Skip to main content

3 Alasan Mengapa Aku Belajar Menjahit


Pertanyaan menarik ini di ajukan oleh mba Dewi Citra untuk blognya, innocentia. Mba Dewi Citra bertanya pada banyak crafter pertanyaan yang sama: 3 Alasan mengapa perlu belajar menjahit? Jawabannya seru-seru loh.. intip aja di blognya ya.. 
Kamu sendiri, kira-kira apa alasan yang bikin kamu harus belajar menjahit?



Comments

gloriaputri said…
aku belajar menjahit karena tuntutan sekolah waktu itu ada pelajaran menjahit (tata busana) xixixixiix...tapi setelah setelahnya ternyata ada gunanya juga loo....minimal buat jahit kancing yang lepas...hehehhe
dweedy said…
Aku belajar menjahit karena gemes kalo ketukang jahit hasilnya gak sesuai harapan udah gitu mahalnya minta ampun :p
maya said…
baiklah mba tarlen, sbnrnya udah dr dulu pen jahit. oke, next month saya akan ikut kursus jahit, yippiee....
thank u mba :)
Saga Amelia said…
saya belajar mnjahit karena kuliahnya di jurusan tata busana. jadi harus bisa jahit hehe..
YNa said…
1. krn disuruh ibu (dulu waktu msh single), katanya bs jadi bekal berharga klo udh nikah :)
2. senang dgn craft, terutama tas. trus puas klo bs bikin sesuatu sendiri.
3. sapa tau bs jadi ladang bisnis hehe..
Sari Sulistiyo said…
mbak Tarlen..aku ada award untuk mbak,,semoga berkenan y mbak,,

oiy,,klo aku belajar menjahit supaya hasil sulaman percaku bisa usable (dijadiin barang2 yg bisa dipakai sprti tas, pouch, dll) beberapa patternnya juga aku belajar dr tutorialnya mbak Tarlen,,hihi,,makasiiyy ya mbak ;D

*big hugs
Mila@Rimbun said…
Hi mbak tarlen.. nice blog here. salam kenal dari malaysia
- I learned to sew when I was 13 years old, that was to save our hardearned money from paying others to sew our school uniform, and also baju raya :).Then sewing become my hobby.. love to sew so much
vita@kriyalea said…
like I said to Mba Citra :
mungkin alasan yangg paling mendekati lebih kepada
1. senang bisa berkarya sendiri
2. tidak puas dengan mass product.. :) and
3. I love the "warm feeling" ketika aku berhasil memberikan hadiah buatan tangan sendiri untuk orang2 yg kukenal dekat, orang2 yang spesial kusayang..
moshe things said…
Belajar menjahit soalnya menjahit jadi pelepas stress yang luar biasa. Serasa stressnya mengalir ke jarum jahit, menuju benang yang kemudian tertinggal di kain, menghasilkan sebuah hasil karya... Kalo stress menghasilkan sesuatu yg indah, berarti harus dikembangkan kan? :)

BTW Tarlen, aku ada award ya tuk Tarlen:
http://moshethings.blogspot.com/2011/05/inspiration-award.html
Tyka Ndutyke said…
aku blm bisa menjahit :(
kepengen belajar sih...
*sebatas 'kepengen' doang*

jadi untuk sementara, baru bisa crafting dengan jahit tangan (klo ada yg emg perlu dijahit).

http://ndutyke.tumblr.com/
maya said…
mba.. ada award untukumu dari diriku :)
cek disni:
http://artikamaya.blogspot.com/2011/05/award-is-coming.html

have a nice weekend mba tarlen :)
GRICIA said…
Mba..pengen bgt nih ke Tobucil T_T bikin di Jakarta dongggg!!!

JOIN MY GIVEAWAY: http://missgricia.blogspot.com/2011/05/very-first-giveaway.html

www.missgricia.blogspot.com

Popular posts from this blog

Hari #16: Cara Membuat Kantong 'Gehu' Kertas Dari Kertas Bekas

Tadi itu temenku telpon, "len, request dong.. bikinin tutorial cara bikin kantong gehunya tobucil.. temen nih pengen bikin, tapi lupa lagi caranya.." sebenarnya aku udah pernah bikin tutorial ini dalam bentuk ilustrasi yang dibikin sahabatku tanto, tapi ga ada salahnya aku bikin lagi khusus buat ramadhan tutorial project kali ini. Kantong gehu, begitulah aku dan teman-teman di tobucil menyebutnya. Karena kantong kertas macam ini biasanya dipakai buat bungkus gorengan (gehu,cireng, bala-bala, pisang, combro.. :D), tapi sejak awal tobucil berdiri, 2001, kantong kertas dari kertas bekas ini sudah dipakai untuk pengganti kantong kresek. Jadi teman-teman yang udah pernah berkunjung dan berbelanja di tobucil, pasti pernah bertemu dengan si kantong gehu ini. Caranya gampang banget.. Oya tutorial kali ini aku dibantu oleh Ipey dan Agus Rakasiwi sebagai model tanpa wajah..

Bahan yang dibutuhkan: kertas bekas ukuran bebas, lem kayu (lem putih).

1. Lipat kertas 1/4 dari ukuran keseluruh…

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. 
1 April 2015,  Disket Bekas Hari pertama dibuka dengan mendaur ulang disket bekas jadi notebook. Lumayan, temen-temen tau kalo aku pengumpul 'sampah' kaya begini jadi mereka suka buang sampah disket dengan mengirimkannya padaku makanya stok disket lumayan banyak😊 hayooo siapa yang belum pernah ngalamin ngetik dan di save di disket?
2 April 2015, Kardus Bekas Bir Notebook ini buat dari kardus bekas tempat bir corona. Aku suka dengan perpaduan warna kuning biru. Di bagian tengah ada pegangan untuk menjinjing. Tanpa mengurangi banyak bagian, akhirnya kardus bekas ini berubah jadi notebook yang cukup kuat.
3 April 2015, …

"Petra d/h Hosana" Tempat Berburu Manik-manik Murah di Bandung

Buat kamu yang di Bandung, yang bingung mencari di mana tempat mencari manik-manik: Jepang, kayu, kristal, dan perlengkapan jahit menjahit, ada tempat bernama Petra dulu bernama Hosana di Jalan Asia Afrika, hanya beberapa toko saja dari perempatan Jalan Asia Afrika dan Otista. Di Bandingkan dengan "Dunia Baru" di Otista (tunggu pembahasan berikutnya), Hosana lebih murah. Selain itu, cukup enak milih manik-manik dari berbagai jenis, karena pengaturannya yang di bikin seperti swalayan.

Selain itu, perlengkapan untuk kerajinan asesoris juga lumayan lengkap dan murah. Termasuk juga aneka tali untuk bikin kalung. Untuk peralatan jahit seperti pita-pita, renda, kancing, aplikasi, ga terlalu lengkap sih, ga selengkap Dunia Baru.

Sangat direkomendasikan untuk mencari perlengkapan kerajinan asesoris.
Alamat Jalan Asia Afrika (Dekat perempatan Otista) Bandung.