Wednesday, March 16, 2011

#marchproject 16: Tukang Penyewaan Komik Keliling, Tjoba Sendiri Dan Toto Chan

46. Waktu kecil di deket rumahku, hampir tiap sore ada tukang penyewaan komik keliling. Bapak-bapak dengan sepeda dan kotak wadah komik yang ikatkan di tempat boncengan sepeda. Komik yang disewakan sebenarnya ga ada buat anak-anak, semua komik 'dewasa' alias komik silat yang berseri-seri itu (baru setelah kelas 6 SD, setelah selesai EBTANAS, diem-diem aku mulai membaca buku silat karya Kho Ping Ho). Sebenarnya yang menginspirasiku sangat dari tukang penyewaan komik keliling adalah melakukan hal yang sama persis dengannya: membuat perpustakaan keliling dengan sepeda dan koleksi majalah BOBO dan buku-buku cerita yang aku punya. Bersama teman-teman bermainku di masa kecil, kami melakukan ide ini. Perpustakaan keliling ini kami namakan perpustakaan "LEO" karena suka sekali dengan 'Leo Singa Jenaka'. Buku-buku itu dibawa keliling naik sepeda, sebagian lagi di gelar di halaman rumahku dan dijaga bergiliran oleh teman-temanku. Biasanya jadwal buka sesudah pulang sekolah. Waktu itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Perpustakaan keliling ini berhenti karena banyak buku yg dipinjam trus tidak kembalikan dan juga seiring dengan kesibukan teman-temanku dengan urusan sekolah mereka masing-masing. Pengalaman ini sungguh membekas dan kurasa jadi modal penting ketika aku membangun dan mengembangkan tobucil. Kompas Minggu, pernah menulis soal ini, 7 Maret 2004 lalu.


47. Tjoba Sendiri. Sebuah buku lama tentang percobaan-percobaan sederhana, terbitan Penerbit Djambatan tahun 1950. Buku ini menjadi buku yang menemani kami (aku, dua orang kakakku, dan adikku) mengisi waktu bermain di masa kecil. Sesekali bapak membantu kami melakukan percobaan-percobaan itu. Salah satu percobaan favoritku adalah percobaan membuat pertunjukan film bayangan dengan menggunakan selembar kertas, lilin dan guntingan-guntingan bentuk binatang atau orang yang bisa digerak-gerakkan dengan menggunakan benang. Buku ini selalu membawa semangat  'jangan takut mencoba kalau gagal ulangi lagi.' Aku sudah menjadikannya ebook, bagi yang tertarik silahkan di unduh dari sini. Tautan


48. Toto Chan.  Membaca Toto Chan membuat aku ingin sekali punya kepala sekolah seperti Pak Kobayashi yang mau mendengar murid-muridnya dengan sabar dan memulai pelajaran sekolah dengan pelajaran yang disukai murid-muridnya. Buku ini terbit jauh sebelum bermunculannya sekolah alternatif di negeri ini. Juga sebelum sekolah alternatif menjadi pendidikan yang sangat mahal dan tidak terjangkau oleh banyak orang. Sekolah alternatif yang dialami Toto, sayangnya harus tutup karena Perang Dunia ke II. Tapi sebenarnya, apa yang diajarkan oleh Pak Kobayashi dan kesabaran ibu Toto dalam mengikuti rasa ingin tahu anaknya, adalah inspirasi yang bisa dijalankan oleh siapa saja yang ingin anak-anaknya tumbuh mengikuti keingintahuannya.

3 comments:

griya hobi fitriaa said...

saya juga suka banget dengan toto chan mba. buku saya bervi bhs indonesia. cerita keseharian anak-anak yg mungkin sudah kita lupakan seiring bertambahnya umur. kebetulan ibu saya seorang guru TK dan setiap hari saya mendengar ibu saya bercerita tentang tingkah anak muridnya yang lucu bahkan aneh ;D

Sari Sulistiyo said...

I love toto chan too mba,,
wah,,aku&suami jg pny mimpi bikin sekolah alternatif kyk di toto chan ;)

Nabastalya said...

Sama mbak,aq jg suka toto chan
bgitu banyak sekolah tapi ga bgtu banyak kepala sekolah kayak p'kobayashi ;) toto chan saat dewasa jg ada bukunya, lupa apa judulnya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...