasi pun terjadi. Aku bikin dengan model wallet notebook untuk tempat passport ini. Eh ternyata hasilnya lumayan meski ga sesuai dengan model yang diinginkan temenku, tapi tanpa sengaja aku malah dapet variasi model untuk tempat passport ini. 


Dompet passport ini terdiri dari: Dompet + pocket book + sisipan kantong untuk menyimpan berkas-berkas perjalanan. Ukurannya dompet ini sebesar passport hanya lebih tebal. Merahnya oke kan buat hadiah natal.. yang berminat email aku aja ke: vitarlenology@gmail.com

Organizer Rajutan


Ini adalah organizer rajutan, pesanan seorang teman. Sebenernya temanku itu perlu selipan-selipan yang banyak di organizernya dan notebooknya tipis aja. Makanya aku bikin model organizer dengan resleting dan sistem notebook isi ulang. Oya, rajutannya Mayang yang merajut, heheheh sementara ini aku ga berani megang rajutan, takut ga bisa berenti dan menelantarkan pekerjaan yang lain :D
Benang rajut aku pakai benang tipi yang ada di tobucil





Wednesday, November 2, 2011

Menjadi Kecil Itu Pilihan

Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja
Berbagi pengalaman mengelola Tobucil & Klabs 

Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.'

Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah usaha sudah berlangsung sepuluh tahun dan tetap memilih jadi kecil, hal ini tidak lagi jadi pilihan yang mudah.

Dalam menjalankan usaha, waktu akan membawa kita pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama (tobucil dua tahun pertama) adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Usaha yang kita bangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kongsi yang bubarlah, modal habis keuntungan belum juga nampak, mulai bosan karena usaha seperti jalan di tempat, tuntutan kebutuhan pragmatis (apalagi bagi yang sudah berkeluarga), jika tak tahan dengan tempaannya, ya kelaut aja. Usaha bubar jalan dan mungkin malah bikin kapok seumur-umur. Sementara jika berhasil menjalani semua tempaan itu, usaha kita akan naik tingkat. Kita akan menemukan formula untuk bertahan hidup dan bukan hanya itu saja, pintu-pintu menuju kesempatan yang lebih besar tiba-tiba terbuka lebar. Tiba-tiba segalanya jadi mudah, segalanya jadi mungkin dan kita merasa mampu menjalankan segalanya (padahal baru lulus tingkat satu doang). Seperti anak yang baru duduk di bangku kuliah dan merasa tahu banyak hal. Cobaannya bukan lagi hal-hal yang sulit, tapi cobaan datang dalam bentuk tawaran-tawaran yang menggiurkan.

Dari pengalaman menjalankan tobucil ini adalah fase yang justru sangat berbahaya. kalau tidak hati-hati dalam memilih dan mengambil kesempatan, resikonya adalah kehilangan fokus. Semangat yang muncul biasanya adalah semangat aji mumpung: 'mumpung ada kesempatan bla bla bla..' Kesalahan yang seringkali dilakukan pada fase ini adalah kita seringkali lupa mengukur diri. Seperti orang yang puasa hanya menahan lapar dan haus. Ketika waktu berbuka puasa tiba, segala makanan dan minuman yang ada masuk mulut. Akibatnya kekenyangan dan malah sakit perut. Kita yang baru menapaki anak tangga kedua, seringkali ingin buru-buru loncat lima anak tangga sekaligus, tanpa menyadari bahwa langkah yang paling lebar yang bisa kita lakukan hanya untuk melewati dua anak tangga sekaligus, bukan lima.

Dalam hal ini, aku termasuk yang percaya apa yang diperoleh dengan cara cepat, akan mudah lepas atau hilang, tapi apa yang diperoleh dengan susah payah, akan tahan lebih lama. Pada titik ini, sebenarnya kita akan dihadapkan pada pilihan menjadi besar dengan segera (besar secara revolusioner) atau menjadi besar sesuai dengan kecepatan alami  (evolutif)? Dua-duanya mengandung resiko. Ketika memilih menjadi cepat dengan segera, banyak hal dalam diri kita harus mengalami revolusi, termasuk orang-orang yang mendukung usaha kita. Pertanyaannya: sanggupkah kita? sanggupkah mereka? apa dampaknya jika revolusi itu harus terjadi? Selanjutnya baca di sini

Tuesday, November 1, 2011

No Matter How Cold The Winter, There's a Springtime Ahead

Sederas apapun hujannya, pasti ada redanya
Setinggi apapun banjirnya, pasti ada surutnya
Sedingin apapun cuacanya, pasti ada hangatnya
Seburuk apapun badainya, pasti ada cerahnya
Segundah apapun hatinya, pasti ada damainya

Selamat datang November,

salam hangat dari aceh 56
-vitarlenology-

Foto-foto dari Vitarlenology's Flickr Collection yang ini dan ini
Judul di ambil dari penggalan lagunya Pearl Jam "Thumbing My Way"


#ceritabendabenda Hadiah-hadiah Dari Yogja


Selama kunjunganku ke Yogja lalu, aku mendapat banyak hadiah dari teman-teman baikku. Selain itu aku juga mendapatkan benda-benda buruan yang di Bandung sulit aku dapatkan.

Agus Suwage memberiku buku Still Crazy After All These Years dan Illuminance (katalog pamerannya). WUAAAAAA aku seneng banget terutama sama buku Still Crazy. Buku setebal hampir 700 halaman ini berisi perjalanan kekaryaan Agus Suwage selama 50th. Di desain dengan sangat baik oleh Hendricus dari Artnivora (salah satu desainer grafis yang kukagumi). Makasih banyak ya pak:)

Iwan Effendi memberiku buku puisi yang merupakan kolaborasi Iwan dan istri tercintanya, Ria. Sebenarnya buku puisi ini adalah katalog pameran lukisannya Iwan di Singapura, tapi Iwan membuat katalognya berbeda dari katalog kebanyakan. Aku suka karya-karyanya Iwan, mengingatkanku pada imajinasinya Shaun Tan tapi dengan warna-warna yang lebih tegas dan kuat. Beribu-ribu terima kasih loh.. untuk membuat kunjunganku ke Yogja kali ini terasa guyub dan hangat dengan persahabatan :)

Adalah Ojan, crafter yang kukagumi dari Yogja. Ojan memberiku buku pattern yang berisi pattern-pattern ciptaannya. Ceritanya Ojan  mengikuti project 31 hari menulis. Alih-alih menulis panjang, Ojan membuat pattern dan memberi puisi-puisi pendek di setiap patternnya. Lalu dia membukukannya dan mencetaknya beberapa saja, salah satunya dia berikan padaku.. Aku merasa mendapat kehormatan. Thanks ya Jan :)

Adalah Ajeng Sitoresmi, pemilik Poyeng Knit Shop Yogja yang setahun lalu belajar merajut dari seorang teman yang pernah belajar merajut di tobucil. Ajeng mengaku, menemukan momentumnya setelah belajar merajut dan membuatnya untuk mendalami dunia rajut merajut sampai membuka toko juga tempat ngumpul buat komunitas merajut di Yogja. Ajeng memberiku buku yang dia tulis tentang rajut merajut itu kepadaku, karena dia merasa tobucil memberikan pijakan pertama yang mengantarkannya pada dunia rajut merajut.. Duh Ajeng aku jadi terharu.. selamat bereksplorasi dengan rajutan-rajutanmu ya..:)

Ria memberiku postcard-postcard Papermoon. Sebagian juga untuk proyek kolaborasi dengan vitarlenology untuk membuatkan notebook buat papermoon. Mendengar cerita tentang Papermoon pada mulanya membuatku mengagumi semangat dan militansinya. Aku yakin selama bisa terus konsisten, masa depan nan cerah seceria Ria menanti di depan sana, aku selalu berdoa untuk itu.. terima kasih untuk hangatnya persahabatanmu Ria.. :)

Artika Maya. Selama ini kami bertegur sapa di blog dan tidak menyangka bahwa apa yang kami bagi di blog ternyata punya pengaruh dalam hidup kami masing-masing. Saat Craft Carnival lalu, kami akhirnya bertatap muka. Artika memberikan buku terbitan penerbit tempat Artika bekerja dan yang mengharukan Artika memberiku kain ulos. Aku menerimanya sebagai tanda persahabatan yang tulus. Terima kasih banyak Artika, senang sekali bisa menjadi sahabatmu.. :) 



Nah yang ini sudah masuk ke bagian barang buruan. Batik lusuh yang mengingatkanku pada Jane dan Yu Sing sebagai penggemar batik lusuh.Toples jadul, karena ga ada tutupnya jadi di jual murah banget oleh mbah-mbah penjualnya, lalu cangkir, mangkok dan wadah kaleng ini duhhh...bener-bener ga bisa menahan diri. Pengennya membeli lebih banyak lagi tapi ini juga bawanya udah lumayan repot heheheh.. ya sisakan untuk kunjugan berikutnya saja.. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...