Tuesday, September 27, 2011

Notebook Isi Ulang Seri @wawbaw X @vitarlenology 1.0




Ini adalah model terbaru dari notebook yang aku buat. Karena banyak permintaan untuk membuat notebook yang bisa di isi ulang, aku coba membuat model yang bisa diganti-ganti isinya dengan mengadapdasi Midori Traveller's Notebook. Aku memberi nama untuk model baru ini "notebook isi ulang". Model ini terdiri dari cover dan isi.  Seri awal dari notebook isi ulang ini adalah kolaborasi lanjutanku dengan wawbaw. Covernya bergambar avatar pilihan wawbaw. Isinya aku bikin seperti model pocketbook dengan ukuran yang lebih besar dan lebih tipis. Bahannya terbuat dari book paper.

Aku membuat tiga macam isi untuk sementara ini: kotak-kotak, garis-garis dan polos. Jadi teman-teman bisa memilih isinya mau polos semua, kotak & garis atau campur, bebas aja sesuai dengan kebutuhan.

Notebook isi ulang seri wawbaw X vitarlenology 1.0 ini ada dua ukuran custom: Kecil (13x16c m) Besar (16x 20 cm). Jangan kawatir juga, karena aku menyediakan isi ulangnya.

Nantikan seri lainnya dari Notebook isi ulang ini dengan standar A6 dan A5.

Tour de Toko Stationery di Singapura

Ini adalah postingan yang tertunda-tunda dari perjalanan 'melarikan diri ke Singapura'. Toko-toko ini sengaja aku dan Claudine cari, karena kami berdua adalah penggila stationery. Karena sibuk dengan kaki lecet, kegiatan foto-foto jadi susah dilakukan karena sibuk bergulat dengan plester di kaki.. :D Berikut daftar toko-toko yang aku datengin:


Woods in the Books

foto diambil dari flickrnya woods in the books

Toko ini terletak di 58 Club Street, seberangnya kuil besar di Chinatown, di deretan pertokoan dengan bangunan lama yang berwarna-warni. Yang menarik dari Woods in the Books, toko ini khusus menjual buku cerita anak-anak. Bagi pecinta bacaan anak, wajib hukumnya datang ke toko ini.


Selain buku bacaan anak-anak, merchandise juga di jual di sini. Postcard dari cover-cover vintagenya Penguin Books, kaleng-kaleng vintage (bener-bener bikin ngiler) dan barang-barang vintage lainnya. Sepertinya Woods in the Books ini ada hubungannya dengan Birds & Co. dan Books Acctually. Ada ruang belakang yang menjual barang-barang lawasan yang juga di jual di toko-toko yang aku sebutin tadi.
Mr. Scotty the maskot


Yang unik di toko ini adalah Mr. Scotty, anjing penjaga yang selalu stand by di deket meja kasir. Bisa dibilang dia maskotnya Woods in the Books.  Di sini aku dapet notebook dengan kutipan dari karyanya Vladimir Nobokov, 'Lolita' yang dibikin oleh Birds & Co. (langsung terbayang Jeremy Irons di film itu :D) Selain itu juga, interiornya cukup sederhana tapi manis. Sambil nunggu Claudine belanja, aku malah sempet ketiduran di kursi yang disediakan di sini hehehehe..


Tentang Woods in the Books buka aja websitenya:
http://www.woodsinthebooks.sg/




Birds & Co. 
Foto diambil dari sini
No. 8 Grange Road, Cathay Cineleisure Orchad
Hal yang paling mencolok dari Birds & Co. adalah nuansa kayu pinus yang cukup mendominasi. Toko yang terletak di dalam mall  ini agak tersembunyi tapi sangat layak untuk dicari sampai ketemu. Buku-buku yang dijual di sini ga banyak. Sepertinya Birds & Co. lebih menjual merchandise dan stationery lawasan, termasuk kaleng, gelas belimbing dengan motif bunga-bunga (biasanya gelas-gelas ini ditemukan di warteg sebelum tahun 2000), botol-botol minuman juga.


Di sini aku dapet penggaris bambu made in England. Rak yang dipakai di sini dibuat dari bekas kotak buah dan minuman yang di tempel di tembok. Sayangnya interior seperti ini kurang cocok di terapkan di tobucil karena barang tobucil banyak banget. Tentang Birds & Co. bisa di buka di sini:
http://hellobooksactually.blogspot.com/2010/08/birds-co-store.html


Foto di ambil dari sini
Books Actually
No. 9 Yong Siak Street

Foto diambil dari sini


Penasaran banget sama Books Actually. Selama ini aku ngeliatnya cuma di blognya atau di flickrnya aja. Selain toko buku, BA juga sering bikin kegiatan diskusi literatur.  Nyari tempatnya buat turis macam aku ternyata lumayan susah. Akhirnya sempet nyangkut di tempat ngopi nyari WiFi dan search di google map petanya.


Buku-buku yang dijual di sini lebih banyak novel-novel dan tentu saja barang-barang vintage lawasan termasuk kamera polaroid. Di ruang belakangnya ada bagian yang tidak terlalu luas dan biasa dipakai untuk acara diskusi.  Di sini aku dapet notebook simple dan postcard dengan foto Hunter S. Thopmson, salah satu penulis favoritku. Oya, kalau Woods in the Books maskotnya Mr. Scotty, Books Actually punya maskot kucing super cute yang mondar mandir di area kasir. Tentang Books Actually bisa dilihat di sini: http://hellobooksactually.blogspot.com/

Bagian tengahnya tampak ramai dan meriah oleh barang-barang vintage  bikin ngiler aja. 
Foto diambil dari sini


Tea Cosy
Plaza Singapura, 68 Orchard Road #05-10 (beside Spotlight)
Setelah kalap belanja di Spotlight dan Daisho, eh di seberangnya ternyata ada toko yang tampak sangat menarik, namanya Tea Cosy. Toko di Plaza Singapura ini menjual pernak-pernik berbentuk malaikat sesuai dengan taglinenya: 10.000 angels. Selain pernak-pernik malaikat, Tea Cosy juga jadi tempat yang enak buat rehat, sambil ngopi dan nyemil. Aku naksir furniture yang ada di toko ini terutama kursi-kursinya yang bergaya 'jengki' dan juga kain-kain yang dijadiin pelapis furniturenya. Tentang Tea Cosy ada si sini http://www.teacosy.com.sg/Welcome.html


Claudine bergaya di depan kasir Tea Cosy
Spotlight 
Plaza Singapore, 68 Orchard Road #05



Spotlight adalah supermarket perlengkapan hobi yang sepertinya cukup lengkap di Singapore. Di sini aku kegirangan nemu Fiskar Everywhere Puch yang bulet dan kotak, Fiskar rounded corner punch, Fiskar berbentuk bolpen untuk melipat kertas dan banyak sekali kain-kain bagus di sini tapi sayang sekali harganya mahal sekali per meternya. Aku juga menemukan  benang dalam kaleng dari Gutermann & Co. Tentu saja yang menjadi penting buatku adalah  kalengnya hahahahah... Spotlight bisa di cek di sini: http://www.spotlight.com.sg/


Daisho Singapore
Plaza Singapore, 68 Orchard Road #05
Aku suka sekali Daisho Singapore, lebih murah dari pada Daisho Indonesia semua barang harganya 2 SGD alias 14rb rupiah saja. Sementara Daisho di PVJ Bandung IDR 22.500 lumayan kan bedanya. Menurutku Daisho ini wajib di datengin setiap ada kesempatan ke Singapura.


Toko lain yang juga aku datangi:
Typo
Shop B1-54/61 Wisma Atria Shopping Center, 435 Orchard Road,
Sepertinya ini cabang dari Typo Australia. Banyak stationery keren di sini (sayang aku ga motret tokonya). Tapi aku dapet penggaris kayu panjangnya satu meter, cuma dilipet-lipet karena ada engselnya.


Smiggle
Plaza Singapura, Shop B1-02 68 Orchard Road
Label stationery dari Australia ini, produk-produknya sangat ABG sekali. Warna-warna yang mereka tampilkan juga warna-warna yang lumayan ngejreng: silver, fuschia, hijau, kuning, hitam. Aku dapet notebook keren di sini dan penggaris pendek yang modelnya cukup unik.


Papermarket 
Plaza Singapura B1-12 68 Orchard Road
Toko kertas dan peralatan scrapbook, mirip dengan Made With Love yang ada di Jakarta dan Bandung.


Kinokuniya 
Takashimaya, Orchard Road
Tentu saja Kinokuniya ga boleh di lewatkan. Salah satu tujuan utamaku ke Singapura juga sebenernya ke Kinokuniya nyari buku tentang Book Binding, yeahhhh surga banget karena buku-buku tentang book binding dan art journaling lumayan banyak, pengennya dibeli semua namun apa daya budget terbatas. 


Aku belum sempet ngubek-ngubek daerah Bras Basah. Aku sisakan untuk kunjungan berikutnya. 



Mari Mulai Mengatur Ide

foto by vitarlenology
Berbagi pengalaman dan suka dukanya membangun Tobucil & Klabs

Ketika memulai Tobucil, tahun 2001 lalu, aku memulainya dengan semangat, antusiasme dan ide-ide yang membludak. Belum selesai satu ide di jalankan, sudah muncul banyak ide yang lain. Rasanya ingin menjalankan semua ide-ide itu dalam satu waktu sekaligus.

Awalnya mengikuti perjalanan ide di saat memulai usaha, sangatlah menyenangkan dan menggairahkan.  Namun ketika guliran ide menjadi seperti bola salju yang kian membesar, aku menjadi kewalahan dan akhirnya terlibas olehnya. Aku tidak lagi bisa mengendalikan ide-ide itu, tapi ide-ide itulah yang mengendalikan aku.

Aku merasakan tanda-tanda  ketika aku  dikuasai oleh ide adalah ketika aku merasa kewalahan dengan ide-ide  itu sendiri. Terlalu banyak ide yang menggelinding, sampai-sampai aku ga tau ide mana dulu yang perlu di realisasikan.  Aku jadi kehilangan kemampuan untuk membuat skala prioritas, karena semua ide sangat menggoda dan menarik perhatian. Semua ide seperti minta di realisasikan dalam waktu yang bersamaan. Ide-ide itu seperti antrian orang-orang yang berebut  mendapatkan karcis masuk. Padahal ide sebenarnya bisa 'antri' dengan lebih tertib dan satu persatu mendapat tiket masuk. Akulah yang seharusnya mengatur antrian ide-ide itu melalui skala prioritas. Percayalah, ternyata ide itu bisa menunggu dengan sabar dan justru membutuhkan waktu untuk menjadi lebih matang.

***

Mengapa mengendalikan ide yang membludak itu menjadi penting dalam memulai sebuah usaha?  Mengacu pada pengalamanku sendiri, aku memulai tobucil dengan sumber daya yang sangat terbatas. Modalnya hanya semangat dan idealisme. keduanya sama abstraknya dengan ide. Waktu itu aku ga punya pengetahuan tata kelola atau pun ilmu bisnis sama sekali apalagi modal finansial yang mencukupi. Aku hanya mengandalkan intuisi dan sumber daya finansial yang sangat terbatas. lebih lanjut baca di sini

Saturday, September 17, 2011

@wawbaw Avatar Book 1.0 Versi Siap Saji :D






Beginilah bentuk final wawbaw Avatar Book 1.0. Dijilid dengan menggunakan coptic binding dengan cover yang disengaja tidak terlalu rapi.  Yang ini ternyata ukurannya sedikit lebih besar 6.5 x 5 cm. Avatar di cetak di atas kertas buku 70gr. Hanya dibuat 10 eksemplar saja. Avatar Book 1.0 ini berisi 280 avatar yang dibuat Ageng Purna Galih dalam kurun waktu Apil 2010 s.d Agustus 2011. Jumlah avatar akan terus bertambah. Buat temen-temen di Bandung yang pengen dibikinin avatar juga, besok bisa datang ke tobucil, mulai pk. 10.00 gratis loh..

Happy Wawbaw Days :)

Friday, September 16, 2011

Ngintip @wawbaw Avatarbook 1.0 Versi Setengah Matang

Masih cover dalam, belum dijilid dan diberi cover luar
Halaman dalam berisi avatar berukuran 1x1 cm

Sebelum besok diluncurkan edisi matengnya, mari kita intip dulu Wawbaw Avatarbook 1.0. Ini adalah buku supermini yang pertama kali aku buat. Ukurannya 4.5 X 5cm. Berisi 280 avatar yang pernah dibuat oleh Ageng Purna Galih alias Age Wawbaw. Aku dan Age membuat buku ini sebagai buku seri, karena avatar yang dibuat Age terus bertambah. Seperti biasa, Aku dan Age hanya membuat 10 copy saja untuk Avatar 1.0. Hasil akhirnya seperti apa? Mari kita lihat besok di acara Wawbaw Days 1.0.


@wawbaw Day 1.0 di @tobucil 17-18 September 2011


WAWBAW day 1.0

Sabtu, 17-18 September 2011
@Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
Pembukaan: Sabtu, 17 September 2011, Pk. 16.00 WIB

EXHIBITION
WAWBAWavatarbook
WAWBAWarchivalproducts
WAWBAWcolaboration
WAWBAWartefak

FREE WAWBAWavatar
WAWBAWauctionproducts
VITAMINart: WAWBAWseries

EXHIBITION &WAWBAWauctionproducts: 17-18 September 2011
FREE WAWBAWavatar: 18 September 2011 Pk. 11.00 s.d 14.00 WIB
VITAMINart 18 September 2011 Pk. 16.30 s.d 19.00 WIB

Acara ini hasil kolaborasi:



Thursday, September 15, 2011

'Melarikan Diri' Ke Singapura

Baik aku dan Claudine sepakat, ini bangunan 'ga banget deh!'
Ceritanya seminggu sebelum lebaran kemarin, aku dan Claudine 'melarikan diri' ke Singapura selama tiga hari. Tujuannya mencari referensi. Aku pribadi memang membutuhkan referensi mata maupun pustaka untuk mencari ide-ide segar dalam membuat notebook. Singapura menjadi pilihan karena 'cukup dekat' dan terjangkau dan sepengamatanku banyak stationery oke di sini. Ada penerbangan langsung dari Bandung dan harga tiketnya lumayan murah kalau beli pas promosi Air Asia. Sementara Claudine berniat mencari referensi tentang art journaling dan scarpbook.


Chinatown Singapura. Jujur aku lebih suka Chinatown glodok petak sembilan mangga dua.. lebih hidup ..

Selain itu, beberapa tante pelanggan tobucil bilang bahwa di Daisho Singapura, barangnya jauh lebih lengkap dari Daisho Bandung dan harganya lebih murah. Terakhir ke Singapura, tahun lalu aku bener-bener ga ada agenda belanja belinji. Lagi pula tahun lalu hanya semalam, itupun dalam kondisi sudah sangat lelah dan ingin segera pulang kembali ke Indonesia setelah tiga minggu keliling dari Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Singapura.

Rumah keluarga kelinci di Singapore Philatelic Museum dalam rangka pameran perangko tahun kelinci,.
Kunjungan tiga hari kemarin, memang sengaja agendanya blanja blinji dan pergi ke museum. Untuk menghemat, aku dan Claudine membeli Museum Pass untuk 3 hari kunjungan seharga 20 SGD. Ada 8 Museum yang bisa dikunjungi secara gratis dengan menggunakan museum pass ini (yang diwarnai orange itu yang aku kunjungi):


Tips lain yang bisa dilakukan untuk menghemat pengeluaran transportasi dan memaksimalkan anggaran belanja :D aku dan Claudine selama 3 hari beli RMT tourist pass 34 SGD.  Lumayan kan, bisa bolak balik menggunakan RMT selama 3 hari tanpa perlu bayar lagi. Kalau kartu RMT passnya kita kembalikan setelah selesai dipergunakan, petugas tiket RMT Singapura akan mengembalikan uang kita sebesar 10 SGD.

RMT Station Bugis
 Singapore tempat yang cukup nyaman buat jalan kaki, tapi aura ketergesaannya ternyata lebih besar daripada New York City. Ga tau kenapa, tiga hari di Singapura, setiap kali jalan rasanya kok terburu-buru, kurang santai. Alhasil, udah pake sepatu yang paling enak buat jalanpun, tetep aja lecet. Kebalikkannya di NYC, dua minggu pertama sebelum hapal rute subway dan paham arah, aku kerjanya nyasar dan harus jalan kaki kemana-mana bisa sampai 20 blok sampai kaki rasanya mau putus. Tapi kakiku ga pernah lecet karena kebanyakan jalan. Mungkin karena lebih santai dan dinikmati.  Selama di Singapura, aku tuh udah pake sepatu yang paling nyaman buat dipake (Camper kurang nyaman gimana lagi coba!). Karena ga terpikir bakalan lecet kaki, aku lupa bekal sendal jepit. Padahal di hari ketiga aku terpaksa beli sendal jepit, karena ga mungkin pake sepatu dengan kondisi lecet di telapak kaki. Jadi, teman-temanku sekalian, ada baiknya bekal sendal jepit kesayanganmu. Dia bisa jadi penyelamat, dikala telapak kaki penuh dengan tempelan plester karena lecet. Akibat lecet ini, aku jadi ga terlalu semangat foto-foto karena sibuk dengan urusan lecet :D

Ruang bersamanya Tree in Lodge Green Hostel

Aku dan Claudine menginap di Tree in Lodge Green Hostel di Bugis Street. Per malam 29 SGD (sudah termasuk deposit 5 SGD), dengan kondisi kamar dorm 16 tempat tidur dan masing-masing dapet loker. Harga tadi udah termasuk sarapan pagi dan free internet. Aku suka hostel ini, dibanding hostel yang aku tempati tahun lalu di daerah Clark Quay. Resepsionisnya akrab dan hostelnya cukup ramah lingkungan. Hanya satu blok dari stasiun RMT Bugis. Bagiku penting untuk memilih hostel dekat dengan stasiun RMT, karena akan mudah nantinya ketika harus ke Changi Airport.

Claudine & Tarlen
Pada postingan berikutnya aku akan menceritakan kunjunganku ke toko-toko buku & stationery keren. 


Tuesday, September 13, 2011

Cerita Benda-benda #1: Jam Meja & Kamera Canon FTb


Aku ingin memulai cerita baru, cerita tentang benda-benda. Ada di keseharianku, kuhadapi setiap waktu, menjaga kenangan, memberi inspirasi bahkan membantu kerjaku. Namun sering kubiarkan mereka bungkam dari kisahnya.

Jam meja sailor boy. Hadiah ulang tahun dari ibuku. Waktu itu aku bilang padanya, aku ingin sekali-sekali diberi hadiah ulang tahun oleh ibuku. Permintaan itu membuat ibuku cukup bingung, hadiah apa yang sekiranya bisa membuatku suka (padahal apapun itu pasti aku terima dengan senang hati). Sampailah pilihan dia jatuh pada jam meja ini. Alasannya kenapa dia memberiku hadiah ulang tahun jam, dia ingin aku selalu ingat waktu dan jangan menyia-nyiakannya.

Kamera Canon FTb. Ini adalah jenis kamera yang terakhir dimiliki bapakku. Dia senang sekali memotret dan seingatku dia sangat fanatik pada Canon. Bapakku ga sempat menyaksikan lahir dan berkembangnya dunia digital seperti sekarang. Dia yang mengajari aku memotret dan membiarkan aku yang waktu itu duduk di kelas 4 SD memegang kamera Canon bukan yang ini, untuk memotret Konfrensi Asia Afrika di Bandung sekitar pertengahan tahun 80-an hihihihih.. seperempat abad lalu.  Sebelum meninggal dia pernah bilang padaku bahwa dia ingin aku menjaga kamera ini baik-baik. Aku udah jarang memakainya, meski kamera ini masih mulus. Lensa telenya bermerek Canon juga. Aku beli dari teman kuliahnya yang anak kos dan lagi butuh duit. Waktu itu aku beli dengan harga 175rb. Melihat beberapa teman kembali pada kamera seluloid, aku jadi ingin motret pakai kamera ini lagi.

Sunday, September 11, 2011

Reversible Shoulder Bag

Beberapa hari sebelum lebaran, Fika dari Pekanbaru minta dibuatin tas bolak-balik ini. Berhubung toko kain udah pada tutup dan aku harus pergi beberapa hari sampai menjelang lebaran, jadi baru aku bereskan setelah lebaran. Sepintas modelnya mirip dengan hobo bag yang biasa aku bikin, tapi kerena talinya terlepas dan bisa diikat, polanya tentu saja berbeda. Dan ini pertama kali aku bikin model tas seperti ini. Lumayan seru juga. Bahannya terdiri dari dua macam: denim untuk kain warna biru dan katun bunga-bunga merah, tutorialnya akan segera menyusul ya...


Wednesday, September 7, 2011

Dari Kelas Foto Cerita Tobucil & Klabs Angkatan I

Slideshow 'My Little Corner of The World', foto cerita karya Tarlen
 soundtrack dinyanyikan oleh Yo La Tengo 
Ruang kerjaku, duniaku. Barang siapa ingin mengenalku, kenalilah ruang kerjaku. Sepertinya ungkapan itu cocok untuk menggambarkan betapa besar arti sebuah ruang kerja dalam hidupku. Berjuta ide dan gagasan bisa hidup di dalam ruang kerjaku, tanpa takut salah dan gagal, karena ruang kerjaku selalu memberiku kesempatan untuk coba dan terus mencoba. Tidak besar, kecil saja, tapi ketika menyelami kekecilannya, kau akan temukan keluasan serta kebesaran ide yang sederhana dan kebahagiaan yang bersahaja. Selamat datang di ruang kerjaku.
 Tarlen Handayani, Peserta Kelas Foto Cerita Tobucil Angkatan I
Cerita yang ingin kubagi pada teman-teman adalah pengalamanku mengikuti kelas foto cerita di Tobucil & Klabs angkatan I.  Kelas ini dipandu oleh Arum Tresnaningtyas Dayuputri, mantan fotografer KOMPAS yang sekarang sedang melanjutkan program master foto Jurnalistik  di Ateneo de Manila University, Filipina. Tujuan dari kelas ini setiap peserta membuat esai foto yang terdiri dari maksimal 20 frame. Tema bebas, lebih personal dan dekat dengan keseharian malah lebih baik. Disertai pula satu paragraf yang menjelaskan tema. Kedua puluh foto itu di akhir kelas, di print dan dipamerkan juga dibuat slideshownya untuk dipresentasikan pada khalayak.

Dari kiri: Danun, Jane, Tante Ina, Bu guru Arum, Tarlen, Vina dan Anin
Angkatan pertama latar belakang peserta cukup beragam. Ada ibu rumah tangga, mahasiswa, nenek yang masih aktif dan satu kelas maksimum 6 orang. Jane dan Vina misalnya, mereka membuat foto cerita tentang keseharian putra-putri mereka. Anin dan Danun, sebagai mahasiswa jurnalistik memilih tema dengan pendekatan 'human interst': bocah menjual cobek dan vokalis band underground sekaligus guru TK. Aku lebih mengeksplor sudut kerjaku yang penuh sesak itu. Sementara Tante Ina, nenek berusia 61th yang sangat energik itu, membuat foto cerita tentang kesehariannya sebagai reporter di surat kabar harian berbahasa mandarin, guru les bahasa mandarin, foto ceritanya menjadi favorit banyak orang. Foto-foto presentasi kelas foto cerita bisa di lihat di sini.

Maria el de Bario foto oleh vitarlenology. Lebih lengkap bisa di lihat album My Little Corner of The World
Oya, buat temen-temen yang berdomisili di Bandung yang tertarik untuk gabung di kelas foto cerita Angkatan II, pendaftarannya udah dibuka loh. Infonya bisa di lihat di sini.

Sebuah bukutentang ...

Adalah Jane dan Yu Sing yang ingin membuat catatan tentang putra tunggal mereka: Arga Kaleb P., catatan tentang bagaimana Arga tumbuh dan berkembang, catatan yang bisa diwariskan di kemudian hari.



Jane hobi scrapbooking. Ketika memintaku membuatkan 'bukutentang' ini, dia memberikan beberapa koleksi kertas motifnya untuk diselipkan di 'bukutentang', biar lebih colorful.



Aku seneng banget ngerjain notebook ini buat Jane dan Yu Sing. Membayangkan bahwa Arga beberapa tahun kemudian akan menerima catatan perjalanan hidupnya yang ditulis oleh kedua orang tuanya, pastinya akan jadi warisan yang berharga banget :)

Oya, pesanan serupa juga aku terima dari mas Wildan Abdillah yang ingin dibuatkan magicquote untuk membuat album foto keluarganya..

Pesanan-pesanan seperti ini yang membuatku merasa membuat notebook adalah bagian dari ibadah karena bisa ikut membahagiakan orang lain.. :)

Notebook Bersampul Kain Pola Ojanto Buat Claudine

 Puasa lalu, Claudine memintaku membuatkan notebook dari kain berpola dari Ojanto yang ia beli di Crafty Days Mei lalu. Karena Claudine  seorang scrap booker maka aku harus memperhitungkan 'kemangapa'n notebooknya kalo udah ditempel-tempel nanti. Makanya aku bikin iketannya dengan menggunakan gesper yang bisa di ulur tarik sesuai dengan kebutuhan.



 Mengingat notebook ini akan jadi scrapbook perjalanannya Claudine, maka aku bikinkan kantong-kantong juga di dalemnya, biar bisa dipakai untuk selipan-selipan selama perjalanan nanti.

Nanti kalau ketemu Odin (panggilanku buat Claudine) aku akan memotret bagaimana jadinya notebook ini setelah jadi scrapboook :)

Notebook Untuk Souvenir Pernikahan Feli dan Wedy


Beberapa bulan lalu mba Feli menghubungiku, minta dibuatkan notebook: covernya magic quote tapi tebalnya setebal pocketbook, untuk pernikahannya 20 Agustus lalu. Notebook berukuran A6 ini kemudian dimasukan ke dalam kantong blacu dengan sablonan inisial kedua mempelai. Mba Feli memberi waktu cukup untuk pengerjaan 250 pcs notebook, lumayan bisa dikerjain tanpa merasa diburu-buru.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...