Monday, February 1, 2016

Catatan Produksi: Menentukan Batas Waktu Pengerjaan

Mulai Januari, meski mulainya di detik-detik terakhir _ aku akan mencoba berbagi catatan tentang produksi dan seputar pengalaman menjadi seorang bookbinder yang memiliki brand 'vitarlenology.' Ini bukan berarti sietem produksiku lebih baik dari yang lain, bukan. Ini justru menjadi catatan buatku sendiri yang mungkin berguna buat orang lain, untuk saling belajar dan berbagi pengalaman sebagai seorang 'crafter' dan 'book binder'.


"Berapa lama ya perngerjaannya?" atau "Selesainya kapan ya mba?" pernyataan yang sangat lazim ditanyakan kosumen, ketika mereka memesan produk buatan kita. Dulu aku menjawabnya sesuai dengan waktu minimal yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Misalnya aku bisa selesaikan dua hari ya aku jawab dua hari, tiga hari, ya aku jawab tiga hari. Tapi ternyata jawaban ini buatku sungguh merepotkan. Bayangkan saja, jika ada konsumen pesan di hari senin, aku akan menjawab notebooknya akan selesai dikerjakan di hari kamis. Begitu juga ketika pesanan masuk di hari selasa, aku akan mengatakan pesanan bisa selesai di hari jumat, dan seterusnya.

Setelah dijalani, waktu pengerjaan seperti ini, sangat tidak efisien. Karena ini membuat aku mesti bolak balik hampir setiap hari ke tempat vendor produksi yang menyediakan alat produksi yang aku tidak miliki. Ibaratnya penetapan waktu pengerjaan seperti ini seperti 'mengecer' pekerjaan. Aku jadi kehilangan banyak waktu di jalan untuk bolak balik. Waktu yang semestinya bisa aku manfaatkan untuk yang lain. Dan jika aku ga bisa pergi aku biasanya meminta go-jek untuk mengantarkan bahan ke tempat vendor. Tentunya penetapan waktu pengerjaan seperti ini akan berdampak pada pemborosan biaya kurir go-jek.

Akhinya, mulai Januari ini, aku menetapkan batas waktu maksimal bagi para pemesan. Pertanyaan yang sama sekarang aku jawab dengan jawaban: "pengerjaan maksimal 7 hari, sabtu dan minggu tidak dihitung". Kenapa Sabtu dan Minggu tidak dihitung? karena itu adalah jadwalku libur produksi tapi pesanan bisa tetap masuk. Jadi jika ada konsumen memesan di hari rabu, itu artinya pesanan maksimal akan selesai di Jumat minggu depannya. Dengan jawaban seperti ini, aku bisa membuat jadwal ke tempat vendor dengan lebih efisien. Karena ada waktu untuk mengumpulkan pesanan terlebih dahulu. Misalnya aku mengumpulkan pesanan dari hari Sabtu sampai Selasa, pesanan empat hari bisa aku masukan ke vendor di Selasa sore dan biasanya akan selesai keesokan harinya. Sementara pesanan Rabu sampai  Jumat, bisa aku masukan vendor produksi Jumat sore dan selesai keesokan harinya. Waktu produksi seperti ini, justru memberiku keleluasaan dan efisiensi waktu serta biaya produksi. Keleluasaan ini yang membuat aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan lain di luar pesanan, riset dan pengembangan untuk desain baru dan tentu saja waktu untuk bersenang-senang :D

Menentukan waktu maksimal keuntungannya adalah konsumen sejak awal berharap pesanannya akan selesai di waktu maksimal yang sudah ditentukan. Ketika kita bisa menyelesaikannya lebih cepat, konsumen akan senang dan puas karena merasa dilayani dengan cepat. Selain itu, karena produk yang kita buat adalah buatan tangan kita sendiri, kadang di tengah-tengah waktu pengerjaan, tiba-tiba saja muncul gangguan, entah itu acara dadakan yang menyita waktu dan mengacaukan jadwal atau kita tiba-tiba sakit dan terpaksa harus berisitirahat dan tidak bisa mengerjakan pesanan pada hari itu.

Menentukan waktu maksimal membuat kita jadi punya cadangan waktu, meski ini bukan berarti menjadi alasan untuk bermalas-malasan dalam pengerjaannya. Semoga catatan produksi ini bermanfaat :)

31 Januari 2016

Saturday, September 12, 2015

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas


Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. 

1 April 2015,  Disket Bekas

Hari pertama dibuka dengan mendaur ulang disket bekas jadi notebook. Lumayan, temen-temen tau kalo aku pengumpul 'sampah' kaya begini jadi mereka suka buang sampah disket dengan mengirimkannya padaku makanya stok disket lumayan banyak😊 hayooo siapa yang belum pernah ngalamin ngetik dan di save di disket?


2 April 2015, Kardus Bekas Bir

Notebook ini buat dari kardus bekas tempat bir corona. Aku suka dengan perpaduan warna kuning biru. Di bagian tengah ada pegangan untuk menjinjing. Tanpa mengurangi banyak bagian, akhirnya kardus bekas ini berubah jadi notebook yang cukup kuat.


3 April 2015, CD Bekas

Akhirnya menemukan cara mudah mendaur ulang kepingan CD bekas. Aku jadikan#mechanic #binder cara menyatukan kepingan-kepingan itu cukup dengan menggunakan kenop besi dan memotong pinggirnya bisa menggunakan #cutterhanya saja jika menggunakan empat kepingan bentuknya akan lebih bujur sangkar. Binder yang aku buat ini ukurannya 17x19cm bisa jadi album foto instagram.


4 April 2015, Sampul Majalah Bekas

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan majalah bekas. Salah satunya menjadikannya sampul#handmadenotebook pertama kali mencobanya ketika temanku akan menikah dan minta dibuatkan souvenir. Temanku penggemar musik yang cukup 'hardcore'. Saat itu yg diminta temanku adalah membuat sampul untuk CD kompilasi lagu yg dibuat. Kebetulan aku sempat berlangganan majalah @rollingstone edisi US ketika masih ukuran lama (ukuran besar). Setelah percobaan beberapa kali akhirnya tercipta lipatan yg cocok untuk sampul notebook sekaligus selipan CD. Saat itu 200 pcs notebook tidak ada satupun yang sampulnya sama. Ketika perayaan pernikahan temanku tiba, tamu mengantri di meja tamu karena masing-masing sibuk pilih gambar sampul mana yang mau dibawa pulang tapi kalo sampul-sampul ini, aku aja yang bawa pulang.



5 April 2015, Karung Bekas Makanan Kucing

Karung plastik bekas makanan kucing, anjing atau karung beras, biasanya gambarnya lucu-lucu. Jangan buru-buru dibuang karena bisa dimanfaatkan kembali untuk jadi tas belanja, dompet dan tentu saja sampul notebook seperti yang aku buat ini. Satu karung bisa jadi 3 sampul notebook ukuran A5. Jangan lupa rendam dulu karungnya pake air sabun, biar bau isi karungnya hilang. Cara yang paling mudah untuk mengolah karung-karung ini adalah dengan menjahitnya 🐈🐩🐢 selamat mencoba.


6 April 2015, Kemasan Bekas Spare Part

Hari ini aku memanfaatkan kemasan 'spare part electronic' untuk membuat #minibook dan di dalam bekas kemasan ini bisa diisi benda-benda.


7 April 2015, Kemasan Bekas Hardware Komputer

Hari ini aku coba memanfaatkan kemasan bekas hard disk. Dus pengganjal ini biasanya bentuknya ga fleksibel karena di desain untuk menjaga agar hard disk 'tercengkram' dengan kuat ketika ada di dalam dus. Karena permukaan dus pengganjal tidak rata, untuk variasi aku tambah tali sebagai 'jemuran' yang bisa dipakai untuk menjepit kertas pesan, foto atau apapun. 


8 April 2015, Kemasan Bekas Intax Photo

Yang suka mainan instax photo (kamera polaroid versi mini) pasti punya kotak plastik hitam ini. Kotak ini adalah tempat lembaran-lembaran foto instax yang dimasukan ke dalam kamera. Jika lembaran-lembaran foto habis di pakai. Kotak ini jadi kosong dan seringkali menumpuk jadi sampah. Nah jangan buru-buru dibuang. Kita manfaatkan saja jadi sampul album foto instax yuk. Dengan teknik akordeon #bookbinding kotak ini bisa kita manfaatkan kembali.


9 April 2015, Bekas Lembar Program Pertunjukan

Hari ini menjawab tantangan dari @papermoonpuppet yang mengirimi aku sekardus #leaflet pertujukan mereka yang sudah lewat. Leaflet seperti ini biasanya dicetak dengan kualitas cetakan dan kertas yang bagus. Setelah mencoba-coba dengan berbagai lipatan, akhirnya dua bagian dari leaflet ini yang aku pilih jadi sampul. #handmadenotebookini akan segera jadi salah satu#merchandise kolaborasi.


10 April 2015, Amplop Bekas Paket

Hari ini giliran amplop bekas paket dari ebay. Cukup banyak amplop-amplop seperti ini di@tobucil karena sebagian alat-alat merajut yg dijual di #tobucil dibeli dari #ebay. Aku selalu tertarik dengan tempelan-tempelan yang ada di amplop, label alamat, barcode, cap dan coretan kode-kode dari jasa pengirimannya, belum lagi stiker cukai. Semua membuat amplop kuning gembung (karena ada bubble wrapnya) punya daya artistik yang khas. Amplop-amplop seperti inilah yang selalu menarik untukku jadikan sampul.


11 April 2015, Amplop Surat Bekas
Hari ini giliran amplop bekas paket dari ebay. Cukup banyak amplop-amplop seperti ini di@tobucil karena sebagian alat-alat merajut yg dijual di #tobucil dibeli dari #ebay. Aku selalu tertarik dengan tempelan-tempelan yang ada di amplop, label alamat, barcode, cap dan coretan kode-kode dari jasa pengirimannya, belum lagi stiker cukai. Semua membuat amplop kuning gembung (karena ada bubble wrapnya) punya daya artistik yang khas. Amplop-amplop seperti inilah yang selalu menarik untukku jadikan sampul.

12 April 2015, Kantong Bekas Belanja

Hari ini giliran tas kertas bekas belanjaan. Tas belanja ini biasanya dibuat dari kertas yang cukup tebal dan kuat. Dengan ukuran yang lumayan besar, memberi keleluasaan dalam memilih bagian mana yang paling menarik dan dilipat sesuai dengan ukuran yang diinginkan.


13 April 2015, Bungkus Bekas Kopi Aroma

Sebagai peminum kopi Aroma 'mokka arabika' aku punya banyak kantong kertas bekas pembungkus kopi Aroma dan kenapa tidak kumanfaatkan saja sebagai sampul #handmadenotebook buatku kopi Aroma bukan hanya teman setiap hari, tapi juga nilai-nilai bisnis Pak Widya, pemiliknya, menjadi nilai yang kuteladani dalam menjalani usaha. Selamat menjalani hari ini, semoga seninmu senikmat dan sehangat secangkir Aroma arabika.


14 April 2015, Kaset Bekas

Hari ini giliran kaset. Berhubung udah ga punya alat pemutarnya, jadi beberapa aku daur ulang aja.


15 April 2015, Gabus Botol 

Hari ini iseng mencoba membuat #minibook dari gabus bekas tutup botol anggur suka banget sama efek akordeonnya dan senang dengan perasaan iseng ketika membuatnya.


16 April 2015, Kantong Plastik Bekas Belanja

Hari ini giliran kantong plastik bekas belanjaan jadi sampul. Ada beberapa cara untuk membuat sampul dari kantong plastik ini tampak kaku dan rapi. Beberapa melakukannya dengan menyetrika beberapa rangkap kantong plastik. Namun cara ini punya dampak yang lain. Ketika kantong plastik dipanaskan, ada zat-zat berbahaya yang dilepaskan ke udara yang aku rasakan, kepalaku seringkali jadi pusing setelah menyetrika kantong plastik. Akhirnya aku memilih cara aman. Tidak perlu di setrika berangkap-rangkap, tapi cukup di beri lapisan pengeras, seperti kain keras. Jadi potong lapisan pengeras seukuran sampul, lalu bungkus dengan kantong plastik ini dan jahit tepinya. Cukup aman dan hasilnya lebih rapi daripada di setrika. 


17 April 2015, Bekas Foto Rontgen 

Hari ini memanfaatkan foto x-rays gigiku yang sudah tidak terpakai. 


18 April 2015, Majalah bekas + Plastik Bening Bekas
Hari ini giliran plastik bening yang pastinya ga bisa dihindari keberadaannya dalam keseharian kita. Dengan menggabungkan lembaran majalah bekas dan lipatan sederhana, plastik bening bekas dan majalah bekas ini bisa jadi sampul.

19 April 2015, Kotak Bekas Pizza

Pizza time! Aku paling suka mengumpulkan kotak bekas pizza. Suka dengan warna coklat dan ketebalannya pas buat sampul. Cukup berhati-hati juga makannya biar kotaknya ga kena minyak  dan bisa dipakai lagi :D



20 April 2015, Kemasan Tetra Pak Bekas

Karena di @tobuciljualan minuman kotak, sampah kemasan#tetrapak selalu masuk tempat sampah yang terpisah. Kadang ada teman-teman yg meminta kemasan #tetrapak ini untuk di daur ulang. Hari ini giliran aku yang mencoba menjadikannya#handmadenotebook Aku suka dengan warna perak lapisan alumunium juga efek garis bekas lipatan. Ketika dijahit jadi satu, efeknya jadi #vintage #industrial bingitz πŸ˜„ sengaja aku tambah #metalcharm #naturaluntuk mempertegas kesan industrialnya dan sekaligus kontras dengan bentuk burung dan pohon. Hal yang menyenangkan dari mendaur ulang kemasan tetrapak, satu sampul dengan tambahan saku dalam, bisa menghabiskan 5 kemasan tetrapak.


21 April 2015, Kemasan Bekas Detergen Cair

Bagi pengguna #liquiddetergent plastik kemasannya bisa disulap jadi #bindermechanic dengan dua kantong di bagian sampulnya. Plastik kemasan detergent cukup kuat dan tentunya sulit hancur secara alami juga bisa menyebabkan banjir jika menyumbat saluran air. Untuk membuat binder ini, dibutuhkan dua kemasan bekas. Caranya tinggal dicuci bersih, keringkan, kemudian masing-masing dipotong bagian atasnya sehingga membentuk amplop. Setelah itu, dua kantong di satukan bersama-sama pada saat menempelkan binder mechanic dengan menggunakan kenop besi. 


22 April 2015, Spanduk Vinyl Bekas

Selamat Hari Bumi 🌍 Di penghujung tantangan#22recyclednotebooks aku menutupnya dengan memanfaatkan spanduk bekas. Dari satu lembar spanduk bisa menghasilkan banyak loh. Dan caranya mudah, tidak perlu di jahit, cukup di lipat-lipat saja. Lipatan-lipatan itu bisa dikunci dengan kancing penutupnya sekaligus.


Lengkap sudah 22 hari menantang diri sendiri mendaur ulang sampah di sekitarku untuk jadi#handmadenotebook lumayan mengasah kepekaan terhadap beragam material dan keluar dari zona aman dalam berkarya. Sampai jumpa ditantangan selanjutnya


Monday, March 23, 2015

14 Hari Menjilid Dengan Cinta

Penting buatku, untuk terus menantang kemampuan diri sendiri terutama dalam hal keahlian jilid menjilid buku. Karena sudah memproklamirkan diri sebagai bookbinder, otomatis keahlian dan kemampuanku pun perlu terus menerus di asah. Adalah mba Indah Esjepe @esjepin yang membuat tantangan terbuka di instagram selama tanggal 1 Februari sampai 14 Februari 2015, untuk membuat apapun yang dicintai. Kesempatan ini tentu saja aku pergunakan untuk menjawab tantangan pada diri sendiri. Bisakah selama 14 hari aku membuat pola baru 'bookbinding' secara konsisten? Meski ada beberapa hari bolong karena mesti ke luar kota, aku tetap membayar tantangan itu dan menggenapinya  dengan 14 jenis pola baru 'bookbinding. Selama 14 hari ini aku banyak mengambil ide dari pola-pola 'embroidery' juga weaving (thanks to pinterest). Dan ternyata memindahkan motif-motif Yunani, geometris, oriental, ke dalam pola 'bookbinding' tidak semudah yang aku bayangkan. Banyak cara baru yang aku temukan untuk mengaplikasikan pola-pola ini. termasuk juga lebih mengenali lagi karakter bahan buat sampul yang sesuai dengan polanya. Hasilnya 14 pola berikut yang membuatku terus menerus mencari tantangan untuk mengasah kemampuan dan keahlianku dalam hal jilid-menjilid.


Hari #1 penasaran pengen nyobain motif kubus tiga dimensi ini, masih amburadul langkahnya karena urutannya lumayan rumit, mesti coba dan coba lagi sampai ketemu tahapan langkah jahitnya yg lebih sistematis.


Hari #2 adaptasi dari teknik sulam #guilloche #stitchdan sedikit variasi anyaman di bagian tengah.


Hari #3 nyobain pola yg keliatan gampang padahal ruwet kaya yg bikin 😝 tapi gara-gara nyoba pola ini jadi nemu 'yarn over' untuk diaplikasikan di #bookbinding



Hari #4 nyobain pola sulaman 'Herring Bone' untuk dijadikan pola #bookbinding dan dari satu pola ketika posisi beda, malah jadi bisa dua tampilan


Hari #5 Adaptasi #bookbinding dari salah satu motif sulaman india 'kamal kadai' dengan variasi anyaman.



Hari #6 menambahkan ceylon stitch (peruvian stitch atau knitting stitch) setelah dibongkar beberapa kali karena cari benang yang pas untuk efek rajutan pada punggung buku.



Hari #7 dasarnya dari #longstitch tapi dibikin selang-seling untuk membentuk motif bilik bambu


Hari #8 memperlancar 'yarn over' untuk pola-pola 'satu lubang rame-rame.. Salome' 😝😝 hahhaha makin lama makin tau triknya.



Hari #9 Adaptasi motif oriental.

Hari #10 adaptasi dari motif Yunani juga cina yang biasa dijadikan ornamen pinggiran (border), hari ini menemukan cara yang praktis, mudah dan lebih presisi untuk membuat pola lubang.

Hari #11 eksplorasi diagonal meski cukup rumit tapi menyenangkan, karena ini seperti membebaskan diri dari bundelan-bundelan yg membatasi, seperti loncat-loncat antara satu bundel ke bundel lain dan menemukan jalur lompatannya. 


Hari #12 dasarnya masih dari pola Hari #11 tapi dengan variasi lain karena pas aku bikin pola ini inget kepangan rambut jadilah ini pola #bookbinding kepang rambut


Hari #13 hari ini salah pilih bahan buat sampul 😭😭niatnya pengan memanfaatkan bahan #suede yang ada, tapi berhubung pola yang aku pake adalah pola #geometri yang menuntut kepresisian yang menyambungkan setiap garis, bahan suede berwarna gelap menjadi pilihan yang sangat tidak tepat. Kenapa? Karena semua lubang penanda yang sudah dibikin bener-bener ga keliatan. Bahan suede ketika dilubangi, lubangnya seperti ketutup lagi dan itu membuat garis-garis jahitan jadi menceng-menceng ga karuan. Pelajaran mengenali karakteristik bahan dan kalo ga dicoba ga akan tau *menghibur diri* 😎

Hari #14 menutup #14daysoflove#14daysofbookbinding #14harimenciptadengancinta Dengan pola hati terpanah, pola yang pernah aku buat tapi aku modifikasi lagi dengan tambahan panah dan anyaman. Hari ini juga masih penasaran sama bahan suede dan biar ga menceng-menceng lubangnya ditandai aja pake spidol perak πŸ˜… solusi yg mudah aja sebenernya! Pola ini aku persembahkan untuk orang-orang yang aku sayangi yang selalu membuat aku merasa beruntung atas hidup dan bersilangan membentuk pola-pola interaksi bersama.




Thursday, January 22, 2015

Dari Workshop Book Binding di Catalyst Art Shop, Jakarta

Awal Januari tepatnya tanggal 10 Januari 2015 lalu, aku kembali menggelar workshop book binding di luar Bandung. Kali ini di Catalyst Art Shop di Jl. Kemang Utara Raya No. 50 Jakarta. Ada sebelas peserta yang mengikuti dengan tekun pelajaran cara menjilid dengan teknik simple binding, 2 in 1 (do si do), longstitch binding dan french link binding. Teknik dasar yang bisa dikembangkan lebih jauh oleh peserta. Berhubung banyak yang ingin ikutan tapi ga kebagian tempat, rencananya bulan Februari akan ada lagi jadwal workshop bookbinding di  Sampai jumpa di workshop berikutnya ya.. :)



Terima kasih untuk semua peserta yang sudah gabung di workshop ini, selamat mencoba di rumah ya.. :)

Tuesday, January 6, 2015

Mari Mencatat Kumpulan Rasa

Ketika ingat rasa masakan, apalagi itu masakan rumah, masakan ibu, yang terbayang bukan hanya bentuk masakan dan rasa masakan itu sendiri, tapi seluruh peristiwa beserta detail-detail yang menyertainya akan bangkit kembali. Aku jadi ingat, ketika mengenang soal gula kelapa yang ada dimasakan ibuku dan bagiamana ibuku meminta budeku mengirimkan gula kelapa beserta asem jawa dari Yogjakarta ke Bandung setiap bulannya. Ibu ingin memasak masakan Jawa yang otentik. Bagi ibuku sebagai perantau di kota Bandung, tidak ada yang bisa membuat sebuah masakan terasa otentik jika tidak menggunakan bahan atau bumbu dari tempat asalnya. Ketika kisah ini dikutip di liputan Jelajah Kuliner Kompas 'Empat Wangsa Sedulur Rasa', aku tak kuasa membendung tangis ketika membacanya kembali. Seketika semua rasa masakan dan kenangan masa itu menyesaki ingatanku dan menggugah rasa lekat dalam kepekatan kenangan akan 'rasa ibu', apalagi dikenang ketika kondisi ibu sudah tidak lagi memungkinkan untuk memasak. 



Hal lain soal mengenang rasa masakan ibu, ketika aku jauh dari rumah. Di negeri orang dan sangat rindu rasa sayur daun singkong. Sementara tidak ada menu sayur daun singkong di restoran Indonesia  di kota seperti New York. Ketika kerinduan akan rasa masakan itu tidak terpenuhi, yang terjadi adalah rasa rindu rumah menjadi semakin menjadi-jadi. Karena pulang kemudian menjadi identik dengan merasakan masakan rumah, masakan ibu. Di New York pulalah aku menemukan kegiatan yang menyadarkanku bagaimana aku selama ini hanya bisa merindukan rasa masakan-masakan ibuku namun tidak pernah menyimpan pengetahuan tentangnya. Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencatat resep-resep dari masakan ibuku, selama ini aku lebih memilih sebagai penikmat saja, tapi tidak sungguh-sungguh berusaha menjadi pewaris pengetahuannya. Padahal resep masakan ibu menurutku adalah warisan pengetahuan yang tidak kalah otentik dengan masakan yang dimasaknya itu sendiri.

Adalah  Sweet Tooth of The Tiger yang didirikan Tracy Candio, seniman asal Brooklyn, NYC, yang menjadikan memasak kue sebagai cara dia membuat karya seni yang lebih partisipatif. Dalam salah satu pertemuan rutin senin sore 'Monday Craft Night', Etsy Lab di Brooklyn, NYC, tahun 2008 lalu, Tracy mengajak yang hadir di acara ini_termasuk aku_ untuk membuat buku resep bersama. Selain mencicipi kue-kue yang dibuat oleh Sweet Tooth of The Tiger, lembaran-lembaran resep yang telah dituliskan ini kemudian di jilid jadi satu menjadi sebuah buku kecil kumpulan resep. Setelah jadi setiap kontributor resep, menceritakan kisah personal yang berhubungan dengan resep  masing-masing.

Ketika teman-teman dari Aliansi Untuk Desa Sejahtera ingin berdiskusi tentang masalah pangan lokal hari minggu 4 Januari 2015 kemarin di Tobucil & Klabs, aku terpikir untuk memasukan kegiatan lokakarya membuat buku kumpulan resep ini sebagai salah satu bentuk kegiatannya. Terinspirasi dari kenangan akan rasa, keinginan mencatat pengetahuan akan rasa masakan ibu dan pengalaman mengikuti lokakarya ini besama Sweet Tooth of The Tiger, maka aku mengajak teman-teman untuk membuat buku kumpulan resep masakan favorit ini.
Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini di pindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'simple binding'. Setiap peserta  yang ikut, membawa satu salinan buku kumpulan resep. Menurutku, kembali ke bahan pangan lokal itu juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan ibu. Yuk..!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...