Skip to main content

#marchproject 22: Gudang Selatan, Rel Kereta Api dan Aceh 56


64. Gudang Selatan. Mungkin bagi sebagian orang, gudang selatan itu kaya rumah hantu karena seperti bangunan lama tak bertuan. Tapi karena aku lahir dan besar berhadapan dengan Gudang Selatan, bagiku bangunan tua di depan rumahku itu seperti gudang inspirasi yang ga bisa aku dapetin di tempat lain. Waktu kecil aku pernah melihat hantu di situ dan gudang selatan juga berarti hukuman, karena kalau nakal aku bisa di kurung di Gudang Selatan (meski itu tidak pernah terjadi). Agak besar, Gudang Selatan adalah cerita yang selalu menimbulkan rasa penasaran, jika ada kesempatan masuk ke dalamnya, aku dan teman-teman akan menelusuri ruang-ruang kosong yang dibangun Belanda sekitar tahun 1930-40an itu. Rel kereta di dalamnya, barak-barak kosong dan menggemakan suara, bermain di halaman Gudang Selatan, rasanya seperti kisah Lima Sekawan berpetualang di kastil-kastil Pulau Kirin. Aku pernah menuliskan pengalaman tinggal di daerah ini di sini dan di sini.


65. Rel Kereta Api. Rel buatku seperti garis cakrawala, semakin di telusuri ujungnya semakin menjauh. Rel kereta api adalah bagian penting dari hidupku, karena rumah tempat tinggalku sejak aku bayi sampai sekarang ada berhadapan dengan Rel kereta api (depan Gudang Selatan). Banyak cerita yang mewarnai hidupku, permainan masa kecil, berhubungan dengan Rel Kereta Api. Mungkin itu sebabnya aku lebih senang melakukan perjalanan dengan kereta api daripada bus atau mobil. Aku suka bunyinya. Aku suka rel kereta api saat basah tersiram hujan. Aku suka kesunyiannya tergilas roda kereta api di tengah malam yang pekat.


66. Aceh 56. Sejak tobucil pindah ke Jalan Aceh 56, aku merasa tempat ini membawa banyak sekali inspirasi dan energi positif. Terutama halamannya depannya. Pohon-pohon dan tanaman-tamanannya itu loh.. kalau lagi bosen, nongkrong aja di halaman deket kolam ikan, di bawah pohon rambutan sambil ngopi arabika.. mmm... Daerah di sekitar jalan Aceh (dari markas KODAM III/Siliwangi sampai Taman Pramuka) ini adalah ruang bermainku sejak aku kecil. Ketika tobucil pindah ke sini, rasanya seperti kembali ke tempat yang sangat akrab dan aku kenali.

Comments

maya said…
huaa... km pernah lihat hantu mba? aku juga... kuntilanak beneran lg melayang ria di atas pohon. untung mukanya gk sampe kliatan. klo nggak, pingsan dh gw =))
aku jg suka rel mba, bbrp thn masa kecilku kuhabiskan dgn bermain di rel. dan aku setuju rumah aceh 56 ini sungguh tentram. kapan2 aku maen ke sana y mba ;;)
iya waktu kecil aku pernah diliatin hantu beberapa kali.. trus bingung gitu itu tuh apa sih .. tapi makin ke sini ga dikasih liat, tapi di kasih denger dan ngerasa heheheh amit-amit deh kalo liat ga mau aku..males aja

ayo ayoo.. aku tunggu loh kunjungannya ke aceh 56.. ini rumah nyaman banget trus yang punya rumah baiiiiiiiiikkkkkk bangetttt orangnya.. senang berkebun..
maya said…
aku jg ogah lihat hantu mba, tp mrk kdg suka nylonong muncul. gk sopan.
asiik.. siipp mba, klo aku maen ke bandung, pasti ke sana deh.
tengkyu mba tarlen :)

Popular posts from this blog

Hari #16: Cara Membuat Kantong 'Gehu' Kertas Dari Kertas Bekas

Tadi itu temenku telpon, "len, request dong.. bikinin tutorial cara bikin kantong gehunya tobucil.. temen nih pengen bikin, tapi lupa lagi caranya.." sebenarnya aku udah pernah bikin tutorial ini dalam bentuk ilustrasi yang dibikin sahabatku tanto, tapi ga ada salahnya aku bikin lagi khusus buat ramadhan tutorial project kali ini. Kantong gehu, begitulah aku dan teman-teman di tobucil menyebutnya. Karena kantong kertas macam ini biasanya dipakai buat bungkus gorengan (gehu,cireng, bala-bala, pisang, combro.. :D), tapi sejak awal tobucil berdiri, 2001, kantong kertas dari kertas bekas ini sudah dipakai untuk pengganti kantong kresek. Jadi teman-teman yang udah pernah berkunjung dan berbelanja di tobucil, pasti pernah bertemu dengan si kantong gehu ini. Caranya gampang banget.. Oya tutorial kali ini aku dibantu oleh Ipey dan Agus Rakasiwi sebagai model tanpa wajah..

Bahan yang dibutuhkan: kertas bekas ukuran bebas, lem kayu (lem putih).

1. Lipat kertas 1/4 dari ukuran keseluruh…

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. 
1 April 2015,  Disket Bekas Hari pertama dibuka dengan mendaur ulang disket bekas jadi notebook. Lumayan, temen-temen tau kalo aku pengumpul 'sampah' kaya begini jadi mereka suka buang sampah disket dengan mengirimkannya padaku makanya stok disket lumayan banyak😊 hayooo siapa yang belum pernah ngalamin ngetik dan di save di disket?
2 April 2015, Kardus Bekas Bir Notebook ini buat dari kardus bekas tempat bir corona. Aku suka dengan perpaduan warna kuning biru. Di bagian tengah ada pegangan untuk menjinjing. Tanpa mengurangi banyak bagian, akhirnya kardus bekas ini berubah jadi notebook yang cukup kuat.
3 April 2015, …

"Petra d/h Hosana" Tempat Berburu Manik-manik Murah di Bandung

Buat kamu yang di Bandung, yang bingung mencari di mana tempat mencari manik-manik: Jepang, kayu, kristal, dan perlengkapan jahit menjahit, ada tempat bernama Petra dulu bernama Hosana di Jalan Asia Afrika, hanya beberapa toko saja dari perempatan Jalan Asia Afrika dan Otista. Di Bandingkan dengan "Dunia Baru" di Otista (tunggu pembahasan berikutnya), Hosana lebih murah. Selain itu, cukup enak milih manik-manik dari berbagai jenis, karena pengaturannya yang di bikin seperti swalayan.

Selain itu, perlengkapan untuk kerajinan asesoris juga lumayan lengkap dan murah. Termasuk juga aneka tali untuk bikin kalung. Untuk peralatan jahit seperti pita-pita, renda, kancing, aplikasi, ga terlalu lengkap sih, ga selengkap Dunia Baru.

Sangat direkomendasikan untuk mencari perlengkapan kerajinan asesoris.
Alamat Jalan Asia Afrika (Dekat perempatan Otista) Bandung.