Wednesday, July 13, 2011

Buku Harian Bernama @vitarlenololgy

Memulai sebuah catatan harian, rasanya seperti memulai sebuah pertemanan. Mula-mula masih canggung, tapi lama-lama bisa jujur, apa adanya. Bedanya buku harian tidak pernah  membuat kecewa atau berkhianat. Malahan segala macam kekecewaan bisa ditumpahkan disitu. Buku harian seperti ruang dimana diri bisa berhadap-hadapan dengan bagian diri yang lain yang selama ini tersembunyi/disembunyikan dan jarang diajak ngobrol. Dosen pengantar Psikologiku dulu (dimana aku mengulang 4 kali karena dia sebel sama aku yg dianggap kurang memperhatikan dia di kelas :D) pernah bilang, jiwa diibaratkan sebuah bejana yang terus menerus diisi. Jika bejana itu tidak mempunyai lubang untuk penyaluran, maka isinya akan luber, tumpah dan mengacaukan bagian-bagian diri yang lain. Lebih parah lagi, kalau bejana itu ga sanggup lagi menahan beban di dalamnya, dia bisa retak dan pecah. Bagiku, buku harian itu seperti saluran penting atau sebut saja keran yang bisa menyalurkan isi bejana jiwaku, biar ga luber dan tumpah. Hal-hal yang tidak dapat kukatakan pada manusia lain, perasaan-perasaan yang sulit kumengerti, coba kuuraikan lewat buku harianku, meski setelah diuraikan aku tetep ga ngerti, tapi minimal aku ngerti kenapa aku ga ngerti :D

Aku bisa menuliskannya dengan spontan dan penuh emosi pada buku harianku, apapun yang kurasakan. Dan setelah perasaan itu mereda, aku bisa memeriksa kembali perasaanku yg lalu. Menganalisanya, lalu menuliskan refleksi atas perasaan itu. Perasaan yang hanya disimpan dalam hati tanpa di tumpahkan atau diekspresikan pada medium seperti buku harian, hanya akan meninggalkan residu yang mengendap dalam diri dan jadi penyakit. Residu itu seperti air keruh yang teraduk dalam bejana, setelah tenang, endapan lumpurnya tinggal di bawah. Sementara menuliskan perasaan pada buku harian, itu seperti air keruh yang kemudian di kuras dari dalam bejana. Ketika bejana itu terisi kembali, bejana terbebas dari endapan, kalaupun ada dikit aja dan ga sampai berkerak.

Buku harianku adalah teman setiaku menelusuri relung-relung perasaan dan pikiranku. Dia membantuku menguraikan realitas yang kompleks berbaur dengan mimpi-mimpi absurd dan ganjil dan kejujuran yang seringkali sulit diterima. Aku meyakini, bahwa warisan yang paling berharga pada anak cucu adalah pemikiran-pemikiran generasi sebelumnya.Semua yang melekat dalam diriku,  bukan serta merta muncul begitu saja. Semua itu adalah kesinambungan dari generasi-generasi sebelumnya. Jika itu semua tercatat, akan mudah bagi generasi berikutnya untuk mengenali kait berkait yang membentuk identitas dirinya. 

If there's a book you really want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it. [Toni Morrison]

4 comments:

dweedy said...

Waahh... ternyata bukan cuma saya saja yang memiliki tumpukan buku harian :p

Uty said...

wow banyak banget mba, itu semuanya keisi penuh ya?

Tarlen Handayani said...

iya.. ada beberapa yg masih kosong, tapi hampir semua udah terisi penuh.. heheheh.. :)

puri and oline said...

Mbak Tarlen, kebalikannya dari aku, kadang buku harian terlalu sayang untuk ditulisi apa2 hihihi. termasuk koleksi notebook buatan Mbak Tarlen sebanyak 8 buah! masihh polosssss hihihihi....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...