Monday, November 29, 2010

Nostalgia Stationery Masa Kecil


Hal paling menyenangkan di masa kecil adalah ketika bapakku mengajak aku  dan adikku ke toko buku dan memperbolehkan kami memilih stationery yang kami inginkan. Dulu itu aku paling senang koleksi pensil dan penghapus aneka bentuk, selain koleksi kertas surat dan notebook yang lucu-lucu tentunya. Tak jarang, aku harus menabung dari uang jajan yang tidak banyak itu demi notebook atau kertas surat incaranku di toko buku yang dulu berderet di dekat pintu kereta api jalan Sunda Bandung. Hal yang menyenangkan dari mengkoleksi kertas surat adalah aku bisa tuker-tukeran dengan teman-temanku. Atau ketika aku punya notebook album kenangan, aku bisa meminta teman-temanku mengisinya biodata dan foto mereka sebagai kenang-kenangan. Sementara yang menyenangkan dari mengkoleksi pensil dan pengahapus adalah mengaturnya dalam 'kotak harta karun' berbentuk kaleng atau kotak bekas obat yang diberikan bapakku buat mainan dan memandang-mandanginya sambil mengamati gambar atau bentuk yang lucu-lucu pada pensil dan penghapus itu. Mau dipakai juga sayang, karena aku ga mau pensilku memendek atau penghapusku berubah bentuk. Oya, kebiasaan lain yang berhubungan dengan pensil adalah aku senang mencium-cium bau kayunya, waktu kecil aku senang memasukkan pensil ke hidung dan membiarkannya menggantung di hidung...(bisa sekalian buat ngupil.. hahahaha.)
  
Semua nostalgia koleksi stationery masa kecil ini muncul kembali setelah aku dan Mei, menemukan harta karun di toko alat tulis seberang Kota Kembang, Dalem Kaum, Bandung. Niat awalnya hanya ingin makan mie di Linggar Jati, trus teringat toko alat tulis satu-satunya di Dalem Kaum. Jadilah setelah makan mie, cek toko sebelah. Tadinya hanya ingin membeli stempel huruf, tapi kemudian menemukan stationery ini. Gile.. album kenangan, pensil berbentuk perman tongkat, pisau lipat yang dulu mbah kakungku pernah punya, bolpen pilot, langsung membuat aku dan Mei kalap dan membelinya. Stationery ini memanggil kembali semua hal-hal paling menyenangkan di masa kecilku dulu.



 Waktu ditanya: "Pak, ini (album kenangan) harganya berapa?." Si Bapak penjual nampak kebingungan, "Berapa ya?" dia malah balik bertanya. Album kenangan itu dibolak-balik olehnya sambil dibersihkan dari debu tebal yang menempel bertahun-tahun. Terlihat label harga yang masih tertempel 'Rp. 500'. "udah neng, seribu aja," akhirnya dia mengambil keputusan. Kami tidak protes, malah semangat memilih semua model dan gambar sampul. Barang langka nih, kapan lagi bisa menemukan yang seperti ini. Tulisan 'simfoni pribadi' dan 'trim's'nya itu loh benar-benar ga nahan..


 'Jadi teman-teman jangan lupa ya tulis kata kenanganmu dan juga cita-citamu di album kenanganku'

8 comments:

cecilliahidayat said...

yaoloooooo album simfoni pribadi :)) hahahahah aduh aku juga masih nyimpenin tuh tumpukan kertas surat...kapan2 kita tukeran yah mbak :D :D hihihi

vitarlenology said...

hihihihi... yang aku udah pada ilang euy.. tapi aku sempet bikin kertas surat sendiri aku photocopy dan gambarnya gambar tiger wong.. hahahahaha...

martha puri said...

mbaaaakk.. aku bnr2 baru lihat barang2 ituuu..

angki said...

ya ampuuuuun. hahahaha. bener2 harta karun! :)) itu sama ketika aku dan adikku ngaduk2 toko baju di jl braga :)) --bahagia :P

psst.. aku juga suka bau pensil kayu. mmmmh.. hahahaha.

griya hobi fitriaa said...

saya dulu juga suka koleksi penghapus yg bentuknya aneh2 dan tiap kenaikan kelas pasti tuker2an diary untuk diisi biodata2 dan kata2 kenangan..hihi ;D

ReBorn said...

ghahaha, sekarang udah jarang banget ya orang bilang trim's apalagi pake tanda kutip begitu. :)
info yang bagus. trim's ya. ghehehe.

MEI SULING said...

yahhh, beginilah kalau ibu-ibu banyak waktu lagi jalan-jalan.... :) mau ke kiri hayooo....ke kanan juga hayoooo.....alhasil gak bisa nyimpen duit ajaaaa.... :)

happy said...

kayaknya pernah punya tuh buku 'simfoni pribadi'... jadi inget waktu di SD nih...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...