Wednesday, December 28, 2011

#jajananyogja Cemilan Trubus Poncowinatan

Nah-nah.. siapa bisa menolak jajanan-jajanan ini? mie goreng jawa yang khas rasanya dan lumpia goreng isi ayam. Cemilan di toko Trubus jalan Poncowinatan 67 Yogja ini jadi langganan temanku. Sayangnya kemarin itu aku ga sempet berkunjung langsung ke tokonya. Kunjungan berikutnya akan kusempatkan..


Oleh-oleh Secangkir Kopi Dari Playa

Tanggal 18 sampai 22 Desember 2011 lalu, aku kembali ke Yogja dan Solo.  Tujuan utamanya karena ingin menonton pertunjukkannya Papermoon Puppet Theatre: Secangkir Kopi Dari Playa. Aku kebagian tiket tanggal 19 Desember Pk. 20.00 Wib. Ini catatanku dari pertunjukkan yang bener-bener berkesan buatku :)


Secangkir Kopi Dari Playa, Ketika Ideologi Kehilangan Rasa Cinta


Jarak dari Minggiran dan Kedai Kebun, kurang dari 500m, namun malam itu (19/12) Yogjakarta basah. Hujan tak kunjung berhenti, meski rintik tapi cukup kerap. Dari lima tiket yang sengaja kubeli, hanya dua saja yang ternyata terpakai. Tanpa Akum, Gendis memutuskan ikut meski terlihat ragu. Mas Sudi, mengantarkan aku dan Gendis ke Kedai Kebun, tempat berkumpul para penonton yang akan menonton pertunjukkan Papermoon Puppet TheatreSecangkir Kopi Dari Playa. Sesampai di Kedai Kebun, antusiasku bertambah karena bertemu teman-teman. Sementara mata Gendis mulai berkaca-kaca ketika menyadari dialah satu-satunya anak kecil di ruangan itu. "Tante aku mau pulang," katanya hampir terisak. Aku tidak bisa memaksanya tetap ikut menonton pertunjukkan ini. Ya sudah, aku hubungi mas Sudi untuk menjemput Gendis kembali. Tak lama malah bapaknya muncul. Rupanya Gendis mengsms bapaknya juga, minta di jemput.

Bapaknya Gendis datang dengan temannya, Lipi, seorang seniman perempuan dari Bangladesh. Lipi begitu antusias ketika diberi tahu soal pertunjukkan puppet yang akan kami tonton bersama. Ada tiga tiket menganggur di tanganku. Sepertinya sebelum pertunjukkan dimulai aku harus jadi 'calo' dulu nih. Aku akan merasa berdosa jika tiga tiket ini nganggur sia-sia di tanganku. Beberapa menit kemudian datanglah Dua orang yang ingin sekali menonton namun sudah kehabisan tiket. Penjaga tiket memberitahukan pada mereka bahwa aku masih punya tiga tiket menganggur. Akhirnya hanya satu tiket saja di tanganku. Berharap masih ada yang membutuhkannya sebelum waktu pertunjukkan di mulai.

Sampai Pk. 19.45 tak ada penonton susulan yang datang. Pemandu perjalanan bernama Wulang Sunu, meminta para penonton yang berjumlah 19 orang itu untuk masuk ke dalam bis, karena pertunjukkan bukan di Kedai Kebun, namun di sebuat tempat yang sangat dirahasiakan. Persis seperti perjalanan wisata, Sunu menjelaskan hal-hal menarik yang di lewati sepanjang jalan, termasuk warung angkringan favoritnya dengan menu sate usus kesukaannya. Mini bus membawa para penonton masuk ke jalan Imogiri dan berhenti di sebuah toko barang antik yang lebih menyerupai gudang. Rasanya agak janggal, mengunjungi toko barang antik di malam hari dengan penerangan lampu TL yang membuat barang-barang antik itu terlihat sangat tua dan muram. Salah satu pengelola toko datang menyambut tamu-tamu dan sibuk mempromosikan mebel-mebel antik yang ada di situ. Tidak ada tanda-tanda pertunjukkan akan di gelar di tempat itu. Sunu kemudian mengajak penonton untuk kembali menaiki bis. Masih ada barang antik lainnya yang bisa di tengok di gudang belakang, hanya saja jalan menuju ke gudang itu tergenang air. Aku perhatikan Lipi yang duduk di sebelahkan. Dia tampak penasaran dalam diamnya. selanjutnya baca di sini

'Sennheiser Headphone Caps' Rajutan Sendiri

Aku punya headphone favorit bermerk Sennheiser. Suaranya empuk dan ga bikin sakit di kuping. Headphoneku ini cukup awet udah hampir 4 tahun, kualitas suaranya tetep oke. Sayangnya busa penutupnya, rusak dan hancur termakan waktu. Sempet bingung juga, nyari headphone caps yang ukurannya sesuai kok kayanya susah ya. 





 Lalu aku teringat pada headphone caps buatannya Ajeng Sitoresmi dari Poyeng Knit. Kenapa ga dibikin kaya gitu aja?  untuk menggantu headphone caps punyaku, aku memilih benang 'handuk' atau chenil yang lembut kaya handuk. Cara merajutnya juga sederhana aku hanya perlu membuat bulatan sesuai dengan diameter headphone dengan menggunakan teknik crochet dan di naikin satu tingkat pake double crochet jadi berbentuk mangkuk bulat. Setelah itu di tepinya aku pasang tali karet sehingga bentuknya jadi kaya 'shower cap' yang buat mandi itu. Setelah itu baru deh di pasang di headphonenya. Kelebihannya headphone caps rajutanku ini bisa di copot-copot jadi bisa bikin beberapa dari benang-benang yang beda biar bisa ganti-ganti. Gampang kan!

model diperagakan perempuan sore

Sunday, December 25, 2011

#jajananbandung Toko Roti Duti

Nah ini salah satu tempat jajan favoritku terutama kalo tengah malem mendadak pengen jajan. Namanya Toko Roti Duti (singkatan dari garDU jaTi) lokasinya di Jl. Gardujati Bandung telp. 022-4209613 (deket belokan Gardujati dari arah Jl. Sudirman Bandung). Bukanya sore menjelang magrib sampai dini hari. Temenku yang bernama kang Ipe gemar sekali menculik aku buat nyari jajanan di tengah malam setelah dia beres deadline di surat kabar tempat dia kerja. Temen-temen yang lagi berlibur ke Bandung kalau pengen menikmati jajanan tengah malem bisa dateng ke sini.

Menu favoritku adalah bubur ayam spesial, rasanya seperti bubur mangga dua. Nikmat! dan susu murni. Seperti namanya, di sini juga banyak sekali aneka roti bakar maupun yang tidak di bakar :D Makanan-makanan ganjal perut di tengah malem lah. Aku suka sama kursi-kursinya, kaya duduk berhadap-hadapan di kereta api.

geng gong rujit teman kelayapan tengah malam: dayuputrie dan theo

LP97 Buku Puisi 'Handmade' Untuk Teman-teman Singapore

Sekitar Sebulan yang lalu aku mendapat email dari Karen Lim. Karen ini teman sahabatku, Tanto, ketika residensi di studio grafis STPI, Singapore. Karen meminta bantuanku membuat buku puisi seperti Magic Quote Notebook yang biasa aku bikin. Ada 19 puisi yang ditulis oleh 19 orang dan Karen salah satunya. Puisi-puisi ini dikirim kepadaku melalui email, lalu aku melayoutnya dan memproduksinya sebanyak 19 eks saja. Buku puisi ini diberi judul LP97 (jangan tanya artinya apa, aku juga ga tau, ga nanya :D).

Tadinya ke 19 buku ini akan dikirim melalui pos ke Singapore, tapi ongkirnya ternyata cukup mahal sekitar USD 45 atau (sekitar empat ratus ribu rupiahan). Kebetulan ada teman Karen yang datang ke Jakarta dan buku itu akhirnya dikirim ke Jakarta dan dibawa langsung ke Singapore. Aku seneng banget nih ngerjain buku kaya gini. Dari kecil aku punya cita-cita pengen bikin buku (yang ada isinya bukan cuma bikin buku kosong) hihihihi.. sebelum buku yang ku tulis sendiri, selesai, ya bikin dulu buat orang lain. Buku-buku yang dibikin terbatas kaya bukunya mas Apep So.lil.o.quy dan Bredel 1994. Menerbitkan buku adalah cita-citaku dan tobucil juga nih dan ini bagian dari uji coba, ngetes kesiapan teknis.. doakan saja semoga tahun depan si 'pikiran kecil' udah bisa menerbitkan buku-buku sendiri..:)


Undangan + Souvenir Pernikahan Nia dan Chandra

Awal Desember lalu aku mendapat kerhormatan untuk mendesain dan memproduksi undangan serta souvenir pernikahan teman baikku Nia dan Chandra. Karena Chandra adalah fotografer yang sedang menggeluti 360 derajat fotografi, aku mengusulkan untuk menggunakan foto-foto jepretan Chandra untuk undangan dan souvenirnya. Nia dan Chandra menyambut baik usulan ini. Dengan menggunakan printer  laser color FUji Xerox DocuPrint C1110B (yang belum aku service) aku mencetak undangan dan souvenir ini. Foto-fotonya sengaja di ubah jadi sephia color. Tujuannya untuk memaksimalkan hasil cetakannya sesuai dengan kondisi printer yang ada. Undangannya sendiri sangat sederhana. Seperti selembar foto dengan tulisan di bagian belakangnya. Ukurannya 19 X 9,5cm. Nia dan Chandra ingin undangannya minimalis dan efisien. Aku pilih foto bangunan SMUN 3 & 5 Bandung (karena Nia dan Chandra alumni SMUN 5) dan kota Bandung dari jendela menara mesjid Agung Bandung sebagai undangan. 
Sementara untuk souvenir bentuknya adalah pocketbook mini dengan cover menggunakan enam foto-foto jepretan Chandra yang juga aku ubah menjadi sephia color. Aku suka sekali mengerjakan undangan dan souvenir ini, selain karena ini untuk teman baikku aku juga merasa dengan budget yang dan alat yang sangat terbatas, tapi hasilnya bisa maksimal. Selain itu aku juga suka banget sama foto-fotonya Chandra ini. Dengan menggunakan foto-foto jepretan pengantin pria untuk undangan dan souvenirnya jadi terasa lebih personal. 

Selamat membangun hidup bersama ya Nia & Chandra :)
foto-foto jepretan Chandra Mirtamiharja yang lain bisa di intip di blognya: http://oceanpie.tumblr.com

Sedikit tips untuk temen-temen yang ingin membuat undangan pernikahan sendiri:

  • Undangan pernikahan itu ga harus mahal dan mewah karena yang penting pesannya sampai, karena undangan biasanya sekali baca trus dibuang.Jadi kalau bisa menggunakan budget minimal dengan hasil yang tidak kalah maksimal, kenapa tidak? 
  • Makin personal menurutku makin baik apalagi untuk pesta di bawah 300 undangan. 
  • Banyak hal di sekeliling kedua mempelai yang bisa jadi inspirasi untuk membuat undangan yang menarik. Misalnya: foto-foto masa kecil kedua mempelai, surat-surat cinta, foto-foto unik dari kedua mempelai atau salah satu. Menurutku foto-foto yang apa adanya ini jauh lebih menarik daripada foto pre wedding di studio untuk dijadikan undangan pernikahan yang unik dan DIY ( Do It Yourself) banget,
  • Cek alat-alat yang ada. Komputer dengan software grafis seperti Adobe Illustration/ Adobe In Design atau Corel Draw sudah cukup. Printer sebaiknya menggunakan printer laser karena hasilnya akan seperti cetakan. Bisa saja menggunakan printer inkjet, tapi hasilnya harus diberi dilapis dengan coating spray biar ga luntur. Coating Spray ini bisa juga diganti dengan menggunakan  pilox clear.
Semoga tipsnya berguna :)

Tuesday, December 6, 2011

#jajananbandung Ronde dan Kuo Tie Alkateri

Berhubung Bandung itu kota dengan segudang jajanan enak, aku akan berbagi jajananan-jajanan enak yang ada di Bandung. Mengiming-imingi biar temen-temen jadi pengen nyoba jajanan-jajanan Bandung. Ini adalah Kuo Tie dan Ronde di jalan Alkateri Bandung (belokan setelah kantor pos pusat seberang Alun-alun Bandung). Dua makanan ini sebenernya baru beberapa jenis jajanan yang ada di sepanjang jalan Alakateri yang rasanya enak-enak. Biasanya ada tukang baso tahu yang rasanya luar biasa lezat, tapi pas aku motret ini, baso tahunya lagi libur.

Kuo tie dan ronde moci ini warungnya baru buka Pk. 18.00 WIB. Jadi jangan ngarep bisa menemukannya di siang hari. Ronde Alkateri ini cukup terkenal, ada beberapa cabangnya di jalan Gardujati juga, tapi rasanya beda, terutama air jahenya. Di Alkateri ini yang jualan mamanya, sementara yang di Gardujati adalah anaknya. Dan menurutku ronde buatan mama Alkateri lebih enak dan ga terkalahkan.

Aku paling suka sama moci (atau onde bulet-buletnya itu) terutama yang besar, dalemnya berisi kacang. Kalau onde kecil ga ada isinya. Ronde Alkateri ini termasuk tempat jajanan favoritku apalagi malem-malem abis ujan. Belum lagi suasana warung ronde dengan iringan lagu-lagu dari radio siaran berbahasa mandarin, duhhh selalu ngangenin kalau lagi jauh dari Bandung..




Sunday, December 4, 2011

Simple Binding Batik Notebook Edisi Desember 2011

Batik emang ga pernah ada matinya. Aku ga bisa menahan godaan batik-batik yang indah dan beragam ini. Sebagai orang Indonesia aku sangat bangga dan sangat beruntung memiliki keragaman budaya yang satu ini. Rasanya bagi orang Indonesia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpisahkan juga. Itu sebabnya aku juga ga pernah bosan membuat simple binding dengan menggunakan koleksi kain batik yang aku punya. 




Seperti model simple binding yang sebelum-sebelumnya,  cover terbuat dari kain batik dan kain bercorak dengan tali kulit imitasi sebagai pengunci dan manik-manik kayu sebagai aksen. Isi 70 lembar fancy paper HVS warna 80 gr. Ukuran 10x15 cm harga @ Rp. 45.000 (belum termasuk ongkir). 



Yang tertarik, bisa lihat katalog onlinenya di toko onlinenya vitarlenology. Untuk pemesanan bisa email aku ke: vitarlenology@yahoo.com


Friday, December 2, 2011

Bredel 1994

Foto-foto oleh Adi Marsiela
Ketika pertama kali menjadi mahasiswi Jurnalistik Universitas Islam Bandung tahun 1994 (ketauan deh umurnya hihihihihi), senior-senior langsung mendoktrin mahasiswa baru dengan pembredelan tiga media: TEMPO, EDITOR dan DETIK. Waktu itu Orde Baru belum lagi tumbang dan jaringan internet belum juga menetas di Indonesia. Pers yang menyuarakan kebebasan berperdapat harus berhadapan dengan penguasa. Aku ingat, bagaimana aku pertama kali mendapatkan buku Bredel 1994 ini secara sembunyi-sembunyi: dibungkus kertas koran lusuh, disembunyikan baik-baik di dalam tas dan di baca diam-diam di dalam kamar. Sebelumnya ada berita, beberapa mahasiswa yang ketahuan membawa buku Bredel 1994 ini terpaksa masuk penjara. Buku ini mencatat Deklarasi Sirnagalih yang menjadi tonggak berdirinya Aliansi Jurnalis Independen.


Tujuh belas tahun kemudian, AJI Bandung memutuskan untuk menerbitkan kembali buku ini dan membuat edisi khusus untuk acara kongres AJI di Makassar, 1-3 Desember 2011 ini. Lima puluh eksemplar di bikin handmade olehku, sebelum edisi regularnya di terbitkan oleh AJI Bandung di mana aku termasuk sebagai salah satu anggotanya. 

Aku senang sekali bisa berkontribusi membuat 'Bredel 1994' edisi khusus ini. Selain isinya penting untuk mengingatkan independensi pers di tengah komando para pemilik modal yang bersekongkol dengan kekuasaan, buku ini juga menjadi buku yang wajib di baca oleh seluruh anggota AJI dan mahasiswa/i jurnalistik yang belajar tentang sejarah pers Indonesia (bukan promosi loh, ini beneran :D).

Tapi kalau tertarik dengan buku ini, silahkan menghubungi: ajibandung@yahoo.com 
atau cek informasinya di sini


Kehangatan Dalam Kesederhanaan Studio Akanoma

Sabtu, 26 November 2011 lalu; aku, Adi Marsiela dan Jessis datang ke acara open house studio arsitek yang karya dan prinsipnya dalam berkarya menginspirasiku: Studio Akanoma milik Yu Sing. Sebuah studio di tengah perkampungan di Jalan Tipar Timur Rt 04 RW 01, Desa Laksana Mekar, Padalarang, Bandung Barat. Studio yang desain oleh Yu Sing, Benyamin Narkan Baridah Mutmainah Peter AntoniusAnjar Primasetra Yopie Herdiansyah Wilfrid Nostud ini, menggunakan joglo sebagai konstruksi utama dan bambu sebagai material yang mendominasi bangunan.

Kacanya memanfaatkan bekas kaca mobil. Foto: Adi Marsiela

Lantai dua bangunan dipergunakan sebagai studio, dapur, ruang rapat. Sementara lantai dasar digunakan sebagai ruang seba guna yang bisa digunakan untuk aktivitas warga sekitar. Ada perpustakaan untuk warga juga loh. Nah foto pertama kaca depannya memanfaatkan bekas kaca mobil. Yu Sing bilang, pemanfaatan ini ga sengaja. Tadinya ia mau pakai fiber gelombang, tapi tanpa sengaja ia menemukan pengumpul bekas kaca mobil di daerah sekitar situ. Akhirnya dimanfaatkanlah untuk kaca bagian depan bangunan. Aku suka sekali dengan semangat 'Re-use'nya Yu Sing dalam bangunan-bangunan yang dia buat. 

Ini salah satu buktinya. Pemanfaatan keranjang plastik bekas untuk sekat sekaligus rak. Keren kan. Aku suka banget nih rak-rakan ini. sayangnya di tempat kerjaku atau di kamarku sudah terlalu penuh sehingga ide ini belum bisa diterapkan. Sudut ruangan lainnya yang tak kalah menarik dari Studio Akanoma yang membuat terasa hangat dan akrab adalah dapurnya yang seperti warung.  Pas aku lihat dapurnya, sumpah langsung pengen buka warung kopi hihihihi...



Hampir lupa, studio ini juga punya beberapa kamar buat penginapan loh. Seru banget lah! kapan-kapan bikin kegiatan bareng ah di Akanoma. Yang jelas, langsung merasa betah di sini, kebersahajaannya terasa hangat dan membuat setiap orang merasa di terima oleh penghuninya.

Di acara open house ini ada grup karinding dari warga sekitar komunitas patanjala pimpinan kang suta yang ikut memeriahkan suasana
bangunan samping itu deretan kamar penginapannya loh..

mejeng bareng Jessis di depan penginapannya

Lebih banyak foto ada di sini


Sunday, November 27, 2011

Belajar Tie Dye Bersama @ambrosiachan

Hari Sabtu lalu kelas scrapbook di tobucil, berbeda dari kelas-kelas sebelumnya. Claudine Patricia, sang pengajar, nampak sibuk dengan panci dan kompor untuk pelajaran tie dye. Jangan heran dulu, bulan ini, kelas scrapbook eksplorasi kain untuk membuat fabric journal. Makanya tie dye jadi salah satu teknik yang diajarkan di sini. 



Tie dye tuh, menyenangkan banget. Bebas bereksplorasi dan penuh kejutan. Tekniknya juga mudah. Kain yang akan di tie dye diikat-ikat dengan karet sesuka hati. Ga ada kata salah dalam istilah tie dye. Dalam hal pewarnaannya juga mudah (terutama untuk pewarnaan satu warna). Siapkan air kira-kira 2-3 lt air. Didihkan, setelah itu masukan satu sendok teh pewarna kain (bisa di beli di toko-toko alat jahit) campurkan 2 sdm garam. Garam ini berfungsi membuat warna menempel lebih kuat di kain. Setelah itu masukkan kain yang sudah di ikat-ikat tadi kedalam rebusan warna. Rebus sekitar 15-20 menit. Setelah itu angkat kain, tiriskan lalu buka ikatannya. Bilas dengan air bersih. Lalu jemur (diangin-angin saja) sampai kering. Gampang kan?



Kebetulan salah satu peserta di kelas scrapbook ada yang ulang tahun Sabtu lalu. Setelah beres kelas, kami semua nampang di depan jemuran hasil tie dye bersama yang berulang tahun..


Berminat gabung di kelas scrapbook tobucil? follow terus infonya di @tobucil atau follow @ambrosiachan 

Tuesday, November 22, 2011

MUJI's Frames Coptic Binding Notebook

Menemukan bingkai foto mini ini di MUJI Jakarta (sebelum akhirnya MUJI buka di PVJ Bandung). Begitu melihatnya langsung membayangkan bahwa suatu saat nanti (aku beli frame ini sekitar setahun yang lalu :D) aku akan membuat notebook dengan sampul bingkai foto ini. Dan setahun kemudian ketika aku tiba-tiba pengen latihan bikin coptic binding notebook lagi, bingkai foto ini akhirnya menemukan tujuannya: menjadi notebook ini. 





Aku pakai fancy paper  250g, sisa-sisa potongan yang ada untuk bagian dalamnya. Foto di dalam bingkainya sendiri bisa di ganti-ganti sesuai keinginan. Notebook ini malah bisa di jadikan album foto sekalian dan di simpan dengan cara notebooknya dibiarkan terbuka jadi cover depan dan belakang berdiri sejajar.  Gimana seru kan? langsung pengen ke MUJI nyari bingkai foto berbagai macam ukuran... hehehehhe..

(model dalam bingkai foto: James Franco :D)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...