Search This Blog

Loading...

Sunday, March 9, 2014

Vitarlenology Bakalan Buka Lapak di Rantai Art Festival, Kuala Lumpur, Malaysia


29 & 30 Maret 2014 ini, Handmade Notebooknya Vitarlenology bakalan memeriahkan Rantai Art Festival 2014 di negeri tetangga, Malaysia. Seneng banget bisa berpartisipasi di acara ini sekalian nambah teman baru dan membangun jaringan dengan teman-teman negeri tetangga :)

Tentang Rantai Art Festival buka www.rantaiart.org

Wednesday, February 19, 2014

Random Notes

Random No. 1

Random No. 2

Random No.3

Random No. 4

Random No. 5

Random No. 6

Random No.7

Random No. 8

Random No. 9
Random No. 10

Bermain Pola, Menemukan Otentisitas

Menurutku, penting bagi seorang crafter untuk menemukan otentisitas dari karya yang dihasilkannya.  Otentisitas ini menjadi semacam tanda bukti pada sebuah karya dimana bukti ini menjadi cerminan karakter si pembuatnya atau dengan kata lain menjadi semacam tanda tangan dari setiap karya yang dibuat. Pada prosesnya, otentisitas ini tidak hadir begitu saja. Proses perjalanan berkarya menjadi jalan untuk menemukan otentisitas, seperti halnya karakter yang dibentuk dan dimatangkan oleh pengalaman.


Menemukan otentisitas dalam setiap notebook yang kubuat menjadi sangat penting, karena sekarang ini setiap hal bisa ditiru dengan mudah. Setiap orang bisa membuat notebook dengan model yang sama dengan bahan dan teknik yang sama, tapi bagaimana caranya membuat notebook yang 'vitarlenology' banget. Karena notebook-notebook ini dibuat olehku sendiri, maka identitas dan karakterku menjadi penting untuk hadir dalam setiap notebook yang kubuat sekaligus membedakan notebook buatanku dengan buatan orang lain. 

Salah satu cara yang kulakukan untuk menemukan otentisitas itu adalah dengan menggali dari apa yang aku punya. Sebagai orang yang tidak pandai menggambar tapi hobi memotret dan mengambil foto objek-objek 'ga penting', ternyata aku bisa menemukan banyak foto-foto yang selama ini hanya tersimpan di Hard Disk. Beberapa foto yang menjadi diari visualku memang sudah dimanfaatkan untuk sampul dari notebook yang aku buat, namun aku bisa lebih mengeksplorasi foto-fotoku itu.  Terilhami dari seorang seniman asal Mexico yang menjadi teman di instagram, aku mencoba menjadikan foto-foto itu sebagai pola. Hasilnya memang banyak kejutan dan menjadi karya baru yang berbeda dengan asalnya tapi punya kekhasan yang sama. Sehingga ketika pola-pola ini berubah menjadi notebook, notebook yang kulahirkan memiliki otentisitas yang lebih di bandingkan jika aku menggunakan pattern bukan buatanku untuk sampulnya. 





Bagiku, selalu ada kejutan ketika setiap foto bersatu padu, beriringan, saling berefleksi membentuk pola baru, seperti mainan kaleidoskop. Merangkaikan kembali foto-foto ini seperti melihat kembali setiap peristiwa yang terekam dan terbingkai di dalamnya. Ketika rekam jejak ingatan itu dilihat kembali, selalu ada arti baru bahkan menjadi karya yang bebeda yang memperkaya dan menegaskan karakter si pembuatnya dan menjadi karya spesial bagi siapapun yang memilikinya.  








Sunday, February 16, 2014

Mencari Formula Oleh-Oleh Crafty Days 8

Setelah Crafty Days memasuki tahun ke 8, Aku dan Tobucil & Klabs serius memikirkan produksi 'oleh-oleh' dari acara ini. Pada penyelenggaraan Crafty Days 7, 2013 lalu soal 'oleh-oleh' ini sudah dimulai meski dengan persiapan produksi yang sangat-sangat mepet. Tahun ini, 'Oleh-Oleh Crafty Days 8' dipersiapkan lebih matang. Meskipun masih ada kekurangannya yaitu perkiraan jumlah yang meleset dari yang diharapkan. Soal jumlah, akupun masih meraba-raba, seberapa banyak idealnya pilihan dan jumlah setiap jenisnya mesti dibuat. Kadang memang serba salah,  kalau bikin terlalu sedikit (seperti Crafty Days 7) banyak banget yang ga kebagian. Tapi jika dibuat lebih banyak baik pilihan dan jumlahnya seperti Crafty Days 8 kali ini, ternyata tidak tepat juga karena ada sisa yang harus dihabiskan setelah acara usai. Terlepas dari semua itu, aku ingin cerita sedikit tentang setiap oleh-oleh yang dibuat di Crfty Days 8 lalu.

Notebook Letter Press
Mengerjakan notebook ini aku mendapat pelajaran baru tentang 'kyai Franco' si mesin letterpressku ini. Ketika mencetak dengan kerumitan gambar seperti ini dan tulisan dengan blok bingkai seperti ini, sulit mendapatkan warna yang merata dan efek emboss letter press yang khas itu. Semestinya aku mencetak bagian gambar, tulisan tanggal dan tempat juga tulisan crafty days 8 secara terpisah. 

Memang akan memakan waktu tiga kali lipat daripada ketika semuanya dicetak bersamaan. Untuk mesin letter press kecil seperti 'kyai Franco', mencetak di karton dengan ketebalan 3mm dan besar plat seperti ini, dia akan kehilangan daya tekan yang menyebabkan hilangnya efek emboss pada hasil akhirnya. Karena ketebalan torehan gambar dan tulisan pada platnya, tidak seimbang kekuatannya dengan bahan, besaran plat dan ketebalan bahan yang digunakan. Di Bandung dan mungkin di Indonesia, aku belum menemukan tempat membuat plat dengan kedalaman torehan gambar atau tulisan lebih dari 2mm. Untuk itu proses cetaknya yang perlu disiasati. Jika plat di potong-potong perbagian dan proses cetaknya mengikuti banyaknya potongan bagian itu, kurasa efek emboss yang diharapkan bisa didapatkan. Aduh maaf ya, ini pembahasannya jadi sangat teknis dan mungkin hanya dipahami oleh yang biasa bekerja dengan mesin letterpress :D.. yang jelas pelajaran ini baru aku dapatkan setelah mencetak cover notebook untuk Crafty Days 8 hehehehhe...

Pensil ini awalnya adalah sebuah keisengan. Tak sengaja menemukan pensil kosong dengan kualitas bagus, lalu mencoba untuk memberinya tulisan dengan cara di gravir laser. Akhirnya aku pasangkan pensil dengan notebooknya.. cocok buat yang seneng gambar-gambar heheheheh... Dan di Crafty Days 8 lalu, aku hanya membuat 20 set notebook plus pensil untuk dijual sebagai oleh-oleh.


Penggaris carton Letter press 'Craftivism in My Everyday Life'
Penggaris ini aku buat untuk memanfaatkan potongan karton yang sedemikian banyak yang aku punya. Aku memang jarang sekali membuang sisa potongan kertas, karena selalu berpikir 'suatu saat, bahan-bahan sisa ini bisa dimanfaatkan' hahahahah.. dasar ga mau rugi..

Nah, beberapa waktu yang lalu, aku pernah mendapat pesanan membuat penggaris ini. Plat penggarisnya masih aku simpan. Sebagai penggemar penggaris kayu, aku ingin membuat penggaris sendiri. Karena ada meskin letterpress, akhirnya aku bisa mewujudkan penggaris buatanku sendiri. Dengan menambahkan kutipan definisi Craftivism yang ditulis Betsy Greer dan alamat Tobucil, penggaris ini jadi oleh-oleh Tobucil untuk pengunjung Crafty Days. Eh, tapi kerena jumlahya ga terlalu banyak, akhirnya penggaris ini jadi bonus buat orang yang membeli produk oleh-oleh Crafty Days 8 dan sisanya masih bisa dibagikan sebagai oleh-oleh Tobucil & Klabs. 

Kantong serba guna 
Hampir semua yang ada di Tobucil termasuk aku, sangat menyukai kantong serba guna seperti ini. Sejak Crafty Days 7, Tobucil mendapat dukungan dari 'Modal Kawin' usahanya Danu dan Siska yang selama ini memproduksi kaos, kantong dan tas kain. Untuk model kantong yang bervolume, Modal Kawin sudah punya cetakan desainnya. Aku hanya tinggal pilih warna bahan dan grafisnya. Karena tidak ada warna bahan yang persis telor asin, akhirnya aku pilih warna hijau pupus yang mendekati warna telor asin. Dengan kombinasi bahan warna coklat dan oranye. Untuk kantong yang tidak bervolume, aku mendesain dua ukuran yaitu ukuran tab/ ipad mini dan ukuran ukuran netbook. 


Tas kain berbahan kanvas dan blacu
Ada dua macam tas  kain yang dibuat untuk oleh-oleh Crafty Days 8 lalu. Pertama berbahan kanvas acrylic. Modelnya sih sebenarnya biasa saja. Hanya ada penambahan saku berresleting di dalamnya. Salah satu tas kain koleksiku ada sakunya kaya gini dan buatku tambahan saku ini sangat-sangat membantu untuk menyimpan dompet, uang, handphone, flash disk atau benda-benda kecil supaya tidak tercecer dan tercampur aduk di dalam tas. Satunya lagi berbahan blacu dengan harga lebih murah dari yang berbahan kanvas dengan model biasa dan tanpa tambahan saku.



Kaos
Biasanya kaos jadi item favorit yang dipilih sebagai oleh-oleh sebuah acara. Alasannya karena pasti dipakai. Untuk Crafty Days 8 pun aku dan Tobucil memilih kaos, meski untuk perempuan modelnya bukan model standar. Dan satu lagi model yang lebih unisex bisa pakai oleh laki-laki dan perempuan. Ada juga kaos untuk anak kecil. Hanya saja untuk item ini, perhitungannya sedikit meleset, karena aku bikinnya terlalu banyak hehehehe.. jadi pekerjaan rumah baru untuk menjualnya setelah acaranya berakhir.




Dari proses mendesain dan memproduksi oleh-oleh kegiatan semacam ini, ada pelajaran berharga yang aku dapatkan. Ada baiknya jika ingin membuat oleh-oleh acara, tidak perlu membuat pilihan yang terlalu banyak. Begitu juga jumlah yang sebaiknya dibuat terbatas saja. Kenapa? karena pengunjung acara sudah disuguhi berbagai macam pilihan yang mungkin akan menimbulkan dilema dalam memilih dan juga pertimbangan isi dompet juga menentukan :D. Selain itu, berhubungan dengan skala kegiatannya sendiri, untuk kegiatan yang pengunjungnya ga sampai ribuan, lebih baik oleh-oleh ini jadi barang yang memang sangat terbatas dan pantas dikoleksi. 

Saturday, February 15, 2014

'Senyum Cemerlang' Di Balik Poster Crafty Days 8


Banyak yang bertanya, wajah siapakah dengan senyum cemerlang yang terpilih menjadi ikon acara Crafty Days 8  Tobucil & Klabs kali ini? Jawabnya adalah wajah mba-mba Pepsodent :D

Saat itu, dikejar deadline desain publikasi Crafty Days 8 dan belum ada ide sama sekali mau seperti apa tampilan visual Crafty Days 8. Dan di saat-saat deadline seperti itu, mengerjakan hal lain yang bukan prioritas malah jadi lebih menarik. Jadilah aku lebih memilih mendesain sebuah kalender untuk Tobucil. Kalender yang membutuhkan kolom khusus karena ada catatan-catatan yang mesti ditulis di kalender setiap harinya. Folder iklan lawas jadi pilihan. Kebetulan aku punya banyak sekali scan-an iklan lama dari majalah lama. Salah satunya adalah iklan Pepsodent di tahun 1955, pasta gigi ini sudah eksis loh lebih dari  setengah abad yang lalu. Ada dua ilustrasi iklan dengan wajah perempuan dengan senyum cemerlang. Satunya bergaya sangat Eropa dan satunya bergaya sangat lokal dengan kebaya dan sanggul namun senyumnya tetap cemerlang.


Tiba-tiba saja senyum mba-mba pepsodent ini memikat mataku. AHA! langsung dapat ide untuk tampilan visual Crafty Days 8.  Sekali-kali ga ada salahnya Crafty Days 8 bergaya vintage. Dengan menata ulang tampilan si mbak dan menambahkan typografi yang sesuai juga pemilihan warna telor asin dan 'soklat', jadilah visual Crafty Days 8 bergaya vintage. Warna telor asin selalu mengingatkanku pada rumah mbah Kakungku di Yogja, dan sampai saat ini warna itu masih banyak kutemui di Yogja dan daerah pecinan di Bandung. Warna ini selalu memberi kesan 'lawas' dan 'vintage' dan diperkuat dengan warna coklat lalu diberi kehangatan lewat warna oranye. Jika ditanya maksudnya, aku selalu bilang, "Dengan senyum cemerlang, Crafty Days 8 siap menyambut tamu-tamu yang datang."


Dan yang paling penting dalam mendesain materi publikasi seperti ini, aku selalu memikirkan bagaimana produksinya. Termasuk pertimbangan desain seperti apa yang cocok diproduksi dengan anggaran yang terbatas alias bisa dicetak sendiri dengan printer yang ada. Bagaimana desain itu tetap menarik meskipun dicetak hitam putih dengan printer laser yang ada. Pemilihan bahan pun menjadi penting untuk menambah daya tariknya. 

Saturday, December 7, 2013

Pintu & Jendela, Oleh-oleh Dari Kaliurang Yogjakarta

Banyak hal yang terjadi beberapa bulan terakhir ini dan belum kubagi di sini. Salah satunya adalah Project Pintu & Jendela. Bermula dari undangan Mira untuk mengikuti program residensi di Kaliurang selama seminggu 4 s/d 11 Oktober 2013 bersama lima orang teman lainnya: Nita Darsono, Elia Nurvita, Acong, Ipung (Videorobber), Dito Yuwono. Kuterima undangan ini sebagai undangan piknik, karena yang kubayangkan dengan project ini adalah liburan seminggu di Kaliurang. Maklumlah, undangan ini datang di antara antrian pekerjaan yang benar-benar padat. Tidak ada salahya 'kabur seminggu' ke Kaliurang. Jeda. Piknik.Menikmati siesta dan hawa gunung Merapi. Dan memang begitulah yang terjadi. Project ini memang lebih terasa seperti sebuah project piknik daripada project seni dengan segala kerelatifan konsep dan jadwal.
 Yang menarik justru aku menemukan bawa Kaliurang, sebagai sebuah tempat peristirahatan yang tidak terlalu jauh dari Yogjakarta dan ngetop ditahun 70-an ini, menyimpan koleksi bangunan dan arsitektur 60-70an yang sangat-sangat menarik terutama detail pintu dan jendelanya. Bagiku setiap jendela dan pintu yang kutemui di rumah-rumah peristirahatan di Kaliurang seperti menyimpan banyak cerita dan rahasia. Apalagi pintu dan jendela pada bangunan-bangunan yang rusak akibat letusan Merapi dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.
Selama seminggu, aku keluar masuk halaman rumah-rumah peristirahatan yang sebagian besar tak berpenghuni itu. Permisi diam-diam pada penguhuni-penghuni yang tak terlihat, minta izin untuk memotret pintu dan jendelanya dan sesekali mengintip ruang-ruang di dalamnya yang kosong, lengang dan singup itu.
 


Jadilah selama seminggu aku berhasil memotret lebih dari seratus pintu dan jendela dengan keunikannya masing-masing. Ide-ide bermunculan, mau diapakan foto-foto itu (tunggu tanggal mainnya heheheheh). Sementara teman-teman bisa mengintip pintu dan jendela itu lebih lengkap di sini 


Pintu dan jendela membuatku memperhatikan kembali setiap ruang yang aku lewati. Memperhatikan pintu dan jendelanya sambil melihat kemungkinan bisakah kuintip sedikit kisah dan misteri di dalamnya lewat pintu dan jendela itu? 

The Kaliurang Project Photo Album
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...