Search This Blog

Loading...

Monday, October 31, 2011

Kebahagiaan Sederhana Bersama Akum dan Gendis

Yang sulung namanya Carkultera Wage Sae atau akrab dipanggil Akum duduk di bangku SMA kelas 1 yang adik namanya Gendis Genclang Hatena Wage Sae duduk di SD kelas 4. Dua kakak beradik yang selalu memberi rumah dan kehangatannya. Mereka berdua ini anak dari sahabatku, Titarubi dan Agus Suwage, satu dekade sudah persahabatan kami. Seumur Tobucil. Semoga diberikan umur panjang untuk merajut persahabatan pada dekade-dekade berikutnya.

Akum dan Gendis memanggilku "Tante Tarlen". Kunjungan ke Yogja kali ini adalah janji yang akhirnya ditepati setelah 1,5 th cuma janji-janji melulu mau nengokin mereka sejak kunjunganku yang terakhir. Bahagia rasanya bisa menyaksikan mereka tumbuh menjadi remaja dan anak yang "super cute" (sebutanku buat Gendis) dan "super funny" (sebutanku buat Akum). Mengingatkanku kembali saat pertama datang ke rumah mereka, Akum masih TK dan Gendis masih bayi beberapa bulan saja. Banyak kisah, banyak cerita bersama, mengisi jalinan persahabatan kami. Bukan kisah-kisah yang heroik, sederhana saja, namun selalu membuatku merasa penuh.
Tulisan ini kupersembahkan sebagai rasa terima kasihku pada ponakan super cute dan super funnyku yang selama ini rela berbagi kamar beserta cerita juga kehangatannya bersama 'tante tarlen'. Terima kasih untuk selalu memberiku banyak sekali kebahagiaan sederhana yang menjadi bahan bakar inspirasiku. Dan untuk sahabatku Titarubi dan Agus Suwage yang selalu memberiku rumah untuk kembali juga persahabatannya selama ini. Aku menyayangi kalian, sangat.

Bertandang ke @LIRshop


Bertandang ke LIRshop adalah bagian dari daftar tempat yang perlu dikunjungi selama di Yogja. Bersama Ria yang setia menemaniku selama di Yogja, kami berkunjung ke sebuah rumah yang asri di kawasan Baciro, Yogja. 

Eh, ternyata buka..

Adalah Mira Asriningtyas yang mendirikan tempat ini. Di rumah sewaan yang harga sewanya bikin sirik (karena di Bandung ga mungkin menemukan rumah se asri ini dengan harga sewa yang setengah dari harga sewa tobucil), Mira menjadikan rumah ini bukan sekedar tempat untuk berjualan, jajan di cafe mungilnya, namun juga berkegiatan bersama.

Ruang depannya biasanya dipakai buat kegiatan workshop, termasuk juga ruang samping yang ada kursi-kursi ijonya itu..
Salah satu ruangan yang biasa dipakai untuk pameran kecil
Pembacaan puisi, diskusi bisa juga dilakukan di ruangan tengah..

Senang juga bisa menemukan ruang-ruang alternatif seperti ini yang dibangun dengan semangat kemandirian dan idealisme. Semoga nafasnya bisa panjang sehingga bisa menjadi ruang untuk lebih banyak orang belajar dan berbagi passion juga saling menulari semangat berkarya.
Para tamu, tak lupa mejeng dulu: Ria, Iwan dan Aku.
Mejeng di samping meja belajar yang bikin ngiler.. hihihihih..




Yogya Silver Pada Suatu Waktu

Tanpa direncanakan, aku dan Ria mampir ke Yogja Silver di seberang es krim Tip Top. Sebuah toko yang menjual perhiasan dari perak yang berdiri sejak jaman kolonial mungkin sekitar tahun 1930-an. Sekarang toko ini terlihat sederhana dibandingkan  toko-toko lain di sekitarnya, namun sisa kejayaannya di masa lalu masih tersisa.

Kami; aku dan Ria sempat berbincang dengan tante pemilik toko. Sejak suaminya meninggal dan tidak ada pegawai lain yang membantunya, tante menjaga sendiri tokonya. Dia bilang bahwa tokonya ini tidak seramai dulu. Usaha ini tidak lagi bisa jadi andalan, masa jayanya sudah berlalu. Rupanya, toko ini termasuk toko yang dimiliki oleh pengusaha perak penting di Yogja dan Kota Gede, karena tante menjelaskan, dulu toko ini hanya bisa dibandingkan dengan toko perak terbesar di Kota Gede dan salah satu toko souvenir besar (bukan Mirota) di daerah Jeron Benteng. Dari ceritanya aku bisa menduga bahwa toko ini pastinya termasuk yang paling jaya pada masanya. Tante bilang, sekarang orang tidak lagi terlalu meminati perhiasan perak, apalagi perak bakar. Sementara perak-perak yang dijual oleh toko ini masih mempertahankan desain-desain klasik dengan kualitas yang terjaga. Untuk bertahan hidup, tante mengandalkan pembeli yang kebanyakan turis-turis Belanda yang justru mencari desain-desain yang masih klasik. Perak-perak di sini dijual dengan harga per gram sekitar 50rb. Untuk bingkai foto berukuran kecil yang beratnya 50gr, harganya bisa sampai 2,5jt.

Tertarik sama cerminnya.. aku suka banget cermin model begini..
Tante pemilik Yogja Silver dan Ria
Sepintas kita mungkin akan bilang: "Gila mahal banget!", tapi menurutku itu harga yang realistis. Dengan kualitas perak dan desain yang baik, belum lagi craftmanship para pembuatnya, justru harga jadi wajar dan malah terlalu murah. Dalam hati aku berharap, toko-toko seperti ini bisa tertahan lebih lama dari gempuran zaman. Semoga ketika lebih banyak lagi orang kembali menghargai craftmanship, toko-toko seperti ini bisa menemukan kembali nafasnya untuk hidup lebih lama lagi. Semoga.

Nyatronin Studio Papermoon Puppet Theatre

Tentunya, tulisan-tulisan laporan perjalanan ke Yogjakarta kemarin tidak akan lengkap tanpa menceritakan studio sekaligus rumah juragannya Papermoon Puppet Theatre, Ria dan Iwan yang langsung bikin sirik. Sebuah rumah berhalaman luas di daerah Langensuryo, Jeron Benteng, Yogja ini nampak teduh oleh pohon kersen yang tumbuh membentuk kanopi.

Nyonyah pemilik rumah yang selalu ceria..


Di studionya Papermoon, Octo dan kawan-kawan sedang mempersiapkan garapan baru untuk Papermoon. Puppet yang baru setengah jadi bergelantungan di studio

Nah-nah lemari kaca itu, isinya aneka puppet ada yang dibikin Papermoon ada juga koleksi dari berbagai negara, bikin sirik lah pokoknya, sengaja di foto dari jauh aja biar ga pada ngiler.. hehehehe..


Ini adalah meja kerjanya nyonyah, meriah full cerah ceria seperti nyonyahnya. Ga akan bosen deh memperhatikan setiap jengkalnya, apalagi banyak sekali benda-benda yang membuat ngiler secara otomatis.. hihihihih..

Salah beberapanya adalah mainan-mainan kaleng ini yang tersebar di setiap penjuru rumah.. bahkan TV Grundig jadul, berubah jadi lemari display.. keren kan..


Ini juga nih yang bikin super ngiler, meja kursinya cuteeeeeeeeee banget. Dan aku juga suka sekali dengan lemari kaca ini...
Apalagi koleksi koper-kopernya haduuuuuuuuuhhhhhhhhhh ampunnn.. bikin betah.. Masih ada foto-foto lainnya di album flickrku, intip aja langsung ya..

Yang penasaran sama pementasan-pementasannya Papermoon Puppet Theatre jangan lupa kunjungi blognya ya..Papermoon Puppet Theatre

Sunday, October 30, 2011

Perjalanan Kuliner Yogja Bersama @riapapermoon dan @EFND_iwan

Adalah Ria dan Iwan dari Papermoon Puppet Theatre yang begitu semangat menemani hari-hariku di Yogja. Biasanya setelah Akum dan Gendis (akan aku ceritakan di postingan berbeda) pergi sekolah, aku pergi ke tempat Ria dan Iwan dan mengeksplor Yogja yang selama ini hanya kulalui sepintas kilas saja.  Tentu saja tak terlewatkan adalah kuliner Yogja. 
Dimulai dengan buah kersen matang di halaman rumah dan studio papermoon theatre
.. Lalu nyemplung menikmati hidangan ayam goreng jawa ala mbah Cemplung di daerah Gunung Semplu, Madukismo..
Tentunya bersama mbake..

tak ketinggalan resep warisan kolonial penyegar dahaga Yogja yang super panas..

Segarnya Es Krim Tip Top di Jl. Mangkubumi Yogja..


Sebenernya ini bangunan kolonial, sayang interiornya udah di ubah ke gaya 80-an..

Dan perjalanan kuliner Yogja ini belum lengkap rasanya kalau belum menjajal 'brongkos' Warung Ijo di bawah jembatan kali Krasak, Tempel, Yogja. Bermotor bersama Leo, Octo, Elia, Ria dan Iwan, menyusuri persawahan, kebun jagung, kebun tembakau, menikmatai cerahnya langit merapi demi Brongkos yang menurut Iwan brongkos warung ijo ini adalah pucak dari peradaban brongkos hahahahah.. Mak Nyussss...



.. dan tentu saja aku tergiur dengan keler/toplesnya.. warna ijonya sungguh ga nahan.. the real vintage..

Jeng Ria, nampak sangat serius dengan hidangannya...

Dan aku, Elia dan Iwan memandanginya ...

Sampai jumpa di perjalanan kuliner berikutnya..  matur nuwun sanget loh jeng ria dan mas iwan.. kalo ke Bandung, perjalanan kuliner berikutnya menanti kalian berdua..big hugs >:D<

Oya, foto-foto lebih lengkapnya ada di sini

Hangatnya Craft Carnival


Tanggal 22-23 Oktober 2011 di Bentara Budaya, Yogjakarta ada perhelatan yang sangat-sangat menarik. Di gagas oleh Magic Fingers Syndicate dan diberi judul 'Craft Carnival', craft fair yang tujuannya mengumpulkan crafter Yogja dan sekitarnya. Aku dan notebook-notebook vitarlenology dengan penuh semangat berkereta api dari Bandung menuju Yogja untuk bergabung di acara ini. Berangkat dari Bandung Jumat, 21 Oktober 2011 dengan menggunakan kereta pagi, Pk. 08.00 sampai di Yogja Pk. 16.00 sore dengan membawa sekoper penuh notebook, satu tas notebook-notebook yang mau diselesaikan di kereta dan ransel berisi baju dan perlengkapan pribadi. Lumayan 8 jam perjalanan kulewati tanpa bosan, karena aku sengaja membawa notebook-notebook yang belum di binding, biar aku ada kerjaan di kereta. Seperti biasa aku tinggal di rumah sahabatku Titarubi dan Agus Suwage di daerah Minggiran dan langsung berkangen-kangenan dengan dua putri mereka tersayang: Akum dan Gendis. Tanpa terasa chit chat sama mba Tita dan pak Agus,  waktu menunjukkan pukul 4 dini hari, WUAAAAA... tidur sebentar, Pk. 8 pagi buru-buru bangun dan bersiap-siap menuju Bentara Budaya, Yogja.


Sabtu pagi di Yogja, cuaca bener-bener bikin meleleh. Hujan yang masih tertahan, belum bisa menumpahkan tangisnya, karena 22 Oktober ini bertepatan dengan ulang tahun kota Yogjakarta yang ke 251 tahun dan Sabtu malamnya akan ada pawai di Malioboro dengan judul Yogja Java Carnival. Sekali lagi hujan diminta bersabar dan mengalah, karena matahari perlu tampil prima mendukung acara-acara kota Yogja di hari sabtu ini. Alhasil, aku yang kurang tidur, kepanasan  tak kuasa menahan godaan minuman-minuman dingin yang terus menerus menggelontor menghilangkan dahaga dan penat di hari yang super duper panassssssss... (akibatnya sekarang setelah kembali ke Bandung, el meler kembali menyiksa).






Meski baru pertama kali diselenggarakan, Craft Carnival ini digarap dengan persiapan dengan baik oleh Lucia Berta, Lois dari Stoberi Hitam dan kawan-kawan. Hari pertama pengunjung tidak sebanyak hari kedua, namun jumlah pengunjung tidak berpengaruh pada kehangatan dan suasana santai di halaman Bentara Budaya Yogja ini. Ada sekitar 30 meja yang diisi oleh crafter-crafter dari Yogja, Solo, Bandung dan Jakarta. Barang-barangnya juga cukup beragam. Ga hanya handmade, tapi baju-baju, mainan-mainan, stiker vintage meramaikan Craft Carnival yang pertama ini.

Stars and Rabbit, keren banget!
Ojan sedang memberi workshop
Ojan dan Ojantonya bikin workshop juga loh, Hello Bleu juga trus ada live musiknya juga dan aku langsung jatuh cinta sama Star and Rabbit, kereeeeeeeee banget!!!! pengen deh ngundang buat Crafty Days tahun depan, mau ga ya kira-kira mereka..

Putri Santoso, Tarlen, Sari Sulistyo (Ami-Abi), Ria Papermoon, Lucia Berta
Aku dan Artika Maya, akhirnya ketemu juga..
Bersama nona-nona cantik dari Hello Bleu, Kiki dan Iid
Ratu Craft Carnival dan Ratu Pasar Kutu

Terima kasih banyak kepada teman-teman semua, senang sekali bisa bergabung dalam hangatnya Craft Carnival pertama, semoga ada craft carnival berikutnya yang lebih meriah. Akhir pekan yang menyenangkan bersama teman-teman Yogja...:)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...